News

Dianggap Abu-abu – PDIP Minta PKB Belajar Literasi Pemerintah

Dianggap Abu-abu, PDIP Minta PKB Belajar Literasi Pemerintah Ketua DPPPDIP Respons Soal Persepsi Ambivalensi Partainya Dianggap Abu abu - Ketua DPPPDIP, Deddy

Desk News
Published Juni 19, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Dianggap Abu-abu, PDIP Minta PKB Belajar Literasi Pemerintah

Ketua DPPPDIP Respons Soal Persepsi Ambivalensi Partainya

Dianggap Abu abu – Ketua DPPPDIP, Deddy Sitorus, memberikan respons terhadap kritik yang dilayangkan oleh Ketua Fraksi PKB di DPR RI, Jazilul Fawaid, terkait persepsi bahwa PDIP bersikap ambigu terhadap pemerintahan Presiden Joko Widodo. Deddy menegaskan bahwa keputusan partainya dalam hal sikap politik telah diambil secara demokratis melalui serangkaian proses organisasi. “Posisi PDIP terhadap pemerintahan adalah hasil keputusan kolektif, bukan tindakan sembarangan,” ujarnya dalam wawancara dengan media pada hari Kamis, 18 Juni 2026.

Lebih baik Jazilul urus partainya sendiri daripada mengurusi orang lain. Sikap dan posisi PDI Perjuangan itu merupakan keputusan organisasi melalui Kongres, Rakernas, dan institusi Ketua Umum sebagai pemegang mandat prerogatif, ” kata Deddy dalam pernyataannya, menyoroti bahwa Jazilul perlu fokus pada pengelolaan internal PKB.

Deddy menilai bahwa Jazilul Fawaid, sebagai anggota partai lain, tidak memiliki wewenang untuk menuntut PDIP mengambil sikap tertentu terhadap pemerintahan. “Kader partai satu tidak boleh memaksa keputusan partai lain tanpa dasar yang jelas,” imbannya. Ia menambahkan bahwa PDIP sudah memperlihatkan komitmen dalam berbagai kebijakan, terutama di bidang kebijakan ekonomi dan sosial yang telah diimplementasikan selama masa pemerintahan Jokowi.

PKB Dituduh Tidak Memahami Proses Pemutusan Sikap PDIP

Kritik yang dibawa Jazilul dinilai Deddy sebagai upaya untuk memengaruhi pandangan politik PDIP, terutama mengenai kebijakan yang dianggap tidak konsisten. “PKB harus memahami bahwa keputusan partai diambil melalui mekanisme internal yang matang, bukan hanya karena keinginan seorang anggota,” katanya. Deddy juga menyoroti bahwa kebijakan PDIP terhadap pemerintahan Jokowi tidak bisa dipandang sebagai kelemahan, tetapi sebagai strategi yang dipertimbangkan secara matang.

Jazilul Fawaid sebelumnya mengkritik PDIP karena dianggap tidak tegas dalam mendukung pemerintahan Prabowo Subianto. Namun, Deddy menolak tudingan tersebut, menyatakan bahwa PDIP selama ini telah menunjukkan dukungan melalui keputusan konstitusional dan kebijakan yang diambil. “Kita tidak bisa mengabaikan bahwa PDIP sudah memberikan kontribusi besar dalam membentuk kebijakan nasional, termasuk dalam isu-isu penting seperti pemerintahan dan kebijakan ekonomi,” jelasnya.

Konflik Politik dan Peran Partai dalam Sistem Demokrasi

Konflik ini menggambarkan dinamika politik di Indonesia, di mana partai-partai besar sering kali berperan sebagai pengambil kebijakan nasional. Deddy menekankan bahwa PDIP memiliki mandat dari rakyat untuk menentukan arah politik sesuai kepentingan terbesar. “Jika PKB ingin berpartisipasi dalam proses tersebut, mereka harus memahami bahwa setiap keputusan partai memiliki dasar yang kuat,” tegasnya. Hal ini juga menunjukkan pentingnya literasi politik di kalangan partai yang berbeda, terutama dalam memahami peran dan tanggung jawab masing-masing.

Deddy mempertanyakan status Jazilul sebagai figur yang memiliki kewenangan untuk mengkritik PDIP. Menurutnya, Jazilul seharusnya lebih fokus pada pembangunan partai dan mendorong kebijakan yang dianggap lebih relevan. “Kita harus belajar dari PDIP bagaimana proses pengambilan keputusan dapat menjadi referensi bagi partai lain,” katanya, menambahkan bahwa keputusan PDIP dalam hal ini tidak hanya dipengaruhi oleh tekanan eksternal, tetapi juga kebijakan internal yang diambil setelah diskusi mendalam.

Konteks Politik dan Harapan untuk Sinergi Partai

Konteks politik saat ini menunjukkan bahwa PDIP dan PKB memiliki persaingan, tetapi juga potensi untuk bekerja sama dalam mendukung stabilitas pemerintahan. Deddy mengingatkan bahwa Jazilul Fawaid perlu memahami bahwa PDIP telah berpartisipasi aktif dalam berbagai aspek pemerintahan, termasuk dalam isu-isu yang melibatkan pengambilan kebijakan nasional. “Selama ini, PDIP tidak pernah ragu dalam menunjukkan dukungan mereka terhadap pemerintahan, baik dalam bentuk kebijakan maupun dukungan politik,” ujarnya.

Deddy juga menyinggung bahwa berbagai partai di Indonesia memiliki tanggung jawab untuk memahami dinamika politik secara utuh. Menurutnya, Jazilul harus belajar bahwa keputusan yang diambil PDIP tidak selalu bisa dianggap sebagai ambivalensi, tetapi bisa jadi bagian dari strategi politik yang kompleks. “PKB mungkin memiliki pandangan sendiri, tetapi mereka harus menghargai proses pengambilan keputusan partai besar seperti PDIP,” katanya.

Perspektif Internal PDIP dan Dinamika Masa Depan

Dalam konteks internal PDIP, Deddy menegaskan bahwa keputusan kongres dan rakernas selalu dipertimbangkan dengan matang. “Pemimpin partai memiliki wewenang untuk mengambil keputusan yang dianggap paling sesuai dengan kepentingan rakyat,” ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa keputusan PDIP dalam mengambil sikap terhadap pemerintahan tidak hanya dipengaruhi oleh keinginan individu, tetapi juga oleh hasil evaluasi dari seluruh anggota partai.

Jazilul Fawaid, di sisi lain, berargumen bahwa PDIP perlu lebih tegas dalam menentukan sikap terhadap pemerintahan. Namun, Deddy menolak tudingan tersebut, mengatakan bahwa PDIP telah menunjukkan komitmen dalam berbagai langkah strategis. “Jazilul seharusnya fokus pada pembangunan partainya sendiri, karena ini juga tantangan besar dalam mengelola kebijakan politik,” katanya.

Dengan menekankan pentingnya literasi politik dan proses pengambilan keputusan, Deddy berharap PKB dapat memahami bahwa PDIP tidak sembarangan dalam mengambil langkah. “Kita perlu belajar dari PDIP bagaimana keputusan politik bisa diambil secara efektif dan berkelanjutan,” katanya. Deddy menambahkan bahwa kesinambungan antar partai adalah kunci untuk menjaga konsistensi kebijakan nasional, terutama dalam menghadapi tantangan masa depan.

Konflik antara PDIP dan PKB ini juga mencerminkan dinamika politik yang kompleks di Indonesia, di mana setiap partai memiliki strategi dan prioritas politik yang berbeda. Deddy menegaskan bahwa PDIP tetap menjunjung tinggi prinsip demokrasi dalam mengambil keputusan, sementara PKB memiliki kekuatan untuk menyuarakan pendapat mereka. “Penting bagi semua pihak untuk saling menghargai, karena tujuan akhirnya adalah kepentingan rakyat dan bangsa,” tutupnya.

Leave a Comment