Meeting Results: Kolaborasi Polisi dan TNI Respons Laporan Warga soal PETI, 12 Rakit Dibakar
Kolaborasi Polisi dan TNI Tanggap Cepat terhadap Laporan Ilegal Gold Mining di Kuantan Singingi
Meeting Results – Kuantan Singingi, 28 April 2026 – Peristiwa penambangan emas ilegal (PETI) yang mencemari lingkungan dan mengganggu aktivitas pertanian koperasi menjadi sorotan setelah terungkap selama pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Timbul Sakato. Rapat tersebut berlangsung di Kantor Desa Tanjung Pauh, Kecamatan Singingi Hilir, pada Selasa (28/4/2026), di mana beberapa anggota koperasi mengungkapkan adanya aktivitas yang merusak tanah sawit mereka. Kepolisian dan TNI langsung bergerak untuk menangani laporan tersebut, menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga keamanan dan kelestarian lingkungan.
Penyelidikan di Lokasi Penambangan
Setelah menerima informasi dari anggota koperasi, Kapolsek Singingi Hilir Iptu Alferdo Krisnata Kaban dan Danramil 09 Singingi Kapten Inf Ardi Yasman mengambil langkah taktis. Mereka melakukan inspeksi langsung ke lokasi penambangan yang disebutkan, yang terletak di area perkebunan sawit milik koperasi. Tim gabungan yang terdiri dari personel kepolisian dan TNI berangkat ke lokasi tanpa menunggu waktu, sekitar pukul 13.00 WIB, untuk memastikan tidak ada kegiatan ilegal yang terus berlangsung.
Ketika tiba di lokasi, petugas menemukan 12 unit rakit PETI yang sedang terparkir. Rakit-rakit tersebut terlihat dalam kondisi tidak aktif, tanpa pekerja atau aktivitas tambang yang berjalan. Meski tidak ada aktivitas di sana, petugas tetap melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan tidak ada barang bukti yang terlewat. Selain itu, mereka juga mengamati kondisi sekitar agar bisa mengetahui tingkat kerusakan yang telah terjadi.
Upaya Pemusnahan untuk Mencegah Kembali Aktivitas Ilegal
Sebagai langkah pencegahan, petugas memutuskan untuk menghancurkan rakit-rakit tersebut di tempat ditemukan. Pemusnahan dilakukan dengan cara membakar 12 unit rakit yang ditemukan. Tindakan ini diambil untuk memastikan peralatan tambang ilegal tidak digunakan kembali oleh pelaku. Proses pembakaran berlangsung secara cepat, mengingat keberadaan rakit masih terdeteksi sebelumnya.
Dalam konferensi persnya, AKBP Hidayat Perdana, yang juga menjabat sebagai Kepala Polda Riau, mengatakan bahwa respons cepat dari kepolisian dan TNI menjadi bukti komitmen kuat dalam menjaga lingkungan sekitar. “Pemusnahan rakit PETI di tempat ditemukan merupakan bagian dari program Green Policing yang kami terapkan untuk melindungi keamanan dan ekosistem wilayah Kuantan Singingi,” jelasnya.
“Kami mengapresiasi masyarakat yang berani melapor. Sinergi antara TNI, Polri, dan pengurus koperasi dalam RAT ini menunjukkan bahwa pengawasan partisipatif sangat efektif untuk memberantas praktik ilegal yang merusak lingkungan,” tambah AKBP Hidayat.
Aktivitas PETI kerap memicu masalah lingkungan, seperti erosi tanah dan pencemaran air. Dengan menghancurkan rakit secara langsung, petugas berharap mengurangi risiko terjadinya kegiatan tambang ilegal di kawasan tersebut. Meski saat ini belum ada pelaku yang ditangkap, upaya pencegahan ini dianggap sebagai langkah strategis untuk mencegah penambangan emas secara tidak resmi terus berlanjut.
Komitmen terhadap Pengelolaan Sumber Daya Alam
Program Green Policing yang dijalankan Polda Riau memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian lingkungan. Kebijakan ini tidak hanya fokus pada penegakan hukum, tetapi juga memprioritaskan keterlibatan masyarakat dalam pengawasan. Koperasi Timbul Sakato menjadi contoh nyata bagaimana warga dapat berperan aktif dalam melindungi kepentingan bersama.
Kolaborasi antara kepolisian dan TNI dalam kejadian ini menunjukkan sinergi yang kuat dalam menghadapi tantangan lingkungan. Setiap tim memiliki peran yang berbeda, tetapi tujuan mereka sama: mencegah kerusakan terhadap lahan pertanian dan memastikan keberlanjutan pengelolaan sumber daya alam. AKBP Hidayat menegaskan bahwa keberhasilan program tersebut bergantung pada partisipasi masyarakat dan koordinasi yang baik antarlembaga.
Salah satu keunikan dari tindakan ini adalah penggunaan teknik pemusnahan rakit di lokasi kejadian. Kebiasaan ini dilakukan untuk memastikan bahwa peralatan tambang ilegal tidak bisa dioperasikan lagi. Polda Riau juga berencana untuk meningkatkan kegiatan pemantauan rutin, terutama di daerah-daerah yang rawan PETI. “Kita akan terus memantau kondisi lokasi tersebut, agar tidak ada kegiatan yang kembali muncul,” lanjut AKBP Hidayat.
Peran Warga dalam Melindungi Lingkungan
Keterlibatan masyarakat dalam laporan penyelidikan membuktikan bahwa partisipasi warga menjadi salah satu kunci dalam memerangi praktik ilegal. Laporan dari anggota koperasi menjadi trigger yang memicu aksi cepat dari lembaga pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan warga terhadap sistem penegakan hukum masih tinggi, meskipun ada kejadian-kejadian yang menunjukkan adanya korupsi atau kelalaian pihak-pihak terkait.
AKBP Hidayat juga menyoroti pentingnya pemberdayaan masyarakat dalam menjaga lingkungan. “Melalui RAT, kita memberikan ruang bagi warga untuk menyampaikan laporan, sehingga masalah-masalah yang terjadi di sekitar mereka bisa segera ditangani,” katanya. Koperasi Timbul Sakato, sebagai salah satu lembaga pengelola lahan pertanian, menjadi tempat yang strategis dalam mengumpulkan data dan mengawasi aktivitas di sekitar area kebun.
Pembangunan berkelanjutan tidak bisa tercapai jika tidak ada kegiatan yang mengganggu ekosistem. PETI, yang seringkali dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak memiliki izin, merusak tanah pertanian dan mencemari air tanah. Dengan upaya pencegahan seperti pembakaran rakit, Polda Riau berusaha melindungi keberlanjutan lingkungan serta mengurangi dampak negatif dari aktivitas tambang ilegal. Ini merupakan salah satu dari beberapa langkah yang telah diambil dalam beberapa bulan terakhir untuk mengatasi masalah tersebut.
Kolaborasi antara TNI dan Polri dalam penanggulangan PETI menjadi keunggulan dalam upaya melindungi kepentingan bersama. Mereka tidak hanya bergerak secara individu, tetapi juga bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang lebih luas. Dalam kejadian ini, sinergi tersebut membantu mempercepat proses penyelidikan dan menunjukkan respons cepat dalam menangani isu lingkungan yang mengemuka.
