Special Plan: Ayah Tak Bertemu Ristuti Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Selama 6 Tahun
Ayah Tak Bertemu Ristuti Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Selama 6 Tahun
Jenazah Ristuti Dikebumikan di Kampung Halamannya
Special Plan – Menurut laporan dari detikJateng pada Selasa (28/4/2026), jenazah Ristuti, yang menjadi korban kecelakaan kereta api di Bekasi, telah dimakamkan di kampung halamannya, Desa Bero, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri. Prosesi pemakaman berlangsung dengan sederhana, namun penuh keharuan. Jenazah korban tiba di rumah duka sekitar pukul 16.15 WIB dan segera dibawa ke Dusun Puncanganom untuk dimakamkan pada pukul 18.00 WIB.
Keluarga yang berada di lokasi pemakaman menyatakan bahwa upacara perayaan dimulai dengan doa dan zikir yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Selama prosesi, warga sekitar turut menghormati jenazah dengan berdiri mengenakan pakaian hitam dan membawa bunga sebagai tanda dukacita. Sejumlah tetangga mengungkapkan bahwa Ristuti dikenal baik hati dan rajin bekerja, sehingga kepergiannya memicu rasa sedih yang dalam di tengah masyarakat.
Pekerjaan dan Pengorbanan Ristuti di Tanah Perantauan
Ristuti, yang meninggal dunia setelah kecelakaan kereta api, telah lama tinggal di Bekasi. Ayahnya, Sugeng Priyanto, menjelaskan bahwa putrinya memilih tinggal di kota besar untuk mengejar cita-citanya. Meski jarak membuat komunikasi terbatas, Sugeng mengakui bahwa Ristuti terbiasa mengirimkan pesan melalui telepon untuk mengetahui kabar keluarga.
“Telepon terakhir kami adalah Minggu lalu. Dalam pembicaraannya, ia hanya bertanya tentang kondisi keluarga, seperti biasa. Namun, ia tak pernah mengeluhkan kehidupan di sana,” ujar Sugeng di rumah duka.
Sebagai seorang admin di toko bangunan, Ristuti dikenal sebagai pekerja keras yang selalu menyelesaikan tugasnya tepat waktu. Dalam wawancara dengan teman kerjanya, diungkapkan bahwa ia memiliki semangat tinggi dan selalu menjadi contoh bagi rekan-rekan kerjanya. Meski bekerja sibuk, ia tetap menyisihkan waktu untuk memperhatikan keluarga dan membalas panggilan telepon dari orang tua.
Sebelum menikah, Ristuti sudah menetap di Bekasi selama belasan tahun. Menurut Sugeng, putrinya memutuskan tinggal di sana untuk mengejar pendidikan dan kesempatan kerja yang lebih luas. “Anak saya memang sering telepon, tapi ia juga memiliki kehidupan yang cukup sibuk di sana,” tambahnya.
Pengalaman Pemuda yang Tidak Pernah Pulang
Berkat dedikasinya, Ristuti berhasil membangun hidup di tanah perantauan. Namun, ia sering merasa rindu dengan kampung halaman. Menurut Sugeng, Ristuti hanya kembali ke Wonogiri sekitar enam tahun lalu, saat ia merasa sudah cukup stabil dalam pekerjaan. “Sekitar enam tahun terakhir, ia memang tidak pulang ke Manyaran,” jelas Sugeng.
Meski begitu, Sugeng menyatakan bahwa Ristuti tetap menjaga hubungan dengan keluarga melalui pesan dan foto yang dikirimkan secara rutin. Kehadirannya di Bekasi juga dianggap sebagai bagian dari kehidupan yang dianutnya, meski ia merindukan suasana kampung halaman. “Ia sering menyebut rumah di Wonogiri sebagai tempat yang penuh kenangan,” imbuh Sugeng.
Dalam momen Lebaran tahun ini, Ristuti sempat merencanakan untuk pulang ke kampung halamannya, namun rencana itu terpaksa dibatalkan karena mertuanya di Purwokerto meninggal dunia. “Ia ingin melihat keluarga, tapi perjalanan jadi terganggu karena mertua mengenaskan,” kata Sugeng. Keputusan itu membuat Sugeng merasa sedih karena Ristuti tidak bisa menemui orang terdekatnya sebelum wafat.
Dukungan dari Keluarga dan Komunitas
Keluarga Ristuti mengungkapkan bahwa kecelakaan kereta api yang menewaskan putrinya terjadi tiba-tiba dan tidak terduga. Dalam perjalanan kembali ke Wonogiri, jenazah ditemani oleh kerabat dekat dan tetangga yang juga hadir untuk mengucapkan selamat jalan. “Semua orang di sini merasa kehilangan seseorang yang baik dan penuh dedikasi,” ucap salah satu tetangga.
Sejumlah warga Desa Bero mengatakan bahwa Ristuti adalah sosok yang dihormati di lingkungannya. Ia sering membantu tetangga yang membutuhkan, baik dalam urusan ekonomi maupun sosial. “Ia tidak pernah menolak bantuan untuk warga sekitar,” ujar salah satu warga. Kehilangan Ristuti memicu kekecewaan yang dalam, terutama karena ia memiliki ambisi yang besar dan potensi yang menjanjikan.
Dalam rangka memperingati kepergian Ristuti, keluarga dan tetangga berencana mengadakan acara khusus di kampung halamannya. Acara tersebut akan mencakup pembacaan puisi, tarian tradisional, dan penghormatan yang penuh makna. Sugeng menyatakan bahwa ia berharap kegiatan tersebut bisa menjadi sarana untuk mengenang anaknya dan memberikan kekuatan bagi keluarga yang masih tinggal di Bekasi.
Pengorbanan yang Tak Terhitung
Kecelakaan kereta api menjadi momen bersejarah bagi keluarga Ristuti. Bagi Sugeng, peristiwa ini menjadi pengingat betapa pentingnya hubungan antara keluarga dan kehidupan yang berjalan di tanah perantauan. “Ia mengorbankan waktu untuk bekerja, tetapi tak pernah lupa mengunjungi keluarga,” ujar Sugeng, yang kini berusaha mengakui kehilangan besar yang telah dialami.
Sejumlah saudara dan kerabat mengungkapkan bahwa Ristuti memiliki visi hidup yang jelas. Ia ingin menjadi contoh bagi adiknya yang masih muda. “Ia selalu berpesan agar adiknya belajar dan bekerja keras seperti dirinya,” kata salah satu saudara. Kehilangan Ristuti memaksa keluarga untuk merenung dan melanjutkan perjuangan yang ia mulai.
Di tengah dukacita, keluarga Ristuti berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi siapa pun yang ingin mengejar impian. “Semoga kepergiannya menginspirasi orang lain untuk tidak menyerah meskipun menghadapi tantangan,” tutur Sugeng. Ia juga berharap jenazah Ristuti dihormati dengan penuh kelembutan, sebagaimana hidupnya yang selalu penuh dengan usaha dan doa.
