Important Visit: ‘Menembus Langit’ Aljir dari Masjid Terbesar di Dataran Afrika

Menembus Langit Aljir: Masjid Terbesar di Dataran Afrika

Important Visit – Dalam rangka menghadiri acara 25th International Tourism and Travel Fair atau Salon International du Tourisme et des Voyages (SITEV) 2026, detikcom melakukan kunjungan langsung ke salah satu landmark megah di Aljir. Kehadiran media ini didampingi oleh undangan dari Kementerian Pariwisata dan Kriya Algeria, yang mengajak seluruh peserta kegiatan untuk merasakan keajaiban bangunan religius ini. Sebagai bagian dari pameran internasional, masjid yang terletak di dataran Afrika ini menjadi pusat perhatian karena statusnya sebagai salah satu bangunan tertinggi di dunia.

Kemegahan yang Mengundang Perhatian Dunia

Masjid Djamaa el-Djazair, yang terletak di Aljir, memegang rekor sebagai masjid terbesar ketiga di dunia, setelah Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Posisinya di dataran Afrika membuatnya menjadi simbol kebanggaan kota yang dikenal sebagai pusat budaya dan sejarah. Selama kunjungan, detikcom dan sejumlah jurnalis dari negara lain terkesan dengan detail arsitektural yang memadukan kesan tradisional dengan kekinian.

“Masjid ini menjadi salah satu titik paling bersejarah di Afrika, sekaligus menjadi komunitas wisata yang melibatkan elemen keagamaan dan ilmiah,” ujar pemandu yang menyertai pengunjung. Menurutnya, bangunan ini dirancang sebagai tempat ibadah yang memperkuat identitas Islam modern.

Kemegahan masjid ini bukan hanya terletak pada ukurannya yang luar biasa, tapi juga pada fungsinya yang lengkap. Dengan luas lahan 27,7 hektar dan luas bangunan mencapai 400.000 meter persegi, kompleks ini menjadi pusat aktivitas yang lebih dari sekadar tempat shalat. Area yang dikelola oleh pemerintah Algeria ini memiliki tiga pintu utama, serta ruang khusus untuk kegiatan budaya dan pendidikan.

Visi Pemerintah dan Warisan Budaya

Proyek pembangunan Djamaa el-Djazair merupakan hasil visi besar mantan Presiden Abdelaziz Bouteflika, yang dianggap sebagai simbol kejayaan arsitektur Islam modern. Proyek ini tidak hanya mencerminkan kemampuan teknis bangsa Algeria, tetapi juga menggambarkan kolaborasi internasional yang terlibat dalam konstruksi. Kementerian Pariwisata memastikan bahwa masjid ini menjadi ikon nasional yang mampu menginspirasi generasi mendatang.

“Di bagian selatan kompleks terdapat pintu utama, pusat kebudayaan, perpustakaan yang menyimpan satu juta buku, serta sekolah pascasarjana untuk berbagai disiplin ilmu,” kata pemandu. Ia menambahkan bahwa ruang-ruang di sekitar masjid dirancang agar bisa menampung kegiatan akademik dan sosial sekaligus.

Bagian yang paling mencolok dari masjid ini adalah menaranya yang mencapai ketinggian 265 meter, sehingga disebut sebagai ‘menembus langit’ Aljir. Dari puncak menara, pengunjung dapat menyaksikan pemandangan kota dari segala penjuru, termasuk keberadaan gedung-gedung penting dan taman hijau yang mengelilingi kompleks. Menara ini dibagi menjadi lima lantai, tiga dari mereka dijadikan museum, sementara dua lantai lainnya untuk pusat penelitian.

Konstruksi yang Menggunakan Teknologi Canggih

Penyelesaian proyek Djamaa el-Djazair memakan waktu hampir satu dekade, sejak dimulai pada tahun 2012 hingga selesai pada 2022. Biaya pembangunan mencapai lebih dari USD 1 miliar, yang dianggap sebagai investasi besar untuk membangun struktur yang mampu bertahan di tengah guncangan seismik hingga skala 9,0 Richter. Teknologi isolasi seismik diterapkan dengan memasukkan ratusan bantalan khusus yang menggabungkan material karet dan baja untuk menjaga kestabilan bangunan.

Desain arsitektural masjid ini merupakan kolaborasi antara arsitek Jerman dan kontraktor China. Gaya Neo-Andalusia yang dipakai menghadirkan kesan mewah dan megah, dengan kubah raksasa berdiameter 50 meter yang berkilau emas, menambah kesan unik dari bangunan ini. Sementara itu, konsep modern dalam tata letak ruangan memastikan fungsionalitas dan keindahan yang seimbang.

Siklus Sejarah yang Berubah

Sebelum menjadi masjid, tempat ini pernah dikenal sebagai pusat pergerakan misionaris Prancis pada masa kolonial. Kardinal Charles Lavigerie, tokoh penting dalam sejarah Algeria, mengubah lokasi ini menjadi tempat yang menggabungkan agama dan pendidikan. Kini, lahan yang sama kembali menjadi pusat kegiatan spiritual, tetapi dengan penekanan pada kegiatan ilmiah dan budaya.

Dalam ruang utama, masjid mampu menampung 120.000 jemaah untuk melakukan ibadah bersama. Perpustakaan yang menjadi bagian dari kompleks ini bisa menampung 1.000 pembaca sekaligus, memperlihatkan komitmen Algeria untuk mempromosikan pengetahuan dan pendidikan. Lingkungan sekitar juga diperhatikan secara rapi, dengan taman seluas 14 hektar yang ditanami pohon-pohon khas Mediterania. Area ini tidak hanya menyediakan tempat bersantai, tetapi juga menjadi tempat pertemuan masyarakat.

Sementara itu, kawasan sekitar masjid dihiasi dengan perumahan staf, gedung keamanan, dan kantor administrasi yang terintegrasi dengan desain keseluruhan. Dengan keberadaan fasilitas-fasilitas ini, Djamaa el-Djazair tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan yang mencakup hiburan, pendidikan, dan penelitian. Keberagaman fungsi memastikan bahwa masjid ini bisa dinikmati oleh berbagai kalangan.

Pemandangan dari Atas Menara

Pengunjung yang naik menara paling tinggi bisa menyaksikan panorama kota Aljir yang mengesankan. Pemandangan yang terbentang dari atas bangunan ini menggambarkan keindahan kota yang modern namun tetap mempertahankan kearifan lokal. Selain itu, masjid ini juga memiliki fungsi sebagai simbol keberhasilan proyek infrastruktur yang menggabungkan kekuatan teknologi dan estetika tradisional.

Sebagai bagian dari proyek SITEV 2026, Djamaa el-Djazair menjadi bukti bagaimana k

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *