Kontroversi Lagu “Lalaki Langit Lalanang Bejat”, Bupati Purwakarta Buka Suara dan Minta Maaf
Key Discussion – Kontroversi terkait lagu karya Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, yang berjudul “Lalaki Langit Lalanang Bejat” terus memicu perdebatan. Lagu berbahasa Sunda ini mengalami kritik dari berbagai pihak, termasuk aktivis perempuan, tokoh masyarakat, dan warganet. Beberapa orang menilai lirik dalam lagu tersebut mengandung narasi yang terkesan merendahkan perempuan serta memperkuat struktur patriarki yang sudah lama berlangsung. Polemik ini semakin memanas setelah video klip lagu tersebut beredar luas di media sosial, menarik perhatian publik dan memicu respons yang beragam.
Respons Bupati Purwakarta
Setelah menerima banyak kritik, Binzein memberikan pernyataan resmi untuk menjelaskan maksud karyanya. Ia menyatakan bahwa lagu tersebut bukan dimaksudkan sebagai sindiran atau penghinaan terhadap perempuan. “Saya mohon maaf jika ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun, saya tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu. Itu murni cerita tentang diri saya sendiri,” ujar Binzein dalam wawancara yang dilakukan Rabu, 1 Juli 2026.
“Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal. Saya bersyukur Tuhan menciptakan saya jadi lelaki. Mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan, terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa menjaga diri,”
Dalam penjelasannya, Binzein menjelaskan bahwa lirik lagu ini berasal dari sebuah puisi yang ia tulis sekitar empat tahun silam, pada 2020. Puisi tersebut, menurutnya, telah dibacakan dalam sebuah acara di depan Dedi Mulyadi, saat tokoh politik tersebut masih menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). “Rekaman pembacaan puisi itu masih bisa ditemukan sebagai bukti bahwa karya ini sudah ada sejak lama,” tambahnya.
Proses Adaptasi Puisi ke Lagu
Binzein memaparkan bahwa lagu “Lalaki Langit Lalanang Bejat” adalah adaptasi dari puisi yang ia ciptakan dalam masa kecil. Puisi tersebut menggambarkan perenungan atas masa mudanya yang diakui sebagai masa penuh kenakalan. “Saya merasa bersyukur dilahirkan sebagai laki-laki karena pada masa itu saya belum mampu menjaga diri dengan baik,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa lirik yang dipersoalkan merupakan bagian dari cerita pribadinya, bukan tujuan untuk mempermalukan perempuan. Menurut Binzein, meskipun ada kesan yang menyinggung gender, maksud utama dari karya ini adalah refleksi diri, bukan penilaian terhadap individu tertentu. “Lagu ini ingin menjadi pengingat untuk terus memperbaiki diri, bukan alat untuk merendahkan perempuan,” tuturnya.
Perbedaan Pandangan dan Konteks Pembuatan
Kritik terhadap lagu ini muncul karena liriknya dianggap memperkuat stereotip yang mengarah pada dominasi laki-laki. Namun, Binzein membantah anggapan tersebut dan menekankan pentingnya memahami konteks kehidupannya saat mengisi karya ini. Ia menjelaskan bahwa perjalanan hidupnya di masa muda melibatkan pengalaman yang membuatnya merasa bersyukur menjadi laki-laki, karena dianggap lebih mudah dalam menjaga diri dibandingkan jika ia dilahirkan sebagai perempuan.
Dalam proses kreatif, Binzein mengatakan bahwa puisi tersebut adalah ekspresi emosional atas masa kecilnya, bukan tujuan untuk mengkotak-kotakkan perempuan. “Saya ingin masyarakat melihat seluruh isi karya ini sebagai bentuk introspeksi pribadi,” ujarnya. Ia juga berharap para pendengar dapat memahami bahwa lirik-lirik dalam lagu ini adalah refleksi dari kehidupannya, bukan penilaian terhadap kelompok tertentu.
Menurut Binzein, lagu ini menggambarkan hubungan dinamis antara lelaki dan perempuan, dengan fokus pada pengalaman pribadinya. “Pesan utama dari lagu ini adalah cerita tentang diri sendiri, bukan kritik terhadap perempuan. Maka, saya mohon maaf jika ada pihak yang merasa dihina atau tersinggung,” katanya. Ia menambahkan bahwa dalam menyusun lirik, ia mempertimbangkan peran lelaki dan perempuan dalam kehidupan sosial, tetapi tidak berniat menyampaikan pandangan yang bersifat diskriminatif.
Konteks Sosial dan Penyebaran Lagu
Kontroversi ini menyoroti peran media sosial dalam menyebarluaskan kritik terhadap karya seni. Video klip lagu tersebut, yang berisi lirik yang menurut sebagian orang membawa narasi patriarki, menjadi viral dan menarik perhatian masyarakat. Binzein mengakui bahwa lirik-lirik dalam lagu bisa diinterpretasikan berbeda, tergantung pada perspektif pendengarnya.
Ia juga menyebut bahwa kritik yang muncul memicu refleksi lebih lanjut tentang arti karya seni dalam membangun kesadaran sosial. “Lagu ini muncul dari dalam diri saya sendiri, dan saya harap masyarakat bisa mengerti bahwa ini bukan sebuah penilaian terhadap perempuan, tetapi bentuk pengakuan atas masa kecil yang penuh tantangan,” jelas Binzein. Ia menambahkan bahwa proses kreatif ini juga melibatkan peran lelaki dalam kehidupan masyarakat, sebagaimana yang ia alami secara pribadi.
Binzein berharap, melalui penjelasan ini, masyarakat bisa memahami bahwa kritik terhadap lagunya bukanlah hal yang sepenuhnya negatif, tetapi menjadi kesempatan untuk menggali makna lebih dalam dari karya seni tersebut. “Saya yakin, dengan memahami konteksnya, banyak orang akan mengakui bahwa lagu ini berusaha menyampaikan pesan yang kompleks dan bermakna,” pungkasnya.
Kontroversi ini menunjukkan bagaimana karya seni bisa menjadi medium untuk memicu dialog tentang isu gender, sekaligus menyoroti pentingnya perbedaan perspektif dalam menilai karya kreatif. Meski terdapat perbedaan pendapat, Binzein tetap menyampaikan permintaan maaf untuk menghindari kesan yang mungkin dianggap merendahkan perempuan. Ia berharap masyarakat dapat menerima penjelasannya dan melihat karya ini sebagai bagian dari perjalanan pribadinya, bukan sebagai pernyataan yang universal terhadap gender perempuan.
