News

Historic Moment: Nyala Api Literasi: Bandung dan Buku-Buku yang Enggan Mati

erasi: Bandung dan Buku-Buku yang Enggan Mati Kota Bandung yang Mengalirkan Cerita Historic Moment - Di Senin, 8 Juni 2026, awan mengalir perlahan di atas

Desk News
Published Juni 15, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Nyala Api Literasi: Bandung dan Buku-Buku yang Enggan Mati

Kota Bandung yang Mengalirkan Cerita

Historic Moment – Di Senin, 8 Juni 2026, awan mengalir perlahan di atas atap Bandung, menciptakan suasana yang hangat. Di Jalan Kautamaan Istri, seorang penjual buku bernama Aris—yang dikenal sebagai Mucharis (40 tahun)—menghabiskan hari dalam kesunyian. Lapaknya, sebuah gerobak kayu berukuran 1,6 meter X 0,5 meter, dihiasi oleh ribuan buku yang tertata rapi. Meski terlihat sederhana, tempat itu menjadi pusat kecil aktivitas literasi bagi sebagian warga sekitar.

Apa yang Terjadi di Lapak Aris

Pada hari itu, seorang pengemudi motor mendatangi gerobak. Ia bertanya tentang buku pelajaran untuk siswa sekolah menengah pertama, tetapi Aris menjelaskan bahwa stoknya habis. Dengan tersenyum, Aris menyarankan untuk membeli di lapak tetangga. Namun, kesunyian gerobak segera terpecah ketika seorang anak berusia sekitar 10 tahun memarkir sepedanya. Dengan langkah bersemangat, bocah itu menghampiri dan mengarahkan pandangan ke tumpukan komik Kungfu Boy.

Transaksi Kecil yang Memancarkan Harapan

Aris mengetahui bahwa komik tersebut adalah favorit anak-anak. Dengan harga Rp5.000 per buku, anak itu langsung merogoh saku dan menyerahkan uang Rp10.000 ke tangan Aris. Dua komik legendaris karya Takeshi Maekawa terbawa pergi, meski Aris hanya menerima kembalian Rp5.000. Uang recehan yang diterima, meski tak besar, membawa senyum ke wajahnya. Di saat hari-hari tanpa penghasilan, Aris tetap bersyukur atas setiap transaksi kecil.

Kota Bandung, meski terkenal dengan kehidupan kota yang sibuk, masih menyimpan sudut-sudut yang menunjukkan semangat literasi. Lapak Aris, yang berdiri di sisi jalan, jadi simbol kecil dari perjuangan untuk menjaga minat baca masyarakat. Setiap hari, ia mengatur buku-buku yang tersisa, sambil berharap ada orang yang akan membelinya. Tidak semua hari berjalan lancar, tetapi Aris tetap optimis. Baginya, keberadaan buku-buku itu seperti nyala api yang tak pernah padam, terus menyala meski hanya menyala di sudut kecil kota.

Kebiasaan Aris tidak hanya sebatas menjual buku. Ia sering berinteraksi dengan pembeli, mengetahui cerita mereka, dan bahkan membantu memilih buku sesuai kebutuhan. Beberapa pembeli menganggapnya sebagai orang yang penuh empati, karena ia tak hanya mengutamakan penjualan, tetapi juga mendorong pengembangan kegemaran baca. Dalam dunia yang serba cepat dan digital, lapak Aris jadi tempat yang dianggap unik, di mana setiap buku memiliki cerita yang tak tergantikan.

Hari itu, setelah transaksi dengan anak SD, Aris merasakan kepuasan. Meski uang yang diterima tak seberapa, ia yakin itu menjadi bagian dari keberlanjutan lapaknya. Buku-buku yang ia jual, terutama komik Kungfu Boy, dianggap sebagai jembatan antara dunia anak-anak dan kegemaran baca yang lebih dewasa. Dengan rutinitas yang sama, Aris terus berharap bahwa literasi akan tetap hidup di Bandung, meski terkadang hanya berbentuk nyala api yang menyala di antara hiruk-pikuk kehidupan kota.

Dalam usahanya, Aris tak pernah lupa mengingat pesan dari Pramoedya Ananta Toer. “Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan,” ujar penulis legendaris itu, menjadi semangat dalam setiap langkah Aris. Meski terkadang hanya mendapat uang recehan, Aris tetap menjalani hari dengan optimisme. Ia percaya bahwa setiap buku yang terjual adalah bentuk apresiasi dari pembaca, yang sekaligus menjadi kekuatan bagi keberlanjutan literasi di Bandung.

Buku-buku yang ia jual pun memiliki peran penting. Mereka bukan hanya koleksi, tetapi juga pengingat akan nilai-nilai kehidupan. Aris mengatakan bahwa ia tidak membeda-bedakan buku, baik yang lama maupun baru. Ia hanya ingin setiap buku bisa memperkaya kehidupan pembaca. Dengan lapak kecilnya, ia mencoba menjadi bagian dari alur cerita yang terus berjalan, meski terkadang hanya dengan langkah kecil.

Pada hari itu, setelah transaksi dengan bocah itu, Aris merasakan rasa puas yang tak tergantikan. Meski hanya dua buku, ia menilai itu sebagai bukti bahwa literasi masih hidup. “Literasi adalah nyala api yang tak pernah mati,” ujarnya, sambil memandang tumpukan buku di gerobaknya. Di tengah tantangan, ia tetap bersemangat, percaya bahwa setiap langkah kecil bisa membawa perubahan.

“Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan.” – Pramoedya Ananta Toer

Aris memang tidak terlalu memikirkan keuntungan besar, tetapi ia percaya bahwa jalan kecil yang ia lalui membawa arti lebih. Dengan setiap buku yang terjual, ia merasa bagian dari cerita yang lebih luas. Di Bandung, kota yang sering dianggap modern, lapak buku Aris jadi saksi bisu bahwa minat baca masih bertahan. Buku-buku yang enggan mati, seperti komik Kungfu Boy, menjadi pembawa harapan.

Sebagai penjual buku, Aris juga menyadari bahwa peran penulis dan karya mereka sangat penting. Maka, ia tidak hanya menjual buku, tetapi juga menyebarkan nilai yang terkandung dalam setiap halaman. “Setiap buku punya kisah, dan setiap pembeli punya alasan sendiri mengambilnya,” katanya sambil menyusun buku-buku yang tersisa.

Di tengah hiruk-pikuk jalan raya, lapak buku Aris jadi tempat istirahat bagi literasi. Beberapa orang yang datang, seperti bocah SD tadi, mungkin tidak sadar bahwa mereka membawa perubahan. Namun, bagi Aris, itu adalah kekuatan tersembunyi. Meski seorang diri, ia tak pernah merasa sendirian.

Kehadiran bu

Leave a Comment