Tarif Komplotan Joki UTBK di Surabaya: Rp 500 Juta hingga Rp 700 Juta
Tarif Komplotan Joki UTBK di Surabaya: Rp 500 Juta hingga Rp 700 Juta
Pembongkaran Jaringan Penjoki UTBK
Tarif Komplotan Joki UTBK di Surabaya – Dalam kasus penyelundupan joki UTBK yang menyeret sejumlah orang di Surabaya, tersangka utama, saudara K, menerima tender tersebut dengan biaya yang bervariasi, berkisar antara Rp 500 juta hingga Rp 700 juta. Pengungkapan ini dilakukan oleh Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan, yang menyebutkan bahwa jumlah uang tersebut ditentukan berdasarkan jumlah peserta yang dibantu serta kebutuhan logistik selama penyelundupan berlangsung.
“Tersangka utama saudara K menerima tender ini dengan biaya ataupun harga yang ditetapkan itu bervariasi antara Rp 500 juta sampai Rp 700 juta,” ungkap Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan dilansir detikjatim, Kamis (7/5/2026).
Komplotan ini terdiri dari 14 orang yang memiliki peran berbeda dalam operasi joki. Saudara K bekerja sebagai pengusaha laundry, sementara anggota lainnya berasal dari berbagai latar belakang, seperti mahasiswa, karyawan swasta, dokter, dan pelajar. Beberapa dari mereka terlibat dalam proses pengaturan ujian, sementara yang lain bertugas sebagai penyalur dana ke jaringan internal.
Penyebaran Dana ke Jaringan Internal
Setelah dana terkumpul, uang tersebut dibagi ke dalam struktur jaringan yang kompleks. Proses distribusi dilakukan secara bertahap, dari tingkat tertinggi ke pelaku langsung yang mengerjakan ujian. Kapolrestabes mengatakan bahwa pembagian dilakukan sesuai dengan kebutuhan masing-masing anggota, termasuk kepada joki atau mahasiswa yang bertugas.
“Jumlah ini dibagi-bagi pada setiap pelaksanaan di jaringannya sampai nanti ke joki yang melaksanakan ujian siapa yang main hari itu,” katanya.
Menurut informasi yang diperoleh, setiap anggota dalam jaringan menerima bagian sesuai dengan kontribusi dan tanggung jawabnya. Sebagian besar dari mereka mungkin hanya bertugas sebagai pengatur atau penghubung, sementara joki yang sebenarnya mengerjakan ujian mendapatkan bagian terbesar dari total dana. Kombes Luthfie menjelaskan bahwa sistem ini berjalan efisien, dengan setiap langkah dilakukan secara terencana agar tidak terdeteksi oleh pihak penyelidik.
Perbedaan Pembayaran Berdasarkan Kampus Target
Beberapa dari joki menerima bayaran yang beragam, tergantung pada kampus yang dituju oleh klien. Secara umum, biaya untuk joki berkisar antara Rp 20 juta hingga Rp 30 juta per ujian. Namun, jika klien memilih kampus favorit yang memiliki kompetisi lebih ketat, tarif bisa mencapai hingga Rp 75 juta. Angka ini mencerminkan tingkat kesulitan ujian dan kebutuhan tambahan yang mungkin diperlukan untuk memperoleh hasil optimal.
Kombes Luthfie menambahkan bahwa peningkatan tarif ini terjadi karena kebutuhan untuk memperoleh joki dengan kemampuan lebih tinggi atau pengalaman tertentu. Misalnya, ujian untuk kampus unggulan seperti Universitas Gadjah Mada atau Institut Teknologi Bandung membutuhkan joki yang lebih terlatih, sehingga harga per ujian menjadi lebih mahal. Proses pembayaran dilakukan secara langsung ke joki, dengan uang yang diberikan dalam bentuk tunai atau melalui rekening tertentu.
Komposisi Anggota dan Peran Masing-Masing
Daftar tersangka mencakup 14 individu dengan latar belakang berbeda. Saudara K, sebagai pemimpin, terlibat dalam mengatur seluruh operasi. Dari sisa anggota, beberapa berperan sebagai pengurus atau penghubung, sementara lainnya menjalankan tugas spesifik, seperti membantu klien dalam pembuatan jadwal ujian, memastikan kehadiran joki, atau mengelola dokumen palsu.
Beberapa nama yang disebutkan dalam penyelidikan ini meliputi NRP (21), seorang mahasiswa yang bertugas mengumpulkan data peserta. PIF (21) juga sebagai mahasiswa, tetapi fokusnya pada pemasaran joki ke calon peserta. IKP (41), seorang karyawan swasta, berperan dalam memproses informasi dan mengirimkan hasil ujian ke klien. FP (35), karyawan swasta lainnya, mungkin berurusan dengan logistik seperti pembuatan soal atau pembagian bahan bantu.
Dalam kategori profesional, BPH (29) dan DP (46) yang merupakan dokter serta MI (31), dokter lainnya, juga terlibat dalam penyiapan strategi atau memastikan keakuratan jawaban. Sementara RZ (46), seorang pedagang, mungkin bertugas sebagai pengumpul dana atau penghubung antara anggota yang berbeda. HRE (18), pelajar, kemungkinan besar berperan sebagai penyalur informasi atau ajudan untuk joki. BH (55), wiraswasta, serta SP (43) dan SA (40), karyawan swasta, menjadi bagian dari tim pendukung.
ITR (38) dan CDR (35), keduanya karyawan ASN P3K, diberitakan sebagai bagian dari jaringan yang mengatur koordinasi antar anggota. Mereka mungkin bertugas sebagai penyimpan data atau menjaga komunikasi internal untuk menjaga ketertiban dalam operasi. Dengan 14 anggota yang terlibat, komplotan ini terbukti memiliki struktur yang terorganisir, dengan tugas dan fungsi yang jelas untuk meminimalkan risiko terbongkar.
Impact dan Penyebab Tingginya Tarif
Pembayaran tinggi ini tidak hanya mencerminkan permintaan yang tinggi, tetapi juga menunjukkan intensitas persaingan antar kampus. Joki di
