Remaja Tewas Dikeroyok di Ciputat – Dipicu Dendam Lama soal Tawuran

Remaja Tewas Dikeroyok di Ciputat, Dipicu Dendam Lama soal Tawuran

Remaja Tewas Dikeroyok di Ciputat – Kapolsek Ciputat Timur, Kompol Bambang Askar Sodiq, mengungkap kejadian kekerasan yang berujung pada kematian seorang remaja pada Selasa (28/4) sekitar pukul 02.00 WIB di Jalan Taqwa, Kampung Gunung RT 03 RW 04, Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan. Menurut keterangan polisi, korban ditemukan dalam kondisi terluka berat dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia setelah dilarikan ke RSUD Tangsel.

Korban berada di tempat yang sepi, lalu mendadak menjadi sasaran serangan dari sejumlah orang. Saat ini, keenam pelaku telah ditangkap oleh polisi,” kata Kompol Bambang saat dihubungi detikcom, Rabu (29/4/2026).

Insiden tersebut terjadi secara mendadak saat korban sendirian di lokasi kejadian. Para pelaku, yang diketahui masih dalam usia remaja, langsung menyerang tanpa ada tanda-tanda peringatan. Saksi mata yang bernama RH (20), bersama temannya A (20), menyaksikan aksi penyerangan tersebut saat melintas di sekitar area. RH mengatakan, ia melihat sekelompok remaja sedang bertengkar dan langsung memukul korban dengan benda tajam.

“Saya melihat mereka ribut, lalu salah satu dari mereka memukul korban. Tidak lama kemudian, korban terjatuh dan terluka parah,” jelas RH.

Dari pengakuan RH, ia tidak menyadari bahwa korban yang dianiaya adalah saudaranya sendiri, FA. Meski memiliki hubungan keluarga, RH dan FA sempat berbeda pihak dalam sebuah tawuran yang terjadi pada 2025. Saat kejadian, RH berada di lokasi tanpa mengetahui bahwa FA adalah target serangan tersebut.

Setelah mengamati aksi penyerangan, RH dan A memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke rumah. Namun, beberapa menit kemudian, RH menerima kabar bahwa saudaranya, FA, telah menjadi korban pembacokan. Keduanya segera kembali ke tempat insiden dan menemukan korban dalam kondisi tergeletak.

“Korban sudah tidak sadarkan diri. Saya dan teman saya membawanya ke rumah sakit, tapi dokter menyatakan bahwa nyawanya tidak bisa diselamatkan,” tambah RH.

Dalam penjelasannya, Kompol Bambang menyebutkan bahwa FA adalah anak dari seorang satpam yang tinggal di daerah tersebut. Menurut keterangan ayah FA, A, anaknya pergi belajar bersama teman-temannya malam itu. “Anak saya mengatakan akan kembali ke rumah setelah selesai belajar. Namun, dia malah memutuskan untuk pulang sendiri,” ujar A.

Menurut polisi, kejadian ini bukan terjadi secara spontan, melainkan dipicu oleh konflik lama yang berkaitan dengan tawuran antar kelompok. Motif utama para pelaku adalah rasa dendam atas kekalahan yang dialami selama tawuran tahun 2025. “Tersangka mengklaim bahwa mereka membacok FA karena merasa tidak puas dengan kekalahan di tawuran dulu. Padahal, FA dikenal sebagai anak yang baik dan tidak pernah menyebabkan konflik,” kata Bambang.

Penyebab Tawuran dan Dendam Lama

Menurut informasi yang diperoleh polisi, kejadian tawuran pada 2025 terjadi di wilayah yang sama, dengan kelompok FA menjadi salah satu pihak yang terlibat. Kelompok tersebut mengalami kekalahan dalam pertarungan, sehingga memicu rasa marah dan penyesalan yang terus-menerus. Dendam ini akhirnya memuncak pada malam kejadian saat FA menjadi sasaran serangan.

Penyelidikan oleh pihak kepolisian dilakukan dengan cepat setelah laporan diterima. Sebanyak enam orang pelaku yang mayoritas merupakan pelajar diangkat ke kantor polisi. “Kami masih memburu saksi tambahan untuk memperkuat bukti,” imbuh Kompol Bambang. Seluruh pelaku dikenai tuduhan pembunuhan berencana dan diancam hukuman berat karena aksi mereka mengakibatkan kematian korban.

Reaksi Masyarakat dan Penyelidikan Lanjutan

Insiden ini memicu kecaman dari warga sekitar yang menganggap tawuran lama terus mengganggu keamanan lingkungan. Masyarakat mengharapkan langkah tegas dari pihak berwajib untuk mengungkap seluruh detail kejadian dan menindak pelaku secara adil. Selain itu, kepolisian juga menginvestigasi kemungkinan adanya aksi teror atau persiapan yang lebih matang dari kelompok penyerang.

Menurut Bambang, para pelaku memiliki perencanaan yang baik sebelum melakukan aksi. Mereka memilih waktu dan tempat yang sepi untuk menyerang korban tanpa menghadirkan saksi. “Kami memastikan bahwa tidak ada upaya menutupi kebenaran. Setiap detail akan diproses secara terbuka,” tegasnya.

“Korban merupakan anggota muda dari keluarga yang baik. Mereka tidak memiliki niat buruk, tapi hanya menjadi korban kebencian yang tertunda selama bertahun-tahun,” papar Bambang.

Kasus ini juga menjadi perhatian pemerintah daerah yang berupaya memperkuat sistem pemecahan konflik antar remaja. Dinas Pemuda dan Olahraga setempat mulai merancang program peningkatan kecakapan mediasi untuk mencegah insiden serupa. “Kami ingin meminimalkan penggunaan kekerasan sebagai alat penyelesaian masalah,” ujar Bambang.

Dalam wawancara terpisah, keluarga korban menyampaikan duka cita mendalam. Mereka mengharapkan pihak kepolisian dapat memastikan pelaku dihukum sesuai dengan perbuatan mereka. “FA sangat baik, bahkan sering membantu orang tua di rumah. Meninggalnya dia membuat kami kehilangan harapan,” kata sang ayah.

Sebagai langkah pencegahan, pihak kepolisian telah mengambil langkah untuk memperketat pengawasan di lingkungan Jombang. Polisi juga meminta warga mengawasi aktivitas remaja yang terlibat dalam konflik. “Kami berharap masyarakat dapat membantu mengurangi ketegangan antar kelompok sebelum memicu kejadian seperti ini,” imbuh Bambang.

Kasus FA menjadi sorotan media lokal dan nasional sebagai contoh bagaimana dendam lama dapat memicu kematian dalam kejadian kekerasan yang terlihat sepele. Dengan adanya enam pelaku yang telah ditangkap, investigasi masih terus berlangsung untuk memastikan tidak ada pelaku lain yang terlewat. “Kami ingin memberikan keadilan penuh kepada korban dan keluarganya,” pungkas Kompol Bambang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *