Strategi Penting: Wamentan tegaskan komitmen penguatan implementasi NEK berkelanjutan
Wamentan Sampaikan Komitmen Perkuat Implementasi NEK Berkelanjutan
Jakarta – Sudaryono, Wakil Menteri Pertanian, menegaskan komitmennya dalam memperkuat penerapan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) sebagai bagian dari upaya transformasi ke arah pertanian yang rendah emisi dan berkelanjutan. Dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu, Sudaryono menyebutkan bahwa sektor pertanian memainkan peran penting strategis dalam NEK, karena tidak hanya menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca tetapi juga berfungsi sebagai penyerap karbon melalui metode budidaya berkelanjutan.
Penerapan teknologi berdampak rendah emisi serta manajemen lahan yang ramah lingkungan akan memungkinkan sektor ini menjadi faktor utama dalam mengendalikan perubahan iklim sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru,” katanya.
Kesiapan sektor pertanian dalam penerapan NEK berperan penting dalam menarik investasi asing, seiring terbukanya pasar perdagangan karbon internasional. Mekanisme ini memungkinkan investor global membeli kredit karbon dari Indonesia, sehingga membuka jalan bagi pendanaan proyek-proyek yang berdampak rendah karbon di bidang pertanian.
Sudaryono menambahkan, upaya ini selaras dengan visi Indonesia dalam LTS-LCCR 2050 dan komitmen pengurangan emisi melalui NDC. Pemerintah sendiri menetapkan target penurunan emisi sektor pertanian sebanyak 10 juta ton CO2 ekuivalen pada 2030, sebagai bagian dari tujuan nasional. Selain itu, RPJMN 2025–2029 menekankan pentingnya penggabungan pertumbuhan ekonomi dengan ketahanan pangan, energi, dan air, serta transisi menuju ekonomi hijau dan Net Zero Emission (NZE) dengan target pengurangan emisi mencapai 30,11 persen pada 2029.
Untuk mempercepat penerapan NEK, pemerintah telah menerbitkan Perpres Nomor 110 Tahun 2025 yang mengatur instrumen ekonomi karbon lintas sektor, termasuk bidang pertanian yang mencakup persawahan, peternakan, dan perkebunan. Kementan sejak 2019 telah menerapkan beberapa program penurunan emisi, seperti pengembangan sistem biogas, pemantapan cadangan karbon tanah dengan menggunakan pupuk organik, serta pengembangan desa organik.
Beberapa inisiatif lain termasuk penggunaan varietas padi rendah emisi, perbaikan kualitas pakan ternak, pemupukan berimbang, pengelolaan lahan gambut, dan sekuestrasi karbon pada tanaman hortikultura dan perke
