Modus Penadah HP Curian di Bekasi: Pakai Aluminum Foil buat Tangkal Sinyal

Modus Penadah HP Curian di Bekasi: Gunakan Aluminum Foil Untuk Menangkal Sinyal

Modus Penadah HP Curian di Bekasi – Kanit Reskrim Polsek Kebayoran Baru, Andre JR Simamora, menjelaskan bahwa para pelaku penadah mendapatkan ponsel yang dicuri melalui berbagai cara. Pada umumnya, mereka membeli perangkat tersebut dari korban via media sosial, baik melalui marketplace online maupun sistem COD. Namun, dalam beberapa kasus, mereka juga terkadang menghubungi korban secara langsung dengan berpura-pura sebagai staf perusahaan, terutama jika kesulitan mengakses ponsel.

Kadang membeli dari korban dengan mengaku sebagai staf perusahaan, terutama jika kesulitan membuka ponsel. Jika bisa dibuka, handphone -nya nanti akan dijual secara utuh. Nah, apabila tidak bisa dibuka password -nya atau iCloud-nya, mereka mengontak korban dengan berpura-pura mereka seolah-olah dari pihak Apple ataupun dari pihak yang terkait dengan handphone tersebut, mungkin kalau Android dari Samsung dan lain sebagainya,” kata Andre di Mapolsek Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (8/4/2026).

Pelaku kejahatan ini berusaha agar korban menyerahkan data seperti alamat e-mail, username iCloud, serta password. Setelah mendapatkan informasi tersebut, mereka melakukan bypass atau memecahkan penguncian iCloud agar bisa menjual kembali ponsel tersebut. Proses ini memungkinkan mereka untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar dibandingkan membeli dari penjual yang tidak terkait.

Strategi Menggunakan Foil Untuk Mengacak Sinyal

Setelah berhasil menguasai ponsel, pelaku memulai langkah untuk mengaburkan jejak pemilik. Mereka membungkus perangkat tersebut menggunakan foil aluminium. Menurut Andre, tujuan dari tindakan ini adalah mengacak sinyal pelacak yang mungkin dilakukan korban untuk mengembalikan barang.

“Gunanya adalah untuk mengaburkan sinyal ataupun pelacakan yang mungkin akan dilakukan oleh korban untuk mencari kembali handphone tersebut,” jelasnya.

Foil aluminium berfungsi sebagai penghalang gelombang sinyal. Dengan cara ini, ponsel curian sulit dideteksi oleh perangkat GPS atau layanan tracking lainnya. Pelaku menutupi perangkat secara rapat menggunakan bahan konduktif tersebut, sehingga korban kesulitan mengidentifikasi lokasi asli ponsel mereka. Teknik ini sering digunakan untuk menipu korban yang masih berusaha menemukan barang yang hilang.

Pembelian dan Penjualan Ponsel Curian

Para penadah biasanya membeli ponsel dari pelaku pencurian dengan harga yang jauh lebih rendah dibandingkan nilai pasar. Berdasarkan informasi yang diberikan Andre, harga perangkat yang dibeli mencapai rentang Rp 800 ribu hingga Rp 1,3 juta. Setelah memperoleh ponsel, mereka menyimpannya sementara sebelum memasarkan kembali ke pasar.

“Jadi seumpama mereka membeli handphone batangan ini ya nanti dari pelaku pencurian, mereka beli biasanya dengan range harga dari Rp 800 ribu sampai Rp 1,3 juta,” katanya.

Untuk memaksimalkan keuntungan, penadah menjual ponsel secara utuh kepada pembeli yang tidak mengetahui bahwa perangkat tersebut sudah dicuri. Jika ponsel dalam kondisi baik dan tanpa penguncian, mereka bisa mendapatkan margin keuntungan hingga Rp 1 atau Rp 2 juta. Namun, jika masih terdapat masalah seperti password atau iCloud yang tidak bisa diakses, mereka memperbaikinya terlebih dahulu sebelum memasarkan.

Dalam kasus ini, polisi telah mengamankan 225 ponsel curian dari tiga tersangka yang ditetapkan sebagai pelaku. Mereka ditemukan melakukan aktivitas penadahan secara terorganisir, dengan rencana jangka panjang untuk mengelabui korban. Penyidik menemukan bahwa bahan foil aluminium digunakan secara rutin dalam proses penjualan, terutama untuk menutupi jejak pemilik sebelum memasukkan ponsel ke pasar.

Menurut Andre, alasan utama penggunaan foil aluminium adalah untuk mengurangi kemungkinan terdeteksi oleh layanan pelacakan. Bahan ini memblokir gelombang sinyal Wi-Fi, Bluetooth, dan GPS, sehingga mempercepat proses penjualan. Para pelaku juga mengatakan bahwa mereka berhati-hati saat mengemas ponsel karena tindakan ini bisa mencegah korban menemukan barang mereka meski sudah terlewat waktu.

Penangkapan Tersangka dan Penyelidikan Selanjutnya

Dalam penyelidikan yang berlangsung, polisi berhasil menetapkan tiga orang sebagai tersangka. Mereka adalah MR alias A, MAA alias A, dan J. Ketiganya ditahan setelah terbukti terlibat dalam skema penadahan ponsel curian. Kebanyakan dari para pelaku ini bekerja secara terpisah, tetapi saling berkoordinasi untuk mempercepat penjualan dan mengurangi risiko tertangkap.

Andre menekankan bahwa modus ini tidak hanya terjadi di Bekasi, tetapi juga bisa berulang di wilayah lain jika tidak ada kebijakan pencegahan yang ketat. Polisi berharap dengan menangkap ketiga tersangka, masyarakat lebih waspada terhadap cara-cara menipu yang digunakan oleh penadah. Selain itu, mereka juga mendorong korban untuk langsung melaporkan kehilangan ponsel ke polisi, agar bisa mempercepat proses penyelidikan.

Proses investigasi ini berlangsung selama beberapa minggu, dengan pihak kepolisian mengumpulkan bukti-bukti dari pembelian dan penjualan ponsel curian. Para penadah juga ditemukan memiliki sistem komunikasi yang rahasia, sehingga sulit untuk terdeteksi secara langsung. Selama penyelidikan, polisi menemukan bahwa modus penadahan ini didukung oleh jaringan yang luas, termasuk oknum dari perusahaan-perusahaan teknologi yang tidak terlibat langsung.

Andre mengungkapkan bahwa langkah paling penting dalam mengatasi masalah ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat. Korban sering kali tidak menyadari bahwa ponsel mereka bisa diakses oleh orang lain, terutama jika tidak segera mengunci layar atau memblokir akses. Dengan adanya penggunaan foil aluminium, penadah memperbesar kemungkinan korban tidak menyadari bahwa ponsel mereka sudah terpicu oleh pihak ketiga.

Selain itu, polisi juga mengatakan bahwa modus ini bisa berubah sesuai dengan perkembangan teknologi. Mereka mengingatkan bahwa para penadah terus berinovasi untuk menipu korban dengan metode yang lebih modern. Untuk itu, kepolisian mengajak masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan ponsel, termasuk dalam melakukan transaksi online. Penggunaan teknologi seperti layanan pelacakan dan password yang kuat bisa menjadi langkah penting untuk mencegah ponsel hilang secara permanen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *