News

Key Discussion: Politikus PDIP Nilai Safari Politik Jokowi Berorientasi pada Kepentingan Elektoral Anak-anaknya

Politikus PDIP Kritik Safari Politik Jokowi Fokus pada Kepentingan Keluarga Key Discussion - Menyusul serangkaian kegiatan politik yang dilakukan Joko Widodo

Desk News
Published Juni 27, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Politikus PDIP Kritik Safari Politik Jokowi Fokus pada Kepentingan Keluarga

Key Discussion – Menyusul serangkaian kegiatan politik yang dilakukan Joko Widodo (Jokowi) selaku Presiden ke-7 Indonesia, seorang politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Guntur Romli, menyoroti bahwa langkah tersebut terkesan lebih berorientasi pada kepentingan politik keluarga, khususnya anak-anak Jokowi, menjelang Pemilu 2029. Dalam pernyataannya, Guntur mengungkap bahwa upaya Jokowi untuk menghadiri berbagai agenda di berbagai wilayah dan bertemu tokoh-tokoh politik dianggap sebagai bagian dari strategi memperkuat posisi politik putra-putrinya, yakni Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep.

Strategi Kepolitikan Menuju Kontestasi Nasional

Guntur menjelaskan bahwa kegiatan-kegiatan Jokowi belakangan ini terhubung erat dengan dinamika politik yang terjadi sebelum penyelenggaraan pemilihan umum nasional tahun depan. Menurutnya, pergeseran ini menunjukkan bahwa Jokowi lebih fokus pada peningkatan dukungan untuk anak-anaknya dibandingkan kepentingan pihak lain. “Dengan memperkuat PSI dan memastikan Gibran tidak lagi berada di bawah bendera Prabowo, Jokowi mengarahkan sumber daya politiknya untuk keuntungan keluarga,” ujar Guntur saat memberikan wawancara kepada media, Jumat, 26 Juni 2026.

“Gibran yang kemungkinan besar tidak lagi bersama Prabowo, dan PSI yang diketuai Kaesang akan meloloskan calon yang diinginkan. Semua ini demi membangun masa depan anak-anak Jokowi yang harus kerja keras,” kata Guntur.

Dalam pandangan Guntur, kebijakan Jokowi saat ini berbeda dengan masa lalu ketika ia masih aktif sebagai kader PDIP. Dulu, Jokowi dianggap sebagai “petugas partai” yang menjalankan tugas penugasan untuk menjabat sebagai wali kota, gubernur, dan akhirnya presiden. Namun, sekarang, ia dianggap lebih mementingkan kepentingan elektoral PSI dibandingkan kebutuhan rakyat atau visi partai. “Sebelumnya, Jokowi melayani rakyat sebagai bagian dari PDIP, sekarang ia menjadi ‘jongos partai’ yang dieksploitasi untuk mendukung kepentingan politik PSI,” tambahnya.

Pernyataan Guntur menjadi bagian dari kritik yang ia sampaikan terhadap pergeseran arah politik Jokowi setelah tidak lagi menjadi anggota aktif PDIP. Perubahan hubungan antara Jokowi dan PDIP mulai terasa sejak Pemilu 2024, ketika Jokowi mengambil langkah independen dalam mengatur strategi pemenangan. Menurut Guntur, tindakan tersebut menunjukkan bahwa Jokowi kini lebih mengutamakan kepentingan anak-anaknya daripada kepentingan partai dan rakyat.

Guntur juga menekankan bahwa safari politik yang dilakukan Jokowi tidak dirancang untuk mendukung Presiden Prabowo Subianto dalam Pemilu Presiden 2029. Justru, kegiatan tersebut dianggap sebagai cara untuk memperkuat posisi Gibran dan Kaesang dalam persaingan politik nasional. Ia menyebut bahwa Jokowi memanfaatkan pengaruhnya untuk mengarahkan sumber daya ke arah keluarga, bukan untuk kepentingan partai atau kandidat yang berbeda.

Persaingan politik di sekitar Jokowi dan Prabowo menurut Guntur semakin memanas seiring dekatan Jokowi dengan PSI. Ia berpendapat bahwa Jokowi saat ini lebih fokus pada mengembangkan kekuatan elektoral anak-anaknya, terutama Gibran, sebagai penerus kepemimpinan. “Dengan mendukung Gibran, Jokowi mencoba memastikan dominasi politik keluarga dalam berbagai level jabatan,” tutur Guntur.

Dalam konteks ini, Guntur mengingatkan bahwa peran Jokowi sebagai Presiden tidak lagi terbatas pada kebijakan nasional, tetapi juga berkaitan erat dengan strategi jangka panjang untuk membangun basis dukungan anak-anaknya. Ia menilai bahwa hal ini menunjukkan pergeseran peran Jokowi dari seorang pemimpin negara menjadi bagian dari “dinamika keluarga” dalam politik. “Jokowi kini lebih seperti seorang figur yang mendorong anak-anaknya mencapai posisi strategis, dibandingkan memimpin dari posisi yang ia tempati saat ini,” tambahnya.

Persaingan politik tahun 2029 dilihat sebagai ajang penting bagi Jokowi untuk memastikan kekuatan keluarga terus berjalan. Guntur berharap PDIP tetap berperan aktif dalam membangun koalisi yang seimbang, bukan hanya menjadi alat untuk mendorong kepentingan pribadi Jokowi. “PDIP harus menjadi pilar utama dalam kebijakan nasional, bukan sekadar tempat pelarian untuk kepentingan politik anak-anak Jokowi,” pungkas Guntur dalam wawancara terbarunya.

Perbedaan antara masa lalu dan sekarang Jokowi menurut Guntur terletak pada fokus kebijakan. Dulu, Jokowi berada dalam naungan PDIP dan mengambil peran sebagai pengayom rakyat. Kini, ia dianggap lebih terlibat dalam kepentingan partai-partai yang lebih kecil, seperti PSI, untuk mencapai tujuan keluarga. Hal ini menimbulkan tanda tanya tentang loyalitas Jokowi terhadap PDIP dan apakah ia masih mampu memimpin dari perspektif nasional, atau hanya menjalankan peran sebagai pelengkap strategi anak-anaknya.

Guntur juga membandingkan peran Jokowi sebagai kader PDIP dengan statusnya saat ini. Ia menyebut bahwa Jokowi dulu menjalankan tugas dengan tanggung jawab sebagai bagian dari partai, sementara kini ia bergerak dalam ruang yang lebih fleksibel untuk menunjang kepentingan keluarga. “Dengan kemampuan yang dimiliki, Jokowi bisa memilih antara mendukung pihak tertentu atau membangun dukungan untuk putra-putrinya,” ujarnya.

Kritik tersebut menggarisbawahi pergeseran strategi politik Jokowi setelah meninggalkan PDIP. Meski ia tetap menjadi simbol nasional, Guntur menilai bahwa langkah-langkah politiknya mulai diarahkan ke arah dinamika keluarga, yang dianggap lebih menguntungkan bagi kepentingan pribadi dibandingkan kepentingan partai dan rakyat secara luas.

Leave a Comment