Hasil Pertemuan: Indonesia tegaskan komitmen transformasi sistem pemasyarakatan

Indonesia tegaskan komitmen transformasi sistem pemasyarakatan

Bali menjadi tempat penyelenggaraan Kongres Pemasyarakatan Dunia ke-7 yang menampilkan tema “Mewujudkan keadilan yang cerdas: Memulihkan hati dan menciptakan masyarakat yang lebih aman.” Acara ini dihadiri oleh 400 delegasi dari 44 negara, menandai upaya Indonesia dalam mendorong perubahan sistem pemasyarakatan menuju pendekatan yang lebih humanis serta berkelanjutan.

Dalam pembukaan kongres, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto mengungkapkan bahwa sistem pemasyarakatan kini lebih menekankan pada pemulihan daripada sekadar pemenjaraan. “Keadilan restoratif menjadi prioritas, karena hukum tidak lagi hanya berorientasi pada pembalasan, tetapi juga pada reintegrasi sosial,” tutur Agus, sebagaimana dilaporkan dalam keterangan resmi.

“Pemulihan tidak hanya melibatkan pelaku, tetapi juga korban serta masyarakat, sehingga mampu memperbaiki hubungan sosial yang terganggu,” kata mantan Wakapolri tersebut.

Agus menegaskan bahwa WCPP menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk menegaskan komitmen pada pendekatan keadilan restoratif. Ia menyoroti peran Balai Pemasyarakatan sebagai pusat pembinaan dan pengawasan, yang bertujuan memutus rantai residivisme serta menciptakan harmoni antara warga binaan dan penegak hukum.

Menurut Agus, kongres ini juga berfungsi sebagai forum strategis bagi para pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk berbagi pengalaman, merancang model pembinaan terbaik, dan menghasilkan rekomendasi berbasis praktik global. Ia menambahkan bahwa WCPP membuka peluang bagi Indonesia untuk mengambil masukan internasional, seiring pergeseran paradigma pemidanaan dari pemenjaraan ke pembinaan, pemulihan, dan kerja sosial.

Komitmen global terhadap kongres ini terlihat dari partisipasi delegasi yang mencakup praktisi, akademisi, dan pemangku kepentingan pemasyarakatan. Agus mengapresiasi dukungan Pemerintah Daerah Bali serta keterlibatan warga binaan dalam menyelenggarakan acara, termasuk melalui pameran produk-produk mereka. “Keterlibatan ini diharapkan menjadi semangat bagi warga binaan untuk terus produktif, sekaligus memperluas peluang pasar,” ujarnya.

Kongres berlangsung selama empat hari, mulai 14 hingga 17 April 2026. Agenda utama mencakup sesi pleno, diskusi tematik, serta pertukaran praktik terbaik. Acara ini juga bertujuan memperkuat kolaborasi internasional dan mendorong penerapan sistem keadilan yang lebih inklusif, adaptif, dan berorientasi pemulihan di berbagai negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *