Topics Covered: Terima Raja Charles, Trump Puji Inggris Teman Dekat di Tengah Konflik Iran
Kunjungan Raja Charles III ke AS: Trump Puji Inggris Sebagai Sahabat yang Teguh
Topics Covered – Selasa (28/4/2026), Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, menyambut kunjungan resmi Raja Charles III ke Gedung Putih. Meski terjadi di tengah ketegangan politik yang terus memanas antara AS dan Iran, Trump menegaskan bahwa hubungan antara dua negara tersebut tetap utuh. Pidato yang ia sampaikan selama acara tersebut mencerminkan komitmen AS terhadap kekhasan ikatan dengan Inggris, yang disebut sebagai teman dekat sejak era kemerdekaan.
Perbedaan Pidato Trump dari Kritik Terhadap Inggris
Dilansir AFP, Trump membagikan ceramah dalam acara kenegaraan tersebut, yang berbeda dari serangkaian kritik yang belakangan ditujukan pada pemerintah Inggris. Negara tersebut dulu dianggap sebagai sekutu yang setia dalam konflik dengan Iran, namun sekarang menjadi sasaran protes karena menolak bergabung dalam upaya militer AS melawan Teheran. Namun, dalam sambutan kepada Raja Charles, Trump justru menyoroti keharmonisan yang terus berlangsung antara kedua negara.
“Selama ratusan tahun sejak kita meraih kemerdekaan, tidak pernah ada negara yang lebih dekat dengan Amerika daripada Inggris,” kata Trump, yang mengingat peran Inggris dalam sejarah kolonial AS. Ia menambahkan, kunjungan ini menandai peringatan 250 tahun deklarasi kemerdekaan koloni, sebuah simbol hubungan yang tidak pernah pudar.
Trump menekankan bahwa AS dan Inggris memiliki hubungan yang unik, dengan sifat kerja sama yang konsisten sejak masa lalu. Ia menyatakan, “Kedua bangsa kita selalu mampu bersatu dalam menghadapi tantangan,” meskipun kini persaingan geopolitik terasa lebih intens. Pidatonya diakhiri dengan pujian terhadap militer Inggris, meskipun sebelumnya ia mengkritik dua kapal induk negara tersebut sebagai “mainan” yang tidak memadai. “Mereka adalah tentara yang luar biasa,” ujarnya, sambil menekankan pentingnya kerja sama dalam operasi militer.
Peristiwa Kehidupan Selama Kunjungan
Sebagai bagian dari sambutan, empat jet militer AS melakukan atraksi udara di atas Gedung Putih, menambah kesan megah dalam acara tersebut. Raja Charles III, Ratu Camilla, serta Ibu Negara Melania Trump menikmati pemandangan tersebut sambil menunggu berbagai kegiatan seremonial. Keamanan diperketat untuk kunjungan ini, yang terjadi beberapa hari setelah insiden penembakan di acara Jamuan Makan Malam Koresponden Gedung Putih yang melibatkan Trump.
Hari pertama perjalanan menampilkan suasana yang lebih santai, dengan keluarga Trump memperkenalkan Raja Charles dan Camilla ke ruang makan Gedung Putih. Mereka menyajikan teh dan kue sebagai bagian dari sambutan pribadi. Selain itu, mereka juga mengajak Raja Charles dan Camilla melihat sarang lebah di halaman Gedung Putih, sebuah kegiatan yang menunjukkan upaya menghangatkan hubungan secara personal.
Harapan dan Tantangan dalam Pertemuan Politik
Pada hari kedua, Raja Charles III diperkirakan akan berpidato di Kongres AS, di mana ia kemungkinan besar akan menyerukan “rekonsiliasi dan pembaruan” untuk memperkuat hubungan bilateral. Acara ini berlangsung di tengah situasi yang sangat sensitif, karena Trump sebelumnya menyampaikan kemarahan atas penolakan Inggris untuk berpartisipasi dalam perang melawan Iran.
Dalam pidatonya, Charles diperkirakan akan berusaha menenangkan Trump dengan menekankan nilai-nilai demokrasi yang sama. “Berkali-kali, kita selalu menemukan jalan untuk bersatu,” ujarnya, sambil menyatakan bahwa mendukung aspirasi demokratis bersama adalah “kunci bagi kebebasan dan kesetaraan.” Meski demikian, ia harus menghadapi tantangan besar untuk menjaga kesepahaman politik yang rentan terhadap perubahan arah.
Kunjungan ini menjadi momen penting bagi Inggris, yang sejak beberapa bulan lalu menjadi korban kritik tajam dari Trump terkait kebijakan migrasi dan energi mereka. Meski Perdana Menteri Keir Starmer terus memperkuat hubungan bilateral, Trump sering menyebutkan bahwa negara tersebut berada di posisi yang “tidak setia” dalam beberapa isu krusial. Namun, dalam pertemuan dengan Charles, ia memilih untuk menekankan kesetiaan historis, yang dianggap sebagai fondasi dari kerja sama saat ini.
Konteks Konflik Iran dan Konsensus Internasional
Di tengah konflik dengan Iran yang semakin berlarut, Trump menganggap Inggris sebagai pendukung yang konsisten. Ia mengatakan bahwa London tetap menjadi “sahabat yang bisa diandalkan,” meskipun memilih untuk tidak mengambil sisi satu arah dalam perang tersebut. “Kita perlu bertindak bersama, tetapi juga berpikir secara independen,” demikian penjelasannya, menunjukkan bahwa hubungan AS-Inggris tidak sepenuhnya tergantung pada sikap terhadap Iran.
Sebagai bagian dari dialog politik, Trump menyoroti kebijakan energi Inggris sebagai contoh keberhasilan. Ia menilai bahwa negara tersebut menunjukkan kemampuan mengelola perubahan global dengan cara yang lebih terbuka. “Mereka membuktikan bahwa bisa bersaing dalam dunia modern tanpa mengorbankan prinsip,” ujarnya. Sementara itu, Raja Charles III berharap bahwa persetujuan Inggris untuk menolak bantuan militer bisa menjadi titik awal bagi diskusi yang lebih luas.
Sambutan Formal dan Kedekatan Diplomatik
Acara tersebut diakhiri dengan serangkaian jabat tangan antara Trump dan pejabat utama Inggris, termasuk Wakil Presiden JD Vance serta Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Interaksi ini mencerminkan upaya diplomatik untuk mengembalikan kepercayaan, setelah beberapa waktu terakhir hubungan AS-Inggris mulai tergores karena keputusan London dalam menghadapi konflik Iran.
Sebagai bagian dari upacara, Trump menekankan bahwa Inggris tetap menjadi partner yang tak tergantikan. “Kita memiliki kepercayaan yang tak tergoyahkan, meskipun terkadang terdapat perbedaan pendapat,” katanya, yang menunjukkan bahwa konflik adalah bagian dari dinamika hubungan bilateral. Ia berharap pertemuan ini mampu membentuk kesepakatan jangka panjang, meskipun ancaman dari Republikan yang cenderung reaktif masih mengintai.
Konsistensi dalam Peran Inggris dan Harapan Trump
Dalam pidatonya, Trump juga menyoroti keberhasilan Inggris dalam mengelola krisis internasional. Ia mengatakan bahwa negara tersebut adalah contoh bagus tentang bagaimana “kesetiaan dan kerja sama bisa tetap berlangsung meskipun ada tekanan.” Sementara itu, Charles berharap bahwa kesempatan ini bisa menjadikan AS dan Inggris sebagai pemimpin dalam upaya perdamaian di Timur Tengah.
Pertemuan ini mengingatkan pada pentingnya hubungan antara kedua negara, terlepas dari perbedaan pandangan di beberapa isu. Meskipun Trump sempat mengecam kebijakan migrasi Inggris, ia menegaskan bahwa nilai-nilai demokrasi dan kebebasan tetap menjadi fondasi utama dari kerja sama. “Kita berbagi visi yang sama, meskipun
