Hasil Pertemuan: Australia ingin pastikan Selat Hormuz tetap terbuka
Australia ingin pastikan Selat Hormuz tetap terbuka
Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel semakin memicu kekhawatiran terhadap kestabilan jalur perairan strategis Selat Hormuz. Pemerintah Australia, melalui Menteri Pertahanan Richard Marles, menegaskan komitmen untuk menjaga jalur tersebut tetap terbuka. Menurut Marles, gangguan dalam distribusi bahan bakar global berdampak besar, sehingga pihaknya berupaya memastikan alur laut kembali lancar.
Marles menuturkan bahwa Australia bekerja sama dengan mitra-mitranya untuk mengatasi situasi di Selat Hormuz. “Kita perlu mengamati kondisi selama sisa masa gencatan senjata dan mengupayakan langkah-langkah yang tepat,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa negara ini hanya akan terlibat dalam upaya mengembalikan kebebasan pelayaran jika kesepakatan gencatan senjata dianggap permanen.
“Kami sangat berkomitmen untuk memastikan Selat Hormuz tetap terbuka dan rantai pasokan bahan bakar global kembali normal,” kata Marles, seperti dilaporkan Sky News Australia.
Iran mengendalikan sekitar 20 persen dari total produksi minyak dunia melalui Selat Hormuz. Sejak konflik dengan AS dan Israel memanas pada 28 Februari, pihak Iran membatasi akses kapal-kapal yang melintasi jalur tersebut. Sebagai respons, AS menerapkan blokade laut terhadap pelabuhan Iran, yang berdampak pada perjalanan kapal di wilayah Teluk Persia dan Teluk Oman.
Selama blokade, CENTCOM AS menyatakan bahwa semua kapal, termasuk dari negara-negara lain, akan dikenai pembatasan. Namun, kebebasan pelayaran bagi kapal yang berangkat ke pelabuhan selain Iran tetap terjaga. Australia akan berpartisipasi dalam pertemuan tingkat tinggi yang diadakan oleh Inggris dan Prancis akhir pekan ini untuk membahas perlindungan transportasi kapal di wilayah kritis tersebut.
