Historic Moment: Eks Pegawai Ungkap Pendiri Ponpes di Pati Sering Bawa Santriwati ke Kamar
Eks Pegawai Ungkap Pendiri Ponpes Di Pati Sering Bawa Santriwati ke Kamar
Historic Moment – Dalam kesempatan wawancara bersama pengacara terkenal, Hotman Paris Hutapea, seorang eks pegawai dari Ponpes di Pati mengungkapkan kejadian-kejadian yang mengejutkan terjadi selama ia bekerja di sana. Menurut K, yang bekerja di lembaga pendidikan tersebut selama delapan tahun, mulai dari 2008 hingga 2018, ia kerap melihat santriwati berubah-ubah menginap di kamar AS hingga pagi hari. Hal ini menurutnya sudah menjadi kebiasaan yang berulang, dengan santriwati bergantian hadir di tempat tersebut setiap malam.
Kisah Demontrasi di Tahun 2008
Kisah yang diungkap K mengingatkan kejadian demontrasi yang pernah terjadi pada tahun 2008. Saat itu, masyarakat sekitar melancarkan aksi protes terhadap AS, yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap para perempuan. “Jadi di depan itu pernah didemo masyarakat situ, katanya ada yang hamil sampai digugurkan,” kata K saat diwawancara di Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada hari Kamis (7/5/2026).
Menurut K, demo tersebut terjadi setelah dugaan tindakan AS terhadap santriwati menjadi perhatian publik. Meski masyarakat mengecamnya, AS tetap berusaha mempertahankan reputasinya. K menyebutkan bahwa AS mengungsi ke kontrakan selama sekitar empat tahun, namun perilaku tidak terpuji itu tetap berlangsung. “Di situ tiap malam sama cewek gonta-ganti,” ujarnya.
Dalam wawancara yang sama, Hotman Paris Hutapea menanyakan usia perempuan yang terlibat dalam kejadian tersebut. K menjelaskan bahwa mayoritas dari santriwati yang melibatkan diri dalam interaksi AS adalah remaja yang masih duduk di bangku SMA. “SMA, mas,” jawab K.
Interaksi Fisik yang Menyimpang
Lebih lanjut, K mengungkap bahwa AS kerap melakukan interaksi fisik yang mengejutkan. Meskipun tempat tersebut berada di dalam lingkungan ponpes, tindakan AS tetap dianggap tidak sopan. “Nah terus setiap salaman itu dicium pipi kanan kiri,” katanya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa AS bukan hanya melibatkan santriwati dalam hubungan yang dinilai tidak wajar, tetapi juga memperkuat kesan bahwa ia memiliki hubungan yang dekat dengan para santriwati.
K menyebutkan bahwa ia sempat mengira AS adalah ulama yang suci dan memiliki kedudukan yang tinggi di antara para santri. Bahkan, K pernah menganggap bahwa AS adalah pengasuh pondok yang sangat dekat dengan Tuhan. “Jadi selama saya dekat sama dia, itu di hati ini mengeluarkan Allah, Allah, Allah, seolah-olah itu dekat dengan Allah,” ungkapnya.
Meski demikian, K akhirnya menyadari bahwa AS sebenarnya adalah manusia yang berlaku tidak baik. “Kenapa bisa gitu? Setiap orang yang dekat dengan si iblis ini, itu merasa seolah-olah dia itu dekat dengan Allah,” ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa meski AS memiliki pengaruh besar di dalam pesantren, masih banyak orang yang mempercayai dan terus mendekatinya.
Sejarah dan Dampak Kejadian
Dalam konteks kejadian tersebut, K mengungkapkan bahwa AS berada di tengah-tengah lingkungan yang dianggap religius dan konservatif. Namun, kejadian-kejadian yang terjadi di kamar AS menunjukkan bahwa masyarakat tidak selalu menyadari perilaku yang tidak pantas itu. “Saya sendiri sempat kagum pada AS, karena ia memiliki pengaruh yang besar di antara santri,” kata K.
Bahkan, K mengatakan bahwa ia merasa AS adalah sosok yang penuh kebijaksanaan dan memimpin pondok dengan tata kelola yang terstruktur. Namun, ketika kejadian di kamar AS terus berulang, K mulai menyadari bahwa AS memiliki sisi yang tidak terlihat di balik wajahnya yang terlihat santun. “Setelah melihat itu, saya baru sadar AS itu manusia biasa yang melakukan tindakan tidak terpuji,” katanya.
K menambahkan bahwa ia merasa kejutan ketika melihat banyak santriwati yang masih mendekati AS meski tahu tentang dugaan pelecehan yang dilakukan. “Saya tidak memahami mengapa orang-orang masih percaya pada AS, meski ia melakukan hal-hal yang bisa dianggap tak layak,” ujarnya. Menurut K, masyarakat mungkin masih menganggap AS sebagai ulama yang memiliki kemampuan spiritual yang tinggi, sehingga kejadian-kejadian yang terjadi di kamar AS tidak dianggap sebagai masalah besar.
Dengan pengungkapan ini, K berharap masyarakat dapat lebih kritis terhadap para pendiri pesantren yang dianggap memiliki pengaruh besar. “Kita harus tahu bahwa meski seseorang memiliki wajah yang suci, ia bisa memiliki sisi yang tidak baik,” katanya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa K tidak hanya mengungkap fakta, tetapi juga memberikan pesan bahwa pengakuan terhadap seseorang tidak selalu mencerminkan kebenaran sepenuhnya.
Refleksi dan Pengaruh Kejadian
Dalam waktu yang sama, K menyebutkan bahwa kejadian di kamar AS mengubah pandangan hidupnya. Ia merasa bahwa kejadian tersebut adalah bukti bahwa tidak semua yang terlihat baik di luar adalah benar di dalam. “Setelah melihat itu, saya merasa bahwa AS adalah sosok yang tergolong berlaku tidak baik, meski ia tetap memiliki pengaruh yang besar,” ujarnya.
K juga menyatakan bahwa kejadian ini berdampak pada hubungan antara santriwati dan pendiri ponpes. Meskipun AS tetap dianggap sebagai ulama yang berpengaruh, K menilai bahwa banyak santriwati yang terjebak dalam iklim psikologis yang memperkuat hubungan antara AS dan mereka. “Dari kejadian itu, saya merasa bahwa ada iklim psikologis yang membuat para santriwati masih percaya pada AS,” katanya.
Dengan mengungkap fakta-fakta tersebut, K berharap masyarakat dapat lebih mengerti tentang kejadian yang terjadi di dalam pesantren. “Saya ingin orang-orang tahu bahwa kejadian di kamar AS bukan sekadar kejadian biasa, tetapi bisa menjadi indikasi adanya masalah yang lebih dalam,” ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa K tidak hanya ingin memperkenalkan kejadian, tetapi juga mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada terhadap tindakan yang tidak terpuji.
