News

Sebulan Usai Diangkut – Tumpukan Sampah Kembali Tampak di TPS Baleendah

embali Tampak di TPS Baleendah Sebulan Usai Diangkut - Sebulan setelah tumpukan sampah di sekitar TPS Pasar Baleendah, Kabupaten Bandung, diangkat, kondisi

Desk News
Published Juni 1, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Sebulan Usai Diangkut, Tumpukan Sampah Kembali Tampak di TPS Baleendah

Sebulan Usai Diangkut – Sebulan setelah tumpukan sampah di sekitar TPS Pasar Baleendah, Kabupaten Bandung, diangkat, kondisi lingkungan di area tersebut kembali memburuk. Sampah yang sebelumnya berhasil dibersihkan oleh petugas kebersihan kini kembali menumpuk, menciptakan aroma tidak sedap dan memperparah keadaan kumuh. Warga yang tinggal di sekitar lokasi menyampaikan kekecewaan mereka terhadap tata kelola sampah yang tidak memadai. Mereka mengeluh bahwa keberadaan sampah tersebut mengganggu aktivitas sehari-hari dan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.

Situasi Sampah yang Menggantung

Kebiasaan membuang sampah secara sembarangan tampak masih berlanjut, meski ada upaya pembersihan rutin. Pihak TPS mencoba menindak tegas para pengguna sampah, namun hasilnya belum optimal. Beberapa warga mengungkapkan bahwa sampah yang terlihat kembali di lokasi justru mengkhawatirkan, terutama karena mengandung bahan organik yang membusuk dan menarik serangga-serangga pengganggu. Selain itu, munculnya belatung di sekitar area kerja pedagang semakin memperburuk situasi, mengingat sebagian besar dari mereka mengandalkan lokasi tersebut sebagai tempat usaha.

Permasalahan Kebersihan dan Tindakan Pemangku Kepentingan

Masalah kebersihan di TPS Baleendah bukan hanya terkait pengelolaan sampah yang tidak teratur, tetapi juga menyangkut komitmen pemangku kepentingan dalam menjaga kebersihan. Kodari, seorang pekerja angkut di Pasar Baleendah, menjelaskan bahwa biaya kebersihan tetap harus dibayarkan oleh para pedagang, meski tumpukan sampah belum sepenuhnya hilang. “Para pedagang diwajibkan membayar uang kebersihan secara berkala, namun pengumpulan dana ini belum cukup untuk mencegah masalah berkelanjutan,” tambahnya. Ia menambahkan bahwa meski ada rencana pengangkutan rutin, sistem pengelolaan sampah masih membutuhkan penyesuaian.

“Persoalannya bukan hanya tumpukan berikut baunya yang tak sedap, banyak belatung merayap ke jongko-jongko pedagang setempat. Pada sisi lain, pedagang mesti terus membayar uang kebersihan.”

Kodari menyoroti bahwa keberadaan belatung yang menggerogoti sampah menjadi ancaman terhadap barang dagangan para pedagang. Belatung tersebut diperkirakan menyebabkan kerusakan pada bahan-bahan yang disimpan di stan mereka, termasuk makanan atau produk makanan yang tersisa. Dengan situasi seperti ini, beberapa warga mengatakan bahwa mereka menginginkan solusi yang lebih konkrit untuk mengatasi masalah yang terus berulang. Kebutuhan akan pengelolaan sampah yang lebih efektif menjadi isu utama yang dibahas dalam pertemuan rutin warga pasar.

Kebutuhan Solusi Berkelanjutan

Warga Pasar Baleendah meminta adanya langkah-langkah yang lebih jelas untuk mencegah penumpukan sampah di masa depan. Mereka menyarankan penambahan tempat sampah di area yang lebih strategis, serta pengawasan lebih ketat terhadap pembuangan sampah oleh para pedagang. “Kami berharap ada pengelolaan sampah yang lebih baik, agar tidak lagi terjadi situasi seperti ini,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan nama. Ia menambahkan bahwa jika tidak ada perubahan, sampah yang menumpuk akan mengurangi daya tarik pasar tersebut.

Pemangku kepentingan, termasuk pengelola TPS dan pemerintah setempat, dinilai perlu berkolaborasi lebih erat untuk mengatasi masalah ini. Kodari menjelaskan bahwa biaya kebersihan yang diterima saat ini masih terbatas, sehingga kebutuhan akan pengangkutan tambahan dan pengelolaan sampah yang lebih intensif menjadi penting. Selain itu, kampanye kesadaran lingkungan kepada masyarakat di sekitar pasar juga dianggap sebagai bagian dari solusi jangka panjang. “Masyarakat harus terlibat aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan, agar perubahan bisa tercapai,” tambahnya.

Analisis dan Dampak terhadap Lingkungan

Sampah yang menumpuk di TPS Baleendah tidak hanya mengganggu estetika pasar, tetapi juga berdampak negatif terhadap kesehatan warga sekitar. Bau tidak sedap yang berasal dari sampah organik berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan dan infeksi saluran pernapasan. Selain itu, penumpukan sampah mempercepat proliferasi serangga dan hama yang bisa merusak barang dagangan serta menimbulkan risiko kesehatan. Untuk mengatasi hal ini, beberapa warga menyarankan penggunaan tempat sampah yang berbeda dari yang digunakan oleh pedagang, sehingga meminimalisir pengumpulan sampah yang terlalu padat.

Keberhasilan pengelolaan sampah sebelumnya menjadi contoh bahwa masalah ini bisa teratasi dengan kerja sama yang baik. Namun, ketidaktepatan dalam penerapan kebijakan dan keterbatasan dana masih menjadi hambatan. Kodari menekankan bahwa biaya kebersihan yang dikeluarkan oleh pedagang tidak cukup mengimbangi jumlah sampah yang dihasilkan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kapasitas pengangkutan dan penerapan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern. “Jika dana bisa dialokasikan lebih efektif, kita bisa mencegah sampah dari menumpuk kembali,” katanya.

Harapan untuk Perbaikan

Menyikapi situasi yang terjadi, warga Pasar Baleendah menyatakan harapan mereka untuk adanya perbaikan. Mereka ingin pemerintah dan pengelola TPS berkomitmen untuk memberikan solusi yang jangka panjang, bukan hanya tindakan sementara. “Sampah yang menumpuk ini memang masalah sehari-hari, tapi kita butuh strategi yang lebih canggih,” ujar salah satu warga yang aktif dalam kegiatan lingkungan. Ia menambahkan bahwa jika perubahan tidak terjadi, kondisi pasar akan terus memburuk dan memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat.

Di sisi lain, para pedagang juga mengungkapkan bahwa mereka bersedia berkontribusi lebih besar jika ada sistem pengelolaan sampah yang jelas. Kodari menyarankan adanya program penghargaan bagi pedagang yang membuang sampah secara tepat, serta penegakan sanksi yang lebih tegas bagi pelaku pemborosan. “Pemborosan sampah ini harus diperketat, agar tidak terulang lagi,” pungkasnya. Dengan penyesuaian kebijakan dan peningkatan kesadaran, TPS Baleendah bisa menjadi contoh baik dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Namun, sampai saat ini, progres yang terjadi masih belum signifikan.

Leave a Comment