Album Foto Kini Jadi Cara Ortu Lepas Rindu ke Adelia Korban Kecelakaan KA

Album Foto Kini Jadi Cara Ortu Lepas Rindu ke Adelia Korban Kecelakaan KA

Album Foto Kini Jadi Cara Ortu – Di tengah kehilangan yang dalam akibat kecelakaan kereta api di Bekasi, keluarga Adelia mencari cara untuk mengingat anaknya. Sebagai orang tua yang penuh perhatian, Haerusli—ayah Adelia—menggambarkan anaknya sebagai sosok yang ceria dan hangat. Hubungan antara pria berusia 40 tahun itu dengan putrinya diakui sebagai hubungan yang sangat erat, dengan saling berbagi momen harian menjadi bagian dari rutinitas mereka.

Keceriaan dalam Setiap Fotografi

Kisah kecil yang diungkapkan oleh Rusli, yang lebih akrab disapa dengan nama ayah Adelia, menggambarkan bagaimana putrinya merayakan kehidupan sehari-hari. “Dia ini sering ngopinya, tapi selalu ngirim foto kepadaku. ‘Yah, lagi di sini nih,’ katanya,” ujar Rusli saat diwawancara di rumahnya di Cibitung, Bekasi, pada Rabu (29/4/2026). Meski terlihat sederhana, momen-momen kecil seperti ini menjadi kenangan berharga yang dijaga dengan hati-hati.

“Sampai di sana, terus pulang kalau dia mau dijemput nungguin telepon dia dulu. Kalau ‘Yah, aku udah di sini jemput’, kalau belum telepon juga saya belum jalan,” imbuh dia.

Kini, Rusli mengalami kesedihan yang tak tergantikan. Tidak ada lagi kiriman foto terbaru dari Adelia yang masuk ke dalam genggaman tangannya. Meski begitu, ia tetap menyimpan dan menikmati foto-foto yang pernah dikirimkan anaknya selama hidup. “Foto-foto itu jadi cara saya melepas rindu, jadi seperti berbicara langsung kepadanya,” katanya. Setiap gambar yang tersimpan dalam album berarti sebuah kenangan yang tak pernah pudar.

Rutinitas yang Terputus

Sebelum kejadian, Adelia memiliki kebiasaan rutin yang tidak bisa tergantikan oleh siapa pun. Rusli menceritakan betapa sibuknya putrinya dalam menjalani hari. Setiap pagi, ia mengantar Adelia ke Stasiun Cibitung untuk berangkat kerja. “Saya selalu siap-siap setengah enam subuh. Namanya perempuan, dandan-dandan itu pasti,” katanya. Jarak 3 km dari rumah ke stasiun tak membuat mereka merasa jauh. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar 15 menit, dengan durasi terpendek sekitar 10 menit jika tidak macet.

Adelia tak hanya menyenangkan dalam rutinitasnya, tetapi juga memperhatikan kebutuhan orang tuanya. Rusli menyebutkan bahwa putrinya selalu menunggu sampai ia menerima telepon darinya sebelum memulai perjalanan. “Kalau dia belum ngirimkan pesan, saya nggak berangkat. Nungguin panggilan terlebih dahulu,” jelas Rusli. Dalam kondisi terburuk, ia tetap sabar dan menikmati proses menjemput Adelia, meski perjalanan itu terasa lebih berat karena kehilangan sebagian waktu yang biasa ia habiskan bersama putrinya.

Kenangan yang Tidak Pernah Hilang

Adelia meninggal dunia dalam kecelakaan kereta api yang terjadi di Bekasi pada Senin (27/4/2026). Dalam insiden tersebut, 16 korban jiwa tercatat, dengan puluhan orang lainnya mengalami luka-luka. Meski kejadian terjadi dalam hitungan jam, dampaknya terasa seumur hidup. Rusli mengungkapkan betapa luar biasa peran Adelia dalam kehidupannya. “Dia memberi kebahagiaan, mengisi rumah dengan keceriaannya,” kata pria yang menangis sambil mengingat kembali kebiasaan kecil putrinya.

Dalam hari-hari sebelumnya, Adelia sering menulis catatan kecil di buku harian. “Saya baca hari ini, ‘Aku udah sampai stasiun nih, Yah. Tadi banyak orang nungguin,’ tulisnya,” kata Rusli. Terlepas dari kebiasaan menulis itu, Adelia juga gemar membagikan kehidupannya melalui media sosial. Rusli menyebutkan bahwa putrinya pernah menuliskan kalimat-kalimat menyentuh yang tak terlupakan. “Meski hanya sekadar foto, saya merasa masih bisa merasakan suaranya dan senyumnya,” imbuhnya.

