New Policy: Trump Ancam Tarik 5 Ribu Pasukan, Jerman Langsung Desak Iran Buka Selat Hormuz

Trump Ancam Tarik 5000 Pasukan, Jerman Desak Iran Buka Selat Hormuz

New Policy – Dalam wujud kebijakan baru yang dianuncikan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ia kembali memperkuat ancaman terhadap kehadiran pasukan NATO di Eropa dengan menyatakan rencananya untuk menarik lebih dari 5.000 tentara dari Jerman. Langkah ini terjadi di tengah ketegangan yang memanas antara AS dan Iran, serta peran Jerman dalam menciptakan kebijakan luar negeri Barat. Trump mengatakan bahwa keputusan menarik pasukan tersebut akan segera diambil, dengan alasan hubungan yang bermasalah antara Washington dan Berlin. Ini menunjukkan bagaimana New Policy Trump menjadi instrumen utama dalam menekan kebijakan diplomatik Iran.

Jerman Tegaskan Komitmen pada New Policy AS

Setelah ancaman Trump terlempar, Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius langsung memberikan respons tajam terhadap langkah AS tersebut. Ia mengatakan bahwa keputusan menarik pasukan dari Jerman “dapat diprediksi” dan menyoroti pentingnya kehadiran pasukan AS di Eropa dalam New Policy yang dijalankan Washington. “Kehadiran tentara Amerika di Eropa, khususnya di Jerman, adalah demi kepentingan kita dan kepentingan AS,” imbuh Pistorius, seperti dilaporkan kantor berita DPA. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Jerman tetap mendukung New Policy AS meskipun ada keengganan terhadap kebijakan tertentu.

“Sebagai sekutu dekat AS, kami memiliki tujuan yang sama: Iran harus sepenuhnya dan secara terverifikasi meninggalkan senjata nuklir serta segera membuka Selat Hormuz seperti yang juga dituntut oleh Menteri Luar Negeri (AS) Marco Rubio,” tulis Wadephul di X, dilansir AFP, Minggu (3/5/2026).

Jerman, yang secara umum mendukung kebijakan luar negeri AS, menunjukkan sikap tegas dalam menghadapi New Policy yang diusung Trump. Hal ini terlihat jelas dari pernyataan Wadephul, seorang pejabat tinggi Jerman, yang menekankan kebutuhan Iran untuk memenuhi syarat yang lebih ketat dalam program nuklirnya. Dalam konteks geopolitik, Selat Hormuz menjadi sasaran utama karena kunci dalam aliran minyak dan gas ke seluruh dunia. Dengan menuntut pembukaan selat tersebut, Jerman menunjukkan komitmen untuk memastikan keamanan energi global melalui New Policy Trump.

Konteks Ketegangan AS-Iran dan Makna Penarikan Pasukan

Penarikan pasukan dari Jerman bukan hanya sebagai tindakan politik, tetapi juga sebagai strategi untuk menekan Iran agar menyerah pada New Policy AS. Trump menegaskan bahwa keputusan ini akan memberikan dampak signifikan terhadap kekuatan Iran di kawasan Timur Tengah. “Kita harus memastikan bahwa Iran tidak memiliki kemampuan untuk mengganggu keamanan energi global,” ujarnya. Dengan demikian, New Policy ini dianggap sebagai bagian dari upaya luas untuk memperkuat tekanan terhadap Iran.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock, sempat menyampaikan pandangan berbeda terhadap perang antara AS dan Iran. Ia mengkritik kebijakan Washington yang menurutnya terlalu agresif dan menegaskan bahwa New Policy Trump memperparah konflik dengan kepemimpinan Iran. “Kurangnya strategi yang jelas dari Washington membuat situasi semakin rumit,” tegas Baerbock, sebagaimana dilaporkan oleh BBC, Minggu (3/5). Namun, pandangan ini berubah setelah Trump mengancam menarik pasukan dari Jerman, yang dianggap sebagai tanda kekuatan politik AS dalam memaksa kebijakan luar negeri sekutu.

“Kehadiran tentara Amerika di Eropa, dan khususnya di Jerman, adalah demi kepentingan kita dan kepentingan AS,” kata Pistorius, seperti dilaporkan kantor berita DPA.

Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, menyoroti bahwa penarikan pasukan akan dilakukan sebagai respons terhadap tuntutan Trump dalam New Policy yang baru diterapkan. Ia juga memperingatkan bahwa keputusan ini harus diambil dengan mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap keamanan bersama. “Jerman tetap mendukung New Policy AS, tetapi kita juga harus memastikan bahwa kepentingan nasional kita tidak terabaikan,” tambah Pistorius, menunjukkan sikap yang seimbang antara loyalitas dan kemandirian.

Dalam sebuah wawancara dengan media lokal, Pistorius menjelaskan bahwa kehadiran pasukan AS di Jerman bukan hanya untuk mengamankan daerah tersebut, tetapi juga untuk memperkuat aliansi NATO dalam New Policy yang dijalankan Trump. “Kita membutuhkan kemitraan yang kuat dengan AS untuk menghadapi ancaman dari Iran,” katanya. Namun, ia juga menegaskan bahwa Jerman tetap akan mengevaluasi kebijakan luar negeri AS, terutama jika terjadi kesenjangan antara kepentingan strategis dan kebijakan militer dalam New Policy yang dianuncikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *