Israel Masih Gempur Lebanon di Tengah Gencatan Senjata – 10 Orang Tewas
Israel Terus Bombardir Lebanon Saat Perjanjian Gencatan Senjata, 10 Korban Tewas
Israel Masih Gempur Lebanon di Tengah – Menurut laporan CNN International pada Rabu, 29 April 2026, Badan Pertahanan Sipil Lebanon menyatakan bahwa dua warga sipil tewas dalam serangan awal terhadap sebuah bangunan di Majdal Zoun, kota yang terletak di dekat Tyre. Serangan tersebut menargetkan wilayah yang secara aktif digunakan oleh warga terluka dari insiden sebelumnya. Di lokasi yang sama, serangan berikutnya mengakibatkan kematian tiga anggota Pertahanan Sipil yang sedang menolong korban dari serangan awal.
Sebagai respons, Kantor Presiden Lebanon Joseph Aoun mengeluarkan pernyataan keras terhadap serangan tersebut. Aoun menegaskan bahwa insiden ini merupakan bagian dari “serangkaian serangan yang menargetkan pekerja bantuan dan pertolongan pertama.” Pernyataan ini menunjukkan ketidakpuasan pemerintah Lebanon terhadap tindakan militer Israel yang tetap aktif meskipun dalam masa gencatan senjata.
“Serangan tersebut adalah bagian dari upaya terus-menerus untuk merusak sistem bantuan dan pertolongan pertama di Lebanon,” ujar Aoun dalam pernyataan resmi. Ia menambahkan bahwa tindakan Israel mengancam keberlanjutan upaya pemulihan pasca-kerusuhan di wilayah tersebut.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada hari Rabu, Militer Israel (IDF) mengatakan bahwa serangan di Majdal Zoun dilakukan untuk menargetkan “komandan Hizbullah” yang dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan nasional. Mereka menegaskan bahwa insiden tersebut memicu klaim bahwa beberapa pegawai Pertahanan Sipil tewas dan tentara Lebanon terluka. Namun, IDF menekankan bahwa penjelasan detail tentang insiden sedang dalam proses investigasi.
Menurut IDF, operasi mereka berfokus pada organisasi teroris Hizbullah, bukan pada anggota angkatan darat Lebanon atau warga sipil. Ini menjadi kunci dalam menentukan tanggung jawab terhadap korban yang jatuh selama serangan. Meski demikian, pernyataan mereka tidak sepenuhnya menghilangkan kecurigaan tentang kesengajaan serangan yang menimpa warga sipil.
Serangan di Wilayah Lain
Sementara itu, media pemerintah Lebanon melaporkan bahwa serangan Israel menewaskan dua orang di kota Tebnine dan Shaqra, yang terletak di Lebanon Selatan. Kementerian Kesehatan Lebanon juga menyebutkan bahwa serangan di Jwaya mengakibatkan kematian satu individu, sementara serangan udara di Jebchit menewaskan setidaknya dua orang dan melukai 13 lainnya.
Data dari Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan bahwa sejak 2 Maret, total korban tewas mencapai 2.521 orang, dengan lebih dari 7.800 orang terluka. Angka ini mencerminkan intensitas konflik yang masih berlangsung meskipun dalam kondisi gencatan senjata. Banyak warga sipil menjadi korban karena serangan yang terus-menerus menghantam wilayah yang sengaja dijadikan tempat perlindungan.
“Kebebasan bertindak kita untuk menggagalkan ancaman langsung dan ancaman yang muncul adalah bagian dari perjanjian yang kita buat dengan Amerika Serikat dan juga dengan pemerintah Lebanon,” jelas Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kepada personel militer. Ia menjelaskan bahwa ketentuan gencatan senjata memungkinkan Israel untuk melanjutkan pengeboman di seluruh negeri tanpa henti.
Netanyahu menekankan bahwa negara-negara pihak, termasuk Amerika Serikat, memberikan izin bagi tindakan militer Israel yang berlangsung selama perjanjian. Hal ini menunjukkan bahwa kesepakatan gencatan senjata tidak sepenuhnya membatasi kemampuan Israel untuk menyerang target di Lebanon. Meski demikian, pihak Lebanon menilai bahwa serangan tersebut terus menambah tekanan pada populasi sipil yang sudah sangat rentan.
Kondisi tersebut memicu perdebatan internasional. Beberapa organisasi kemanusiaan mengkritik tindakan Israel yang dinilai melanggar prinsip perlindungan warga sipil dalam perang. Di sisi lain, Israel mempertahankan bahwa serangan mereka bertujuan untuk mengurangi kekuatan Hizbullah yang dianggap sebagai penggerak utama konflik. Pernyataan ini didukung oleh pihak militer yang menyatakan bahwa serangan di Tebnine dan Shaqra menargetkan “struktur militer” yang dimiliki oleh kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Situasi di Lebanon semakin memburuk karena serangan udara yang berulang. Korban tewas dan cedera terus meningkat, menggambarkan dampak yang mengerikan dari operasi militer. Meskipun pihak Lebanon berupaya membangun kepercayaan melalui gencatan senjata, tindakan Israel tetap menjadi faktor utama yang mengganggu stabilitas wilayah tersebut. Masyarakat internasional menunggu kejelasan lebih lanjut tentang tindakan Israel, terutama mengenai perlindungan terhadap warga sipil.
Dalam konteks ini, rakyat Lebanon mengalami tekanan luar biasa. Beberapa wilayah di Selatan negara tersebut menjadi korban utama, dengan infrastruktur dan populasi sipil terus terkena dampak. Penyebab kematian korban tidak selalu jelas, namun keterlibatan Hizbullah dalam serangan dianggap sebagai faktor utama yang memicu kecurigaan terhadap aktivitas militer Israel. Kehadiran pihak internasional diharapkan dapat mempercepat resolusi konflik dan meminimalkan kerusakan pada masyarakat sipil.
