Terminal Manggarai Tak Beroperasi Optimal Usai Kopaja-Metromini Dihapus, Warga Menyayangkan
Penurunan Kualitas Layanan Terus Terjadi
Latest Program – Sejak tahun 2018, Terminal Manggarai di Jakarta Selatan telah mengalami penurunan kualitas layanan yang signifikan. Pemerintah mengambil langkah untuk menghapus izin operasional bus Kopaja dan Metromini, dua layanan angkutan umum yang sebelumnya menjadi andalan pengguna di sekitar kawasan tersebut. Kebijakan ini, yang berlaku sejak 2018, dianggap sebagai titik balik yang memengaruhi aktivitas Terminal Manggarai selama delapan tahun terakhir. Akibatnya, jumlah pengguna yang mengakses terminal tersebut menurun drastis, dan kondisi operasionalnya kini terkesan stagnan.
Menurut Sertinsi, kepala UPT Pengelola Terminal Manggarai, keputusan pemerintah mengakibatkan perlahan lahan yang sebelumnya ramai kini terlihat sepi. “Jadi tahun 2018 itu izin-izin dari Kopaja atau angkot KWK sudah tidak diperpanjang,” ujarnya dalam wawancara di lokasi, Selasa 23 Juni 2026. Kebijakan ini, katanya, memicu perubahan drastis dalam pola penggunaan transportasi umum oleh masyarakat.
“Tahun 2018 itu izin-izin dari Kopaja atau angkot KWK sudah tidak diperpanjang,” kata Sertinsi.
Sebelumnya, Terminal Manggarai menjadi salah satu titik transit utama di Jakarta, terutama untuk jalur ke kawasan timur dan utara kota. Kopaja dan Metromini, yang beroperasi sejak beberapa dekade, membawa kontribusi besar dalam mengangkut ribuan penumpang setiap harinya. Penghapusan izin tersebut, lanjut Sertinsi, memaksa banyak pengemudi angkutan umum mencari alternatif terminal lain, seperti Terminal Kampung Rambutan atau Terminal Lebak Bulus.
Dengan hilangnya dua layanan tersebut, Terminal Manggarai kehilangan sekitar 40% kapasitas angkutan yang pernah dimilikinya. Menurut data dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta, sebelum 2018, sekitar 1.200 bus dan angkot beroperasi di terminal ini, termasuk ratusan kendaraan dari Kopaja. Setelah 2018, angka tersebut turun hingga 750 unit, meski pemerintah tetap memberikan izin untuk beberapa layanan lokal. “Kopaja-Metromini pernah menjadi tulang punggung operasional terminal ini,” imbuh Sertinsi.
Pengaruh terhadap Mobilitas Masyarakat
Penghapusan izin operasional Kopaja-Metromini dianggap sebagai akar masalah penurunan penggunaan Terminal Manggarai. Banyak warga yang sebelumnya mengandalkan layanan ini kini beralih ke transportasi lain, termasuk mobil pribadi dan angkutan umum yang beroperasi di terminal lain. Hal ini berdampak pada kemacetan di sekitar Terminal Manggarai, yang kini sering ditinggalkan oleh pengemudi sebelum mencapai titik tersebut.
Banyak warga mengeluhkan kenyataan ini, terutama pengguna yang berasal dari daerah Timur Jakarta. Mereka merasa kesulitan mencari pengganti layanan yang terjangkau dan teratur. “Kopaja-Metromini itu bisa diandalkan karena tarifnya murah dan jadwalnya teratur,” keluh seorang penumpang, Budi, 45, yang rutin menggunakan bus tersebut untuk bekerja di Jakarta Pusat. Kini, Budi harus menghabiskan lebih banyak waktu dan biaya untuk mencari alternatif, seperti taksi online atau angkutan umum lain yang beroperasi di Terminal Lebak Bulus.
Beberapa analis transportasi juga menyebut bahwa kebijakan ini memicu kompetisi yang tidak sehat antara terminal-terminal lain. Terminal Lebak Bulus, misalnya, mencatat peningkatan jumlah bus sebanyak 30% dalam tiga tahun terakhir, sementara Terminal Manggarai hanya mampu mempertahankan jumlah pengguna sekitar 60% dari sebelumnya. “Ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah mengarah pada redistribusi angkutan umum ke terminal yang lebih modern,” ungkap Dian, seorang peneliti transportasi di Jakarta.
Konflik Antar-Layanan Angkutan Umum
Penghapusan Kopaja-Metromini tidak hanya memengaruhi operasional Terminal Manggarai, tetapi juga memicu konflik antara operator angkutan umum lain. Beberapa pengemudi angkutan lokal mengeluhkan kenaikan beban kerja setelah mengambil alih rute-rute yang sebelumnya dioperasikan oleh Kopaja. “Kami harus berlari lebih keras untuk menutupi kekosongan yang terjadi di terminal ini,” kata Maman, salah satu pengemudi angkot yang kini melayani jalur kawasan Selatan Jakarta.
Bahkan, ada dugaan bahwa penghapusan izin tersebut dipicu oleh ketidakpuasan pemerintah terhadap keberadaan Kopaja-Metromini yang dianggap tidak efisien. Seperti yang diungkapkan oleh Sertinsi, terdapat laporan bahwa beberapa bus Kopaja-Metromini sering melebihi kapasitas penumpang dan menimbulkan keterlambatan. “Tapi keputusan ini juga mengurangi jumlah pengguna yang seharusnya mengakses Terminal Manggarai,” tambahnya.
Kebijakan ini terus menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama terkait dampak jangka panjang pada mobilitas warga. Sejumlah kritikus mengatakan bahwa pemerintah perlu mengevaluasi ulang kebijakan tersebut, karena banyak warga dari kawasan Timur Jakarta tidak memiliki akses yang layak ke terminal lain. “Jika Terminal Manggarai tidak dipulihkan, masyarakat akan terus terisolasi,” kata aktivis transportasi, Nia, 32.
Langkah Pemulihan yang Dinanti
Walaupun kondisi Terminal Manggarai terlihat semakin sepi, ada harapan bahwa kebijakan tersebut akan segera direvisi. Pemerintah DKI Jakarta menyatakan bahwa mereka sedang mem