Perjalanan yang Terhenti

Sebagai seorang ibu yang bekerja di Bekasi, Adelia selalu berusaha menyenangkan kehidupan ayah dan ibunya. Meski sibuk, ia tetap memastikan orang tuanya merasa tenang. “Dia selalu bilang, ‘Yah, jangan takut. Aku akan baik-baik saja,’,” kata Rusli. Tapi kejadian tragis di hari Senin itu mengubah segalanya. Adelia tidak bisa menyelesaikan janjinya. “Saya tahu dia ingin bekerja sampai akhir, tapi kecelakaan membuatnya tidak bisa pulang,” imbuh Rusli dengan suara bergetar.

Rusli juga berharap kegiatan sehari-hari yang dulu dilakukan bersama Adelia bisa terus dijaga. “Saya ingin foto-foto itu jadi penanda, jadi pengingat betapa berharganya setiap momen bersamanya,” katanya. Ia menambahkan bahwa kebiasaan mengirimkan foto adalah salah satu cara Adelia memastikan ia tidak terlupakan. “Sejak awal, dia selalu ingat untuk berbagi momen, jadi tak ada yang hilang,” ujarnya.

Menjaga Kekasih Kecil

Keluarga Adelia tidak hanya merindukan kehadirannya, tetapi juga ingin menjaga kenangan yang menyenangkan. Rusli mengungkapkan bahwa dalam sehari-hari, Adelia sering menulis pesan kepadanya. “Kadang menulis, ‘Aku sudah sampai nih, Yah. Ngopi di sini, tapi udah siap kejagokan,’,” katanya. Keberadaannya tak pernah absen dalam kehidupan pria itu, meski keberadaannya kini hanya bisa diingat melalui foto-foto yang tersimpan dalam album.

Dalam kehidupan sehari-hari, Adelia adalah anak yang sangat menyenangkan. Bukan hanya dalam komunikasi dengan orang tuanya, tetapi juga dalam interaksi dengan teman-temannya. Rusli mengatakan, Adelia selalu mengatur jadwal agar tidak terlalu kewalahan. “Ia selalu mengingatkan saya, ‘Yah, jangan terlalu terburu-buru. Aku nggak pernah malas nih,’,” kata pria yang merasa kehilangan bagian terpenting dari kehidupannya.

Menurut Rusli, kecelakaan tersebut datang tanpa peringatan. “Ia pergi kerja seperti biasa, tapi tiba-tiba terjadi kecelakaan. Saya nggak pernah sangka itu akan terjadi,” katanya. Dalam momen itu, Adelia mungkin tak menyadari betapa berharganya keberadaannya. Meski begitu, foto-foto yang ia kirimkan menjadi jembatan untuk memperkuat ikatan antara ayah dan anak. “Saya merasa dia masih ada, meski hanya dalam bentuk gambar,” imbuh Rusli sambil menutup mata.

Keluarga Adelia kini berusaha membangun kembali harapan dengan mengoleksi semua kenangan yang mereka miliki. Album foto, yang awalnya hanya alat dokumentasi, kini menjadi cara untuk mengingat dan melepas rindu. “Selama hidupnya, dia berusaha menyenangkan saya. Kini, saya berusaha menyenangkan diri dengan mengingat momen-momen itu,” katanya. Dalam kehidupan yang terus berjalan, kehilangan Adelia menjadi bagian tak terpisahkan dari riwayat keluarga.

Menjaga Banyak Kenangan

Rusli tidak hanya merindukan Adelia, tetapi juga ingin membagikan pengalaman bersamanya kepada orang lain. “Saya ingin orang-orang tahu, bagaimana seorang ibu yang sibuk bisa menyenangkan hidup orang tuanya,” katanya. Dalam perjalanan ke stasiun, Adelia pernah menuliskan kebiasaannya yang unik. “Dia bilang, ‘Aku nggak pernah lupa jemput, Yah. Kalau nggak ngirim pesan, aku nggak datang,’,” ujar Rusli.

Dalam empat hari sebelum kecelakaan, Adelia masih aktif menulis pesan kepadanya. “Hari Senin itu, dia menulis, ‘Yah, besok aku pulang lebih awal. Ayo menunggu nih,’,” kata Rusli. Pesan itu justru menjadi prediksi yang jadi nyata. “Saya nggak tahu kenapa hari itu semua berubah. Tapi saya selalu berharap dia masih bisa menyelesaikan hari-harinya,” imbuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *