Latest Program: 2 WNI yang Baru Ditangkap Tentara Israel Relawan Dompet Dhuafa

2 WNI Kembali Ditangkap oleh Tentara Israel, Relawan Dompet Dhuafa Dalam Perjalanan ke Gaza

Latest Program – Duasatu warga negara Indonesia (WNI) kembali menjadi korban penangkapan oleh tentara Israel saat menjalani misi kemanusiaan yang disebut Global Sumud Flotilla 2026. Mereka adalah dua relawan Dompet Dhuafa, Herman Budianto Sudarsono dan Ronggo Wirasanu, yang menggunakan kapal bernama Zapyro sebagai alat transportasi. Peristiwa ini terjadi saat rombongan tersebut berlayar di Laut Mediterania, dengan tujuan untuk mengirimkan bantuan ke wilayah Palestina di Gaza.

Detal Peristiwa Penangkapan Herman dan Ronggo

Koordinator Media Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Harfin Naqsyabandy, mengungkapkan bahwa ia secara langsung memantau momen penangkapan Herman dan Ronggo melalui siaran langsung dari akun resmi Global Sumud Flotilla. Menurut Harfin, kapal Zapyro yang ditumpangi oleh kedua relawan tersebut diintersep oleh pasukan militer Israel, dengan dukungan drone yang memantau rombongan sejak malam hari.

“Dan kita melihat langsung kapal Zapyro yang ditumpangi oleh Herman Budianto Sudarsono, relawan delegasi Indonesia dari GPCI, serta Ronggo Wirasanu. Tadi kita lihat kapal mereka sudah diintersep oleh tentara Zionis,” kata Harfin dalam jumpa pers di Kantor Dompet Dhuafa, Jakarta Selatan, Selasa (19/5/2026).

Harfin menjelaskan bahwa sampai saat ini, total sebanyak tujuh WNI telah menjadi tahanan Israel. Dari jumlah tersebut, lima orang lainnya terdapat di kapal-kapal berbeda, seperti Josef, Bolarize, dan Ozgurluk. Nama-nama aktivis dan jurnalis yang terlibat mencakup Andi Angga, Bambang Noroyono, Andre Prasetyo, Thoudy Badai, dan Heru Rahendro. Sementara dua orang WNI, termasuk Herman dan Ronggo, masih berada di kapal Kasr 1 Sadabat yang menjadi tempat penahanan sementara.

Reaksi Kementerian Luar Negeri dan Latar Belakang Misi

Menyusul peristiwa penangkapan tersebut, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengonfirmasi bahwa dua WNI kembali ditahan oleh tentara Israel. Juru bicara Kemlu, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, menyatakan bahwa jumlah WNI yang ditangkap telah meningkat, berdasarkan informasi terkini yang diperoleh pada 19.50 WIB.

“Dari total 9 WNI anggota Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) yang tergabung dalam misi GSF 2.0, kini sebanyak 7 WNI dilaporkan telah ditahan. Sementara itu, 2 WNI lainnya diketahui masih berada dalam kapal Kasr 1 Sadabat,” ujarnya.

Misi Global Sumud Flotilla 2026 bertujuan untuk mendukung aksi kemanusiaan di tengah situasi konflik di Gaza. Sebelumnya, kapal-kapal yang terlibat telah dihimpun dalam perjalanan ke wilayah tersebut, dengan harapan dapat mengirimkan bantuan logistik dan dukungan moral kepada penduduk Palestina. Namun, pada hari Senin (18/5/2026), terjadi kejadian serius saat dua kapal perang Israel mengejar rombongan relawan.

Kisah Herman Budianto Sudarsono: Perjalanan yang Berat

Relawan GPCI, Herman Budianto Sudarsono, memberikan penjelasan mengenai kondisi di kapal Zapyro saat kejadian berlangsung. Menurut Herman, atmosfer mencekam dihiasi oleh pengawasan ketat dari tentara Zionis Israel yang menggunakan drone untuk memantau setiap gerakan rombongan. Ia menyebutkan bahwa upaya menangkap kapal dilakukan secara sistematis, dengan pengejaran yang terus-menerus.

“Kemudian pagi baru muncul adanya dua kapal perang dari IDF. Kapal-kapal ini menurunkan sekoci yang bergerak mendekati dan mengejar kapal-kapal kita,” kata Herman via video conference, Senin (18/5/2026).

Herman menjelaskan bahwa tim relawan harus mengambil langkah ekstra untuk menghindari penangkapan. Mereka memutuskan untuk melakukan manuver ke arah yang berbeda, sambil membagi rombongan menjadi beberapa bagian agar lebih sulit ditangkap. “Kita menghindar melebar dan membagi diri ke berbagai sisi kapal. Setelah itu, kita kembali berkumpul di titik yang telah direncanakan,” ujarnya.

Strategi Evakuasi dan Doa sebagai Penyelamat

Menurut Herman, strategi ini tidak hanya bergantung pada kecepatan dan pengalaman navigasi, tetapi juga pada dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia yang berdoa untuk keselamatan para relawan. Ia menekankan bahwa upaya evakuasi dijalani dengan penuh semangat, meskipun terjadi momen-momen tegang.

“Jadi kalau kita tadi menyampaikan arah Gaza adalah lurus, kita menuju ke kanan. Gitu kondisi yang sedang kami alami,” imbuh Herman.

Kapal Zapyro berhasil menghindari pengejaran tentara Israel setelah bergerak menuju arah yang berbeda. Herman menegaskan bahwa keberhasilan evakuasi terjadi karena kombinasi strategi penghindaran, kemampuan tim, dan kekuatan doa dari seluruh WNI di berbagai daerah. Ia juga menyampaikan bahwa situasi di laut sangat dinamis, dengan serangan dan pengejaran yang terus berlangsung hingga menjelang senja.

Pelanggaran HAM dan Tanggung Jawab Negara

Peristiwa penangkapan ini memicu pertanyaan mengenai perlindungan yang diberikan kepada warga negara Indonesia saat menjalani misi kemanusiaan. Koordinator media GPCI mengungkapkan bahwa kapal-kapal relawan telah menjadi target serangan, dengan ancaman dari kapal perang Israel yang beroperasi di laut Mediterania. Meski demikian, pihaknya masih optimis bahwa misi tersebut dapat menyelesaikan tujuannya.

Vahd Nabyl Achmad Mulachela menambahkan bahwa kemlu terus berkoordinasi dengan organisasi dan relawan untuk memantau kondisi WNI di sana. Ia menegaskan bahwa pemerintah Indonesia akan memberikan dukungan maksimal kepada para tahanan, sekaligus meminta kejelasan dari pihak Israel mengenai penyebab penangkapan tersebut.

Respons Internasional dan Kondisi di Gaza

Misi Global Sumud Flotilla 2026 ini menjadi perhatian dunia internasional, terutama dalam upaya menyampaikan bantuan ke Gaza yang tengah diliputi ketegangan. Herman menyebutkan bahwa selama perjalanan, kapal-kapal relawan tidak hanya dikejar oleh tentara Israel, tetapi juga dihadapkan pada kondisi cuaca yang tidak menentu dan hambatan navigasi yang terus menerus.

Selama dua hari terakhir, para relawan harus beradaptasi dengan situasi yang cepat berubah. Meski mengalami penangkapan, mereka tetap bersemangat dalam menjalani misi tersebut. “Kita juga tidak kelihatan kapal-kapal. Iya, karena tadi kita menghindar melebar, dari kapal-kapal yang lain memang strateginya menyebar semuanya, meluas dan nanti kita akan kembali pada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *