Topics Covered: Trump Bilang Iran dalam Keadaan Kolaps
Trump Umumkan Iran Menghadapi Kehancuran
Topics Covered – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Iran sedang dalam kondisi yang memicu kekhawatiran serius, dengan pihaknya mengklaim bahwa negara tersebut telah menginformasikan bahwa mereka berada dalam ‘keadaan kehancuran’. Pernyataan ini diluncurkan melalui unggahan di platform media sosial Truth Social, pada hari Selasa (28/4/2026), setelah dilansir oleh kantor berita Reuters dan Al Arabiya English pada Rabu (29/4/2026).
Dalam komentar yang ia buat, Trump menegaskan bahwa Iran menunjukkan keinginan untuk mengakhiri konflik yang sebelumnya berlangsung intens. Ia mengatakan, “Iran baru saja memberi tahu kami bahwa mereka berada dalam ‘Keadaan Kolaps’. Mereka ingin kami ‘Membuka Selat Hormuz’ segera, karena mereka mencoba mencari solusi untuk situasi kepemimpinan mereka (yang saya yakini akan dapat mereka lakukan!). Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini!”
“Stabilitas dan keamanan yang langgeng di Teluk Persia dan kawasan yang lebih luas hanya dapat dicapai melalui penghentian agresi yang berkelanjutan dan permanen terhadap Iran yang dilengkapi dengan jaminan yang kredibel untuk tidak terulangnya serangan serta penghormatan penuh terhadap hak dan kepentingan kedaulatan Iran yang sah,” ujar Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeid Iravani, saat berbicara dalam sesi Dewan Keamanan PBB yang dipandu oleh Bahrain.
Pernyataan Trump sejalan dengan latar belakang konflik yang memasuki fase stagnan. Sejak awal perang, pihak AS mengkritik proposal terbaru dari Iran yang dianggap tidak memadai. Menurut sumber dalam pemerintah AS, Trump tidak puas dengan tawaran Teheran yang dinilai kurang memenuhi kebutuhan negara-negara berkepentingan di wilayah Teluk.
Menurut informasi yang diterima, Iran menawarkan penundaan pembahasan tentang program nuklir mereka sampai konflik selesai dan perselisihan mengenai pengiriman barang dari Selat Hormuz teratasi. Hal ini menunjukkan bahwa Teheran mencoba membangun kesepakatan yang bisa menciptakan keseimbangan dalam perang.
Di sisi lain, Trump ingin menghadapi masalah nuklir secara langsung, tanpa menunda keputusan sampai konflik berakhir. Hal ini terungkap dalam pertemuan yang diadakan pada hari Senin (27/4/2026), ketika para penasihatnya menegaskan bahwa pendekatan sejak awal lebih efektif untuk memastikan keamanan.
Kesepakatan Nuklir Iran 2015: Momen yang Pecah
Kesepakatan nuklir yang ditandatangani pada tahun 2015 antara Iran dan negara-negara besar, termasuk Amerika Serikat, adalah langkah penting untuk mengendalikan kemampuan nuklir Iran. Perjanjian tersebut membatasi program nuklir negara itu dengan pembatasan jumlah isotop dan jumlah reaktor yang dapat dioperasikan. Namun, konflik kembali memanas saat Trump menarik diri dari kesepakatan itu secara sepihak di masa jabatan pertamanya, memicu ketegangan antara Iran dan pihak barat.
Keputusan Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 menjadi titik balik dalam hubungan diplomatik. Dengan langkah tersebut, ia menghapus klausul yang mengatur pengendalian senjata nuklir Iran dan memulai upaya untuk mengembalikan kekuasaan ke tangan pihaknya. Selama periode ini, Iran dianggap lebih aktif dalam mengembangkan senjata nuklir, sementara AS dan sekutunya melanjutkan tekanan melalui sanksi ekonomi.
Pada kesempatan sebelumnya, pemerintah Iran menekankan bahwa mereka membutuhkan jaminan yang kuat untuk mencegah serangan dari Amerika Serikat dan Israel. Jaminan ini diharapkan dapat menjamin keamanan di kawasan Teluk yang kaya sumber daya minyak, menjadi prioritas utama bagi negara itu. Persyaratan tersebut diungkapkan oleh Iravani dalam sesi Dewan Keamanan PBB, yang menjadi panggung untuk menegaskan kebutuhan Iran akan perlindungan internasional.
Kekhawatiran Terhadap Ketersediaan Jaminan
Sebelumnya, pihak Iran menekankan bahwa mereka menginginkan jaminan yang dapat dipercaya agar serangan dari negara-negara besar tidak terulang lagi. Selama beberapa bulan terakhir, Iran memperlihatkan kecemasan terhadap ancaman AS dan Israel, yang berpotensi mengganggu stabilitas regional. Pernyataan tersebut, yang dilaporkan oleh AFP, Selasa (28/4/2026), menjadi dasar untuk menegaskan bahwa keamanan harus dijamin sebelum negosiasi dilanjutkan.
Dalam pertemuan di markas besar PBB pada hari Senin (27/4), puluhan negara mengkritik Iran karena mengambil alih kendali atas Selat Hormuz. Selat ini menjadi jalur vital bagi pengiriman minyak, dan pengambilalihan oleh Iran dianggap sebagai tindakan agresif. Meski demikian, Iravani mengklaim bahwa situasi ini adalah hasil dari kebutuhan Iran untuk menjaga kepentingannya di kawasan tersebut.
Menurut Iravani, kestabilan di wilayah Teluk hanya bisa tercapai jika agresi terhadap Iran dihentikan, dilengkapi dengan jaminan yang kredibel untuk mencegah serangan di masa depan. Ia menambahkan bahwa kepercayaan internasional sangat penting bagi Iran, yang menginginkan keamanan di wilayahnya. “Mereka ingin menghindari konflik yang berkepanjangan, tetapi juga memastikan bahwa kekuasaan mereka tidak terganggu,” papar Iravani dalam sesi yang dihadiri oleh sejumlah negara anggota PBB.
Kondisi Iran yang Dinamis
Kondisi Iran yang dinamis membuat Trump mempertimbangkan langkah-langkah terbaik untuk mengakhiri perang. Pernyataan bahwa Iran berada dalam ‘keadaan kolaps’ mungkin bertujuan untuk mengubah momentum dan mendesak pihak barat untuk memberikan penawaran yang lebih baik. Meski sumber mengatakan bahwa pesan tersebut tidak jelas, Trump menganggapnya sebagai indikator bahwa Iran sedang mencari jalan keluar dari tekanan.
Kesepakatan nuklir 2015 sebelumnya menjadi fondasi untuk menjaga keseimbangan antara keamanan internasional dan kepentingan Iran. Namun, dengan Trump menarik diri dari perjanjian tersebut, Iran kembali mengambil jalur sendiri dalam pengembangan senjata nuklir. Selama masa jabatan Trump, pihak Iran terus meningkatkan kapasitas nuklir mereka, yang menjadi sumber kekhawatiran bagi negara-negara anggota PBB.
Dalam konteks ini, pihak AS berusaha membangun kesepakatan yang lebih ketat dengan Iran, sementara Iran berjuang untuk menegaskan bahwa mereka tidak akan melemah. Trump mencoba memperkuat posisi AS dengan menyatakan bahwa Iran membutuhkan bantuan darurat untuk mengatasi krisis yang mengancam kestabilan mereka. Namun, tidak semua pihak setuju dengan pendekatan ini, termasuk neg
