Facing Challenges: Balita di Langkat Ditinju Ayah Tiri gegara Rewel, Ibunya Diikat Semalaman
Balita di Langkat Ditinju Ayah Tiri Gegara Rewel, Ibunya Diikat Semalaman
Facing Challenges – Kasus kekerasan terhadap anak kembali mengguncang Desa Lau Tepu, Kecamatan Salapian, Kabupaten Langkat. Seorang balita menjadi korban tinju dari ayah tirinya karena menunjukkan ketidakpuasan dengan kondisi yang dialaminya. Kapolres Langkat AKBP David Triyo Prasojo menjelaskan bahwa kejadian ini terjadi pada Rabu (29/4) pukul 01.00 WIB, tepatnya di lingkungan rumah korban dan pelaku. Menurutnya, korban mengalami trauma yang cukup dalam akibat perlakuan tersebut.
“Korban mengalami pukulan atau tinju menggunakan tangan kosong,” ujar AKBP David Triyo Prasojo, seperti dilansir detikSumut, Sabtu (9/5/2026).
Menurut sumber, insiden ini dimulai saat pelaku pulang bekerja dan menemukan kondisi di rumah yang tidak memadai. Ketersediaan makanan, air minum, dan gas LPG habis terpakai, sehingga memicu kekecewaan pelaku. Dalam situasi itu, pelaku mengambil tindakan keras untuk menyalurkan emosinya. Bukan hanya korban yang menjadi sasaran, ibu korban juga mendapat perlakuan serupa.
“Polres Langkat berkomitmen untuk memberikan pendampingan berkelanjutan kepada korban melalui Satgas Trauma Healing. Tujuannya adalah memulihkan kondisi psikologis anak secara bertahap dan menjamin perlindungan terhadap anak-anak,” terang AKBP David.
Kasat Reskrim Polres Langkat, AKP Ghulam Yanuar Lutfi, menambahkan bahwa anak yang menjadi korban mengalami sejumlah luka memar, termasuk di bagian mata, bibir, dan kepala. Sementara ibu korban mengalami kekerasan fisik berupa pukulan di area kepala sebanyak dua kali, ditambah diikat dengan tali ayunan sejak pukul 01.00 WIB hingga 08.00 WIB.
“Perbuatan kekerasan yang dialami oleh istri pelaku berupa pukulan pada kepala dan diikat dengan tali ayunan. Ini berlangsung sepanjang malam hingga pagi hari,” kata Ghulam.
Kasus ini semakin memperumit situasi karena pelaku tidak hanya mengalami kelelahan fisik, tetapi juga emosional. Menurut Ghulam, pelaku merasa kesal karena kondisi rumah yang kosong dari bahan makanan. Pemenuhan kebutuhan sehari-hari menjadi faktor pemicu utama dalam kejadian tersebut.
Dalam menjelaskan motivasi pelaku, Ghulam menuturkan bahwa situasi di rumah memicu emosi yang berlebihan. Saat pelaku pulang, kebutuhan dasar sudah habis. Ini membuatnya frustrasi, terutama saat korban menunjukkan kebiasaan rewel dan tidak mau tidur. “Ketidakpuasan anak dalam merespons perintah tidur memicu emosi pelaku, yang akhirnya meledak menjadi tindakan kekerasan,” jelasnya.
Kasus ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan emosional dan pengelolaan stres dalam keluarga. Akumulasi emosi yang tidak terarah berdampak langsung pada perilaku pelaku, yang seharusnya menjadi pelindung dan pengasuh. Kapolres mengingatkan bahwa setiap bentuk kekerasan terhadap anak harus dianggap serius dan ditangani dengan profesionalisme.
“Kekerasan pada anak bukan hanya perbuatan fisik, tetapi juga berdampak psikologis yang mendalam. Dengan adanya Satgas Trauma Healing, kita berupaya untuk memulihkan kondisi korban secara bertahap,” tambah Kapolres.
Penggunaan tali ayunan sebagai alat pengikat menunjukkan keseriusan tindakan pelaku. Sementara itu, kondisi ibu korban yang dipukul dan diikat semalaman menjadi indikasi bahwa kekerasan tidak hanya terjadi pada anak, tetapi juga merambat ke seluruh anggota keluarga. Pengakuan dari pelaku sendiri menegaskan bahwa emosi memegang peran dominan dalam memicu kejadian ini.
Kasat Reskrim menambahkan bahwa pelaku mengalami kelelahan dan kebosanan setelah bekerja seharian. Hal ini membuatnya lebih rentan terhadap stres dan kemarahan. “Saat pelaku pulang, ia merasa tidak didukung oleh keluarga. Istri juga tampak tidak sabar, sehingga memperparah situasi,” tuturnya.
Dalam perjalanan waktu, kejadian ini membentuk rangkaian emosi yang memuncak. Anak yang rewel, diikuti dengan sikap ibu yang cemberut, menjadi pemicu utama kekerasan. “Tidak ada bentuk pengertian antar anggota keluarga, sehingga kejadian ini bisa terjadi,” imbuh Ghulam.
Kapolres menekankan perlunya pendekatan holistik dalam menangani kasus kekerasan. Selain perawatan medis, korban juga memerlukan dukungan psikologis untuk mengatasi trauma. “Kita tidak hanya mengatasi luka fisik, tetapi juga mengembalikan kepercayaan anak terhadap lingkungan rumahnya,” ujarnya.
Dalam upaya mencegah kejadian serupa, Polres Langkat mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap tanda-tanda kekerasan di lingkungan sekitar. Kesadaran akan pentingnya komunikasi dan pengelolaan emosi dalam keluarga dianggap sebagai langkah penting.
Kasus ini juga menjadi peringatan bagi orang tua yang mungkin mengalami tekanan emosional. Ghulam menyarankan bahwa orang tua perlu mengatur emosi dengan baik dan tidak langsung membalasnya dengan kekerasan. “Kekerasan bisa terjadi di mana saja, selama ada faktor pemicu yang tidak terkontrol,” jelasnya.
Sebagai bagian dari upaya pencegahan, Polres Langkat terus memantau kondisi korban dan melakukan koordinasi dengan pihak berwenang. Selain itu, kepolisian juga berencana untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang tindakan kekerasan dan cara mengatasinya.
Kasus kekerasan ini menjadi sorotan karena menunjukkan betapa mudahnya kejadian serius bisa terjadi dari situasi sepele. Kondisi rumah yang kritis, ditambah emosi yang memuncak, menjadi akar masalah dalam kejadian ini.
