Internasional

Israel Targetkan Serangan ke Kepala Sayap Militer Hamas Baru

Israel Targetkan Serangan ke Kepala Sayap Militer Hamas Baru Israel Targetkan Serangan ke Kepala Sayap - Pemerintah Israel mengungkapkan bahwa serangan hari

Desk Internasional
Published 27/05/2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Israel Targetkan Serangan ke Kepala Sayap Militer Hamas Baru

Israel Targetkan Serangan ke Kepala Sayap – Pemerintah Israel mengungkapkan bahwa serangan hari Selasa di wilayah Gaza menargetkan Mohammed Odeh, komandan baru sayap militer Hamas yang tergabung dalam Brigade Ezzedine Al-Qassam. Tindakan ini dilakukan beberapa hari setelah mantan kepala sayap tersebut, Ezzedine Al-Haddad, gugur dalam serangan serupa yang sebelumnya dilancarkan oleh militer Israel. Serangan ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk menghancurkan struktur kepemimpinan Hamas.

Kampanye Serangan untuk Menyasar Pemimpin Hamas

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, secara bersama-sama mengeluarkan pernyataan bahwa serangan tersebut menargetkan Odeh, yang dianggap sebagai salah satu penulis naskah pembunuhan 7 Oktober. “Mohammed Odeh menjabat sebagai komandan intelijen Hamas selama pembantaian 7 Oktober dan diangkat sebagai pengganti Ezzedine Al-Haddad sekitar seminggu lalu,” tulis Netanyahu dan Gallant, menurut laporan AFP, Rabu (27/5/2026).

“Di bawah arahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant, Angkatan Bersenjata Israel (IDF) menargetkan Mohammed Odeh, komandan baru sayap militer Hamas dan arsitek kekerasan 7 Oktober,” demikian pernyataan yang dirilis oleh Netanyahu dan Gallant, dilansir AFP, Rabu (27/5/2026).

Sebelumnya, Odeh ditunjuk sebagai komandan Brigade Ezzedine Al-Qassam setelah pendahulunya, Ezzedine Al-Haddad, tewas dalam serangan di wilayah Gaza pada awal Mei. Serangan terhadap Odeh dianggap sebagai langkah strategis untuk menggoyahkan kekuatan Hamas dan memutus rantai komando yang berperan dalam serangan besar yang terjadi pada 7 Oktober. Menurut data resmi Israel, kejadian tersebut menewaskan 1.221 orang, yang menjadi titik awal dari kampanye serangan terhadap kepalan Hamas.

Korban Jiwa dan Tanggapan Internasional

Badan pertahanan sipil wilayah Gaza, yang berfungsi sebagai layanan darurat di bawah pemerintahan Hamas, melaporkan bahwa seorang wanita menjadi korban dalam serangan udara Israel di lingkungan Rimal, wilayah barat Kota Gaza. Dalam operasi yang sama, beberapa warga sipil di wilayah tersebut juga terluka. Jumlah korban selama serangan balasan Israel mencapai 72.803 orang, berdasarkan catatan kementerian kesehatan wilayah tersebut. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengakui keandalan angka ini sebagai bukti keparahan konflik yang terjadi.

Sejak serangan lintas batas Hamas, militer dan intelijen Israel melancarkan kampanye intensif untuk menargetkan pemimpin politik senior serta komandan militan organisasi tersebut. Selama perang yang dipicu oleh serangan 7 Oktober, pihak Israel mengklaim bertanggung jawab atas kematian sejumlah pemimpin Hamas, termasuk mantan kepala politik kelompok tersebut, Ismail Haniyeh. Selain itu, Odeh juga terlibat dalam aksi pembunuhan, penculikan, dan penyerangan terhadap warga sipil Israel serta tentara IDF, menurut pernyataan dari Netanyahu dan Gallant.

Peluncuran Operasi dan Korban Lainnya

Serangan Israel tidak hanya berfokus pada pemimpin Hamas, tetapi juga menargetkan agen-agen kelompok tersebut di wilayah Lebanon. Dalam upaya ini, komandan senior Hizbullah yang mendapat dukungan dari Iran, serta anggota Hizbullah yang bersekutu dengan Hamas, menjadi korban. Mantan kepala Hizbullah Hassan Nasrallah termasuk dalam daftar pemimpin yang dituntut oleh Israel. Yahya Sinwar, yang secara luas dianggap sebagai dalang utama serangan 7 Oktober, juga gugur dalam serangan yang dilancarkan oleh militer Israel.

Kampanye serangan ini berlangsung selama lebih dari dua bulan, menghasilkan serangkaian kejadian yang memperparah ketegangan antara Israel dan Palestina. Selain itu, perang ini juga melibatkan tindakan teror terhadap warga sipil di wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Hamas. Dalam pernyataannya, Netanyahu menyatakan komitmen untuk menghancurkan “dalang-dalang” di balik serangan tersebut, termasuk Odeh yang dianggap sebagai salah satu dari mereka.

Strategi dan Penargetan Komandan Hamas

Sebagai respons atas serangan 7 Oktober, Israel berupaya mengungkap struktur kepemimpinan Hamas melalui operasi langsung terhadap komandan utama. Salah satu tindakan penting dalam kampanye ini adalah pembunuhan Mohammed Deif, komandan sayap bersenjata Hamas yang sudah menjabat selama bertahun-tahun. Deif dianggap sebagai penulis naskah kekerasan yang menyebabkan kematian ratusan warga Israel pada 7 Oktober.

Penargetan Odeh menunjukkan bahwa Israel menganggapnya sebagai ancaman utama dalam perang melawan Hamas. Dengan mengganti kepala sayap tersebut, Israel berharap memecah koordinasi antara gerakan politik dan militer Hamas. Namun, pihak Palestina menganggap tindakan ini sebagai upaya untuk menaikkan tekanan dan meraih keuntungan strategis di wilayah Gaza.

Dalam pernyataannya, Netanyahu menekankan bahwa serangan hari Selasa merupakan bagian dari rencana untuk “melenyapkan” penyebab konflik. Serangan tersebut juga mencakup upaya untuk merusak infrastruktur penting, termasuk pusat komando dan fasilitas penyimpanan senjata. Dengan meningkatkan jumlah korban, Israel berharap memicu krisis keamanan yang memperkuat dominasi militer di wilayah Palestina.

Keberhasilan operasi menargetkan Odeh dan pemimpin-pemimpin Hamas lainnya menunjukkan efektivitas kampanye Israel dalam memburu kekuatan yang dianggap sebagai ancaman utama. Meski begitu, kelompok-kelompok seperti Hizbullah dan Hamas tetap berusaha memperkuat posisi mereka melalui aksi-aksi teror yang menargetkan warga sipil di wilayah-wilayah yang terkena dampak langsung.

Dengan terus meningkatkan operasi udara dan darat, Israel berusaha menciptakan tekanan besar terhadap Hamas. Namun, tanggapan dari masyarakat internasional terhadap korban jiwa yang besar di wilayah Gaza masih menjadi isu utama. Meski demikian, pemerintah Israel tetap berpegang pada strategi penargetan pemimpin sebagai cara untuk memecah kekacauan dan menegakkan kekuasaan di kawasan tersebut.

Lia Saputra

Lia Saputra adalah penulis yang aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat dan program donasi pendidikan. Ia sering terlibat langsung dalam penggalangan dana serta distribusi bantuan untuk komunitas kurang mampu. Tulisan Lia banyak berisi panduan praktis, cerita lapangan, serta inspirasi nyata yang mendorong pembaca untuk mulai berkontribusi dalam kegiatan sosial.

Leave a Comment