Strategi Penting: PLN EPI kembangkan gasifikasi biomassa di wilayah terpencil

PLN EPI Luncurkan Gasifikasi Biomassa untuk Dukung Energi Terbarukan di Wilayah Terpencil

Di Jakarta, PLN EPI mengupayakan pengembangan teknologi gasifikasi biomassa sebagai bagian dari strategi percepatan dedieselisasi, khususnya di daerah-daerah yang belum memiliki akses ke jaringan listrik interkoneksi. Langkah ini diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan PT Karimun Power Plant (KPP), yang menandai kolaborasi untuk menerapkan sistem syngas berbasis bahan bakar organik.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, dalam pernyataannya Rabu lalu, menekankan bahwa penggunaan biomassa tidak hanya menjadi pilihan alternatif, tetapi juga komponen integral dari ekosistem energi baru terbarukan (EBT). Ia menyampaikan bahwa potensi biomassa nasional mencapai sekitar 80 juta ton per tahun, namun saat ini baru sebagian kecil, yaitu 20 juta ton, yang dimanfaatkan. “Masih ada peluang besar untuk memaksimalkan sumber daya ini demi meningkatkan ketahanan energi,” ujarnya.

“Potensi biomassa nasional mencapai sekitar 80 juta ton, namun baru dimanfaatkan 20 juta ton. Artinya, masih ada peluang besar yang bisa dioptimalkan untuk mendukung ketahanan energi nasional,”

Menurut Hokkop, keberhasilan transisi energi memerlukan pendekatan yang lebih luas. Dengan gasifikasi biomassa, PLN EPI berupaya mengembangkan jalur baru pemanfaatan bahan bakar, baik untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) maupun sistem listrik terisolasi. “Ini menjadi solusi konkret bagi daerah terpencil yang bergantung pada bahan bakar solar, sekaligus membantu mengurangi emisi dan biaya operasional,” tambahnya.

Kerja sama ini diawali dengan proyek percontohan di Karimun, Kepulauan Riau, yang saat ini memiliki kapasitas produksi 1 megawatt (MW) dan bisa ditingkatkan hingga 2-5 MW. Arthur Palupessy, Direktur KPP, menjelaskan bahwa perusahaan memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun dalam operasi pembangkit diesel. Namun, transisi ke biomassa menghadirkan tantangan utama, yakni kepastian harga dan pasokan bahan baku.

“Kami sudah terbiasa dengan sistem diesel yang memiliki standar biaya jelas. Tantangannya di biomassa adalah memastikan harga dan pasokan tetap stabil agar operasional tetap feasible,”

Arthur menambahkan bahwa untuk mengoperasikan pembangkit 1 MW, diperlukan pasokan biomassa sebanyak 35 ton per hari. “Jika pasokan dan harga bisa dijaga stabil, gasifikasi biomassa akan menjadi solusi yang sangat kompetitif dibandingkan bahan bakar diesel,” jelasnya. Selain menghasilkan energi listrik, proyek ini juga berpotensi menghasilkan produk turunan seperti biochar, yang memiliki nilai ekonomi tambahan.

PLN EPI berperan sebagai aggregator dan pengembang ekosistem biomassa, mulai dari pemetaan sumber bahan baku hingga distribusi syngas. Target jangka panjang perusahaan adalah mereplikasi model ini di sekitar 200 lokasi PLTD di seluruh Indonesia, sebagai bagian dari upaya menekan konsumsi solar dan mempercepat transisi menuju energi bersih pada 2060.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *