News

Penggratisan Taman Tegallega Dikaji – Penutupan Alun-Alun Bandung Belum Jelas Sampai Kapan

Penggratisan Taman Tegallega Dikaji, Penutupan Alun-Alun Bandung Belum Jelas Sampai Kapan Penggratisan Taman Tegallega Dikaji - Dalam rangka meningkatkan

Desk News
Published Juni 19, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Penggratisan Taman Tegallega Dikaji, Penutupan Alun-Alun Bandung Belum Jelas Sampai Kapan

Penggratisan Taman Tegallega Dikaji – Dalam rangka meningkatkan aksesibilitas ruang publik bagi warga Bandung, Pemkot Bandung sedang mengevaluasi kemungkinan pemberian akses gratis ke Taman Tegallega. Langkah ini dilakukan setelah adanya laporan dan video viral di media sosial yang menyoroti dugaan pungutan liar (pungli) yang dialami pengunjung saat memasuki kawasan tersebut. Meski rencana ini masih dalam proses pembahasan, warga mulai berharap adanya perubahan kebijakan yang akan mengurangi beban pengeluaran untuk penggunaan ruang hijau.

Video yang beredar di media sosial mengungkap situasi di mana sejumlah pengunjung di Taman Tegallega melaporkan adanya biaya tambahan yang dikenakan secara tidak transparan. Dalam beberapa kasus, pengunjung mengaku dikenai retribusi di luar tarif resmi yang telah ditentukan. Hal ini memicu pertanyaan tentang efektivitas pengelolaan ruang publik dan keadilan dalam pemberian akses.

“Nah, cuma saya lagi kaji bagaimana caranya supaya bisa gratis, karena itu ternyata ada perwalnya. Saya sedang mempelajari dulu aturan itu untuk kemudian bisa dicabut, mudah-mudahan bisa gratis ya,”

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengungkapkan, retribusi sebesar Rp2.000 untuk masuk Taman Tegallega berdasarkan Peraturan Wali Kota (Perwal) Kota Bandung. Ia menegaskan bahwa keputusan untuk menggratiskan akses tidak berarti mengabaikan pengelolaan kawasan, tetapi lebih pada upaya memastikan seluruh masyarakat dapat menikmati fasilitas rekreasi tanpa hambatan finansial. Farhan menyebutkan, meski tarif saat ini tetap berlaku, pihaknya sedang mencari solusi agar kebijakan ini bisa diubah.

Taman Tegallega, yang merupakan salah satu destinasi favorit warga Kota Bandung, memiliki peran penting sebagai ruang terbuka hijau yang berfungsi multifungsi. Selain sebagai tempat bermain dan bersantai, kawasan ini juga menjadi lokasi untuk berbagai aktivitas seperti olah raga, pertemuan sosial, serta kegiatan budaya. Dengan fungsi yang beragam, kawasan tersebut memerlukan penataan yang lebih komprehensif agar bisa dinikmati secara optimal oleh semua kalangan.

Farhan menambahkan, langkah menggratiskan akses ke Taman Tegallega akan lebih baik jika dilakukan secara bertahap dan disertai evaluasi terhadap pengelolaan keuangan. “Kita ingin masyarakat memiliki kesempatan merasakan manfaat ruang publik tanpa harus memikirkan biaya masuk,” ujarnya. Namun, ia juga menyatakan bahwa keputusan akhir masih tergantung pada hasil studi yang sedang dijalankan oleh tim teknis.

Dalam konteks ini, penutupan Alun-Alun Bandung yang sempat terjadi beberapa waktu lalu masih menjadi perdebatan. Meski ada tindakan pembatasan pengunjung untuk mencegah kerumunan, batas waktu penutupan tersebut belum ditetapkan secara jelas. Sejumlah warga mengeluhkan ketidakpastian ini, karena Alun-Alun Bandung sering digunakan sebagai tempat keramaian dan kegiatan budaya.

Berdasarkan informasi terbaru, Pemkot Bandung sedang mempertimbangkan perubahan kebijakan terkait akses ke Alun-Alun Bandung. Ada rencana untuk membuka kembali area tersebut dengan protokol kesehatan yang ketat, tetapi langkah ini memerlukan persetujuan dari dinas terkait. “Penutupan Alun-Alun Bandung juga sedang dikaji, tapi sampai saat ini belum ada keputusan final,” kata sumber pemerintah setempat.

Penggratisan Taman Tegallega dan Alun-Alun Bandung menjadi dua isu yang saling berkaitan. Keduanya berperan penting dalam memperkaya kehidupan sosial masyarakat. Taman Tegallega, misalnya, tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui warung dan usaha kecil yang beroperasi di sekitarnya. Sementara itu, Alun-Alun Bandung sering menjadi pusat perayaan budaya dan kegiatan komunitas.

Menurut Farhan, pihaknya berharap kebijakan penggratisan bisa menjadi langkah awal dalam merangsang penggunaan ruang publik secara lebih luas. “Tujuannya agar seluruh warga, terutama masyarakat ekonomi menengah dan rendah, bisa merasakan manfaat dari fasilitas ini tanpa kesulitan finansial,” jelasnya. Ia menekankan bahwa penggratisan ini tidak akan menghilangkan tanggung jawab pengelolaan, tetapi akan memperluas aksesibilitas dan keadilan.

Dalam beberapa hari terakhir, berbagai pihak mulai menyampaikan masukan terkait rencana penggratisan. Beberapa warga menyatakan dukungan, sementara yang lain meminta evaluasi lebih lanjut terhadap dampaknya terhadap pendapatan daerah. Sejumlah organisasi masyarakat dan akademisi juga menyoroti perlunya transparansi dalam penerapan peraturan serta pengawasan yang ketat untuk mencegah praktik pungli.

Sementara itu, pengelolaan Taman Tegallega sendiri masih menjadi fokus pembahasan. Dengan biaya masuk yang diperkirakan akan dihapuskan, pihaknya menyiapkan skenario untuk memastikan keuangan kawasan tetap stabil. “Jika biaya masuk dihilangkan, kita harus menemukan sumber pendapatan lain, seperti sponsor atau program pemerintah,” tutur Farhan. Ia menambahkan bahwa keputusan akhir akan diumumkan setelah semua aspek diseimbangkan.

Di sisi lain, situasi di Alun-Alun Bandung juga dinilai penting untuk diperbaiki. Area ini memiliki fungsi sebagaimana mestinya sebagai ruang publik yang terbuka, tetapi sejumlah kebijakan pembatasan yang diterapkan sebelumnya menyebabkan ketidaknyamanan. “Kita ingin menjadikan Alun-Alun Band

Leave a Comment