Korban Tewas Ditabrak Mobil Kepala Dinas di Banten Bertambah Jadi 2 Orang
Korban Tewas Ditabrak Mobil Kepala Dinas di Banten Bertambah Jadi 2 Orang
Insiden Kecelakaan di Sekolah SDN Sukaratu 5
Korban Tewas Ditabrak Mobil Kepala Dinas – Seorang guru dari SDN Sukaratu 5, Rika, mengungkapkan bahwa korban yang meninggal dunia terjadi pada pukul 15.00 WIB, Jumat (1/5/2026). Menurut Rika, korban yang meninggal adalah Dewi Handayani, seorang siswa yang sebelumnya menjalani perawatan intensif di rumah sakit setelah ditabrak oleh mobil Toyota Inova hitam. Mobil tersebut dikemudikan oleh Ahmad Mursidi, yang juga merupakan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Pandeglang.
“(Korban) punya anak dua. (Dagang untuk) membantu ekonomi keluarga,” kata Rika.
Korban Dewi Handayani dikenal di lingkungan sekolahnya karena kebiasaan berjualan takoyaki untuk menopang penghasilan keluarga. Pada saat kejadian, ia berada di depan sekolah bersama sejumlah siswa lainnya. Kejadian ini menambah daftar korban yang telah meninggal dalam insiden serupa sebelumnya, meskipun belum ada data mengenai frekuensi kecelakaan di area tersebut.
Mobil Ahmad Mursidi Menabrak Kerumunan Siswa
Sebelumnya, diberitakan bahwa mobil Toyota Innova hitam dengan plat nomor A-1633-BF dikemudikan oleh Ahmad Mursidi melaju dari arah Perempatan Cikole menuju Pertigaan Cipacung. Saat sampai di lokasi, mobil tersebut tiba-tiba oleng ke kanan dan langsung menabrak kerumunan siswa yang sedang berkumpul di depan SDN Sukaratu 5.
“Kita menjelaskan terkait kecelakaan lalu lintas di depan SDN Sukaratu 5, yang melibatkan kendaraan Toyota Innova hitam yang dikendarai oleh saudara Ahmad Mursidi, yang menabrak kerumunan anak sekolah yang ada di depan sekolah,” kata Kasat Lantas Polres Pandeglang, AKP Surya Muhammad.
Akibat kecelakaan tersebut, terdapat sembilan korban yang terluka. Dari jumlah itu, sebagian besar adalah siswa SDN Sukaratu 5, sementara dua orang lainnya merupakan pedagang dan sales yang juga berada di area sekitar. Meski tidak semua korban langsung meninggal, insiden ini menyebabkan dua kematian yang terjadi pada hari kejadian.
Penjelasan Polisi dan Penyebab Kecelakaan
Menurut AKP Surya Muhammad, kecelakaan tersebut terjadi karena mobil pribadi Ahmad Mursidi mengalami perubahan arah mendadak. Menurut keterangan polisi, mobil tersebut melintas di jalan raya yang terkenal cukup sibuk di jam-jam sekolah. Dalam perjalanan, kendaraan oleng ke kanan tanpa tanda-tanda peringatan sebelumnya, sehingga langsung menghantam kerumunan manusia yang berada di depan gedung sekolah.
Kasat Lantas juga menjelaskan bahwa kecelakaan terjadi pada saat kondisi jalan yang agak sempit. Faktor-faktor seperti kecepatan kendaraan, kurangnya perhatian pengemudi, atau kondisi cuaca berpengaruh pada penyebab olengnya mobil. Namun, belum ada hasil investigasi lengkap yang diungkapkan.
Implikasi Kecelakaan dan Respons Masyarakat
Insiden menabrak kerumunan siswa di SDN Sukaratu 5 menimbulkan kekecewaan besar di kalangan warga setempat. Beberapa orang tua siswa menyampaikan keluhan mereka tentang kurangnya kesadaran pengemudi yang menggunakan jalan raya untuk melintas di dekat area sekolah. “Mobil yang lewat harus lebih hati-hati, terutama di jam-jam sekolah,” ujar salah satu orang tua yang tak ingin disebutkan nama.
Sementara itu, perusahaan DPMPTSP Kabupaten Pandeglang berjanji akan memeriksa kondisi kendaraan dan menyelidiki kecelakaan tersebut secara menyeluruh. “Kita akan menyelidiki apakah ada faktor kesalahan pengemudi atau faktor eksternal seperti kondisi jalan yang berbahaya,” tutur AKP Surya. Dalam waktu dekat, pihak kepolisian juga akan mengadakan wawancara terhadap saksi-saksi yang terlibat dalam kejadian tersebut.
Kondisi Korban dan Dampak pada Komunitas
Dari sembilan korban, satu di antaranya meninggal dunia segera setelah kejadian, sementara korban lainnya mengalami luka-luka berat dan sedang dirawat di rumah sakit. Dewi Handayani, yang menjadi korban pertama, dalam kondisi kritis sebelum akhirnya meninggal. Sementara korban yang lain, terutama para siswa, mengalami cedera serius di bagian kepala dan leher.
Kasat Lantas menjelaskan bahwa mobil yang mengalami oleng tersebut melaju cukup cepat. “Kami memperkirakan kecepatan kendaraan sekitar 60 km/jam saat melintas di jalan raya,” katanya. Meski demikian, belum ada data pasti mengenai kecepatan maksimal yang diperbolehkan di area tersebut.
Kecelakaan Sebagai Kesadaran akan Kebutuhan Keselamatan Jalan
Insiden ini menjadi peringatan penting bagi warga sekitar SDN Sukaratu 5 tentang pentingnya kesadaran pengemudi di area yang sering dihiasi anak-anak. “Mobil-mobil yang lewat di jalan depan sekolah harus berhati-hati, karena banyak anak yang bermain atau berjalan di sana,” kata seorang warga yang tinggal di dekat lokasi.
Di sisi lain, kepolisian juga memperkuat upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keamanan jalan. “Kita akan mengadakan sosialisasi kecil di sekitar SDN Sukaratu 5 untuk memastikan bahwa kecelakaan seperti ini tidak terulang,” kata AKP Surya. Dalam waktu dekat, pihak kepolisian juga akan bekerja sama dengan pihak sekolah dan warga setempat untuk meninjau ulang kondisi jalan raya serta memastikan keamanan lingkungan sekolah.
Kasat Lantas menyebutkan bahwa investigasi masih terus berlangsung. “Kita akan mengecek semua kemungkinan penyebab oleng kendaraan, termasuk kondisi kaca spion dan jalan raya,” jelasnya. Selain itu, pihak kepolisian juga mengevaluasi kecepatan mobil dan pengemudi yang mungkin terlibat dalam kecelakaan.
Di kalangan masyarakat, kejadian ini memicu peningkatan kekhawatiran terhadap kecelakaan di lingkungan sekolah. “Kami berharap ada tindakan tegas untuk memastikan anak-anak aman saat berjalan di dekat jalan raya,” kata salah satu warga yang tinggal di dekat SDN Sukaratu 5. Kejadian ini juga menjadi bahan pertimbangan bagi pihak pemerintah daerah dalam mengambil keputusan untuk mengurangi risiko kecelakaan di area rawan.
Keluarga Korban dan Kondisi Kesehatan
Keluarga Dewi Handayani, yang merupakan korban pertama, sedang mengalami masa sulit setelah kehilangan anggota keluarga mereka. “Saya tidak percaya saat melihat korban meninggal,” kata ibu dari Dewi Handayani. “Saya berharap ada kejadian seperti ini tidak terjadi lagi.”
Sementara itu, para korban yang masih hidup dalam kondisi kritis menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Dari sembilan korban, dua orang masih membutuhkan pengawasan medis terus menerus, sedangkan lima lainnya dalam kondisi stabil. Pihak rumah sakit memastikan bahwa semua korban akan d
