Kutu Beras Serbu Permukiman Warga Tunggakjati Karawang, Bulog Siapkan Fumigasi dan Fogging
Kutu Beras Serbu Permukiman Warga Tunggakjati – Kutu beras, serangga pengganggu yang kerap merusak kualitas beras, kini menjadi perhatian utama Perum BULOG di wilayah Karawang. Mereka berencana melakukan tindakan pencegahan melalui fumigasi dan fogging untuk mengurangi risiko penyebaran hama ini di dalam gudang serta sekitar area penyimpanan beras. Langkah ini diharapkan dapat menjaga kualitas bahan pokok tersebut sekaligus meminimalkan gangguan terhadap masyarakat sekitar.
Direktur Operasional Perum BULOG, Andi Afandi, menjelaskan bahwa fumigasi dan fogging akan dilakukan secara rutin sebagai bagian dari program perawatan gudang. “Kami akan melakukan pemeriksaan terhadap stok beras di gudang melalui teknik fumigasi menggunakan sulfur,” kata dia saat melakukan inspeksi langsung di kompleks pergudangan beras di Kelurahan Tunggakjati, Kecamatan Karawang Barat, pada hari Sabtu, 5 Juli 2026.
“Metode ini diterapkan sebagai bagian dari upaya pengendalian hama secara terpadu. Lokasi gudang yang dekat dengan permukiman warga membuat kita harus lebih intensif dalam mengatasi masalah ini,” ujar Andi Afandi.
Pengendalian kutu beras tidak hanya fokus pada lingkungan gudang, tetapi juga melibatkan kegiatan rutin di sekitarnya. Fumigasi merupakan proses pemberantasan hama dengan mengisi ruangan gudang menggunakan gas sulfur, yang dapat membunuh serangga secara efektif. Sementara fogging adalah teknik penyemprotan cairan insektisida untuk mencegah kemunculan kutu beras di area terbuka. Kedua metode ini dilakukan secara terpadu untuk memastikan pengendalian hama dilakukan dari berbagai sudut pandang.
Kutu beras, yang termasuk dalam genus Rice Weevil (Sitophilus oryzae), sering kali menyerang beras yang disimpan dalam jumlah besar. Jika tidak segera diperangi, hama ini dapat merusak kualitas beras, menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi petani dan masyarakat. Perum BULOG mengatakan bahwa tindakan fumigasi dan fogging merupakan langkah strategis untuk menjaga ketahanan pasokan beras di wilayah Karawang Barat.
Kelurahan Tunggakjati, yang menjadi lokasi utama gudang BULOG, memiliki permukiman warga yang sangat dekat dengan area penyimpanan beras. Hal ini menimbulkan risiko penyebaran kutu beras ke lingkungan warga, terutama saat musim penghujan yang memungkinkan serangga berpindah dari gudang ke permukiman. “Karena lokasi gudang berdekatan dengan rumah warga, maka kami harus lebih siap dan terus memantau keberadaan kutu beras,” tambah Andi Afandi.
Pelaksanaan fumigasi dan fogging akan dilakukan dalam beberapa tahap. Pertama, tim BULOG akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk memastikan kondisi gudang dan sekitarnya. Selanjutnya, proses pemberantasan hama akan dimulai dengan penggunaan gas sulfur di dalam gudang, lalu disusul dengan fogging di area sekitar sebagai bentuk pencegahan. Kegiatan ini akan dilakukan secara berkala untuk memastikan tidak ada kebocoran atau kembang keduluan dari hama.
Andi Afandi juga menyebutkan bahwa pengendalian kutu beras tidak hanya untuk menjaga kualitas beras, tetapi juga untuk menjaga kesehatan masyarakat sekitar. “Kami ingin menghindari risiko penyebaran kutu beras ke lingkungan warga, sehingga mereka tidak terganggu saat menyimpan beras di rumah,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa tindakan ini merupakan bagian dari kesadaran BULOG dalam menjaga kualitas produk yang disalurkan ke masyarakat.
Menurut sumber internal Perum BULOG, penanganan kutu beras telah menjadi prioritas selama beberapa bulan terakhir. Selain fumigasi dan fogging, pihaknya juga menerapkan metode pencegahan lain seperti perbaikan sistem penyimpanan beras, pengecekan rutin terhadap kondisi gudang, dan pendidikan bagi warga sekitar tentang cara menghindari infestasi kutu beras di lingkungan rumah. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan aman bagi masyarakat.
Kutu beras yang menyebar ke permukiman warga tidak hanya mengganggu proses penyimpanan beras, tetapi juga berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan. Serangga ini mampu menginfeksi beras dengan telur yang menetas menjadi larva, sehingga beras menjadi tidak layak dikonsumsi. Fumigasi dan fogging dianggap sebagai solusi yang paling efektif karena mampu membunuh kutu beras secara menyeluruh, baik yang ada di dalam gudang maupun di luar.
Andi Afandi menambahkan bahwa pengendalian hama ini tidak hanya untuk menjaga kualitas beras, tetapi juga untuk memastikan ketersediaan bahan pokok selama masa krisis. “Kutu beras dapat menyebabkan kerugian besar jika tidak diatasi secara tepat waktu. Dengan fumigasi dan fogging, kami yakin keberadaan hama ini bisa dikendalikan secara optimal,” ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa pihaknya akan bekerja sama dengan pihak terkait, termasuk pemerintah daerah, untuk memastikan kegiatan ini berjalan lancar.
Sebagai bentuk tanggung jawab sosial, Perum BULOG juga berencana memberikan bantuan bagi warga yang terdampak infestasi kutu beras. Bantuan tersebut berupa penyuluhan tentang cara menyimpan beras yang aman dan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk mencegah serangan serangga. “Kami ingin masyarakat lebih sadar akan pentingnya penyimpanan beras yang baik, agar tidak mengalami kerugian,” tutur Andi Afandi.
Dengan program fumigasi dan fogging yang diterapkan, Perum BULOG menargetkan pengurangan infestasi kutu beras hingga 90% dalam kurun waktu satu bulan. Hal ini akan menjadi indikator keberhasilan dalam upaya pengendalian hama. Selain itu, pihaknya juga berharap langkah ini dapat menjadi contoh terbaik bagi instansi lain dalam memastikan kualitas produk yang dikelola tetap terjaga.
