Key Discussion: Ketahanan Nasional di Era Fragmentasi Global
Key Discussion – Kondisi dunia internasional saat ini menghadapi tantangan yang semakin rumit dan tidak menentu. Perpecahan atau fragmentasi global menjadi fenomena yang nyata dan dirasakan oleh berbagai negara. Pernyataan ini disampaikan oleh Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia, Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., dalam acara pembukaan Jakarta Geopolitical Forum X/2026. Acara tersebut berlangsung di Auditorium Binakarna, Bidakara, Jakarta, pada hari Kamis tanggal 9 Juli 2026. Forum ini menjadi salah satu Key Discussion penting yang membahas arah kebijakan nasional di tengah ketidakpastian global.
Menurut Ace, dinamika global yang terjadi bukan hanya masalah diplomatik yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Justru, hal ini menyentuh langsung ketahanan hidup masyarakat Indonesia. Fragmentasi global memberikan dampak nyata di berbagai sektor penting. Sektor perdagangan, investasi, keamanan energi, ketahanan pangan, lapangan kerja, standar teknologi, tata kelola data pemerintah, hingga keamanan infrastruktur kritis semuanya terdampak. Key Discussion ini menyoroti bagaimana setiap negara harus mempersiapkan diri menghadapi perubahan yang cepat.
“Fragmentasi global sangat dirasakan dalam sektor perdagangan, investasi, keamanan energi, ketahanan pangan, lapangan kerja, standar teknologi, tata kelola data pemerintah, hingga keamanan infrastruktur kritis. Oleh karena itu, membahas geopolitik juga berarti membahas ketahanan sehari-hari rakyat Indonesia dan kapasitas strategis negara kita,”
Tema Besar Forum: Bertahan di Tengah Turbulensi Global
Forum kali ini mengangkat tema besar bertajuk “Strengthening Multilateralism: Survival Amid Global Turbulence and a Fragmented World”. Tema tersebut mencerminkan keprihatinan bersama bahwa multilateralisme, yang selama ini berfungsi sebagai pilar tata kelola global, kini berada di bawah tekanan logika kekuasaan, proteksionisme strategis, dan persaingan ekosistem teknologi. Key Discussion ini menjadi momen strategis bagi para pemimpin dan pakar untuk menyelaraskan visi mereka.
Persaingan kekuatan besar atau major power competition menjadi salah satu faktor utama. Kebijakan proteksionis, rekonfigurasi rantai pasok, perebutan energi, rivalitas teknologi, hingga kerentanan siber turut membentuk kembali cara negara-negara melindungi kepentingan dan menjalankan pengaruhnya di kancah global. Hal ini menunjukkan bahwa dunia sedang mengalami transformasi signifikan dalam tata kelola hubungan internasional. Key Discussion tentang hal ini sangat relevan dengan kepentingan Indonesia.
“Oleh sebab itu, penguatan multilateralisme bukan sekadar pesan idealis. Bagi kekuatan kecil dan menengah, termasuk Indonesia, hal ini merupakan sebuah kebutuhan strategis,”
Ace menekankan bahwa multilateralisme yang kokoh harus ditopang oleh ketahanan di dalam negeri. Negara yang kuat secara internal akan memiliki posisi suara yang lebih kredibel di kancah eksternal. Ketahanan nasional itu sendiri membutuhkan ekonomi yang aman, rantai pasok dan energi yang andal, sumber daya manusia yang unggul, kesiapan digital, kohesi sosial, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi yang berlangsung cepat. Key Discussion ini juga membahas pentingnya investasi jangka panjang dalam pembangunan nasional.
Ace juga mengingatkan bahwa ketika aturan bersama melemah, pihak yang pertama kali terancam adalah mereka yang selama ini bergantung pada hukum, kerja sama, dan kepastian hukum. Karena itulah Indonesia terus menjunjung tinggi politik luar negeri yang bebas dan aktif. Indonesia bekerja sama dengan semua pihak, tidak didominasi oleh siapa pun, serta konsisten menempatkan kepentingan nasional, stabilitas kawasan, dan penghormatan terhadap hukum internasional dalam satu bingkai strategis yang sama. Key Discussion ini menegaskan posisi Indonesia sebagai pemain aktif di panggung dunia.
Diskusi Mendalam tentang Masa Depan Multilateralisme
Menjawab hal tersebut, forum ini menghadirkan Menteri Luar Negeri Sugiono sebagai pembicara kunci. Ia membahas tentang adaptasi strategis dan peluang di tengah melemahnya multilateralisme serta era persaingan kekuasaan. Diskusi kemudian dilanjutkan melalui tiga sesi pleno yang membedah penurunan multilateralisme di era multipolar. Key Discussion dalam setiap sesi memberikan wawasan berharga bagi para peserta.
Sesi pertama membahas dominasi kekuatan-kekuatan besar dan tantangan yang dihadapi norma-norma internasional. Sesi kedua membahas pergeseran ke arah proteksionisme strategis di sektor energi hijau, sistem keuangan, perdagangan internasional, dan rantai pasok regional. Sesi ketiga membahas isu teknologi global, bonus demografi, keamanan siber, kecerdasan buatan atau artificial intelligence, dan masa depan dunia kerja dalam ekonomi digital. Key Discussion ini menutup dengan rekomendasi konkret untuk kebijakan nasional.
Forum ini menjadi wadah penting bagi para pemangku kepentingan untuk berbagi perspektif dan strategi dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Dengan memperkuat multilateralisme dan ketahanan nasional, Indonesia berharap dapat tetap relevan dan berpengaruh dalam tata kelola global yang sedang berubah pesat. Key Discussion Jakarta Geopolitical Forum X/2026 ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi langkah-langkah selanjutnya dalam membangun ketahanan nasional yang tangguh.
