Strategi Penting: Kemenhut sebut Bromo prioritas jadi kawasan wisata berkelas dunia
Kemenhut sebut Bromo prioritas jadi kawasan wisata berkelas dunia
Probolinggo, Jawa Timur (ANTARA)
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko, menyatakan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menjadi fokus utama dalam upaya mewujudkan kawasan wisata yang terkenal secara global. Ia mengatakan ini saat menghadiri upacara peletakan batu pertama Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) di wilayah TNBTS, Senin.
“Pemerintah memiliki target menjadikan sejumlah taman nasional di Indonesia sebagai kawasan berkelas dunia dan Bromo Tengger Semeru menjadi salah satu prioritas utama,” ujarnya.
Satyawan menegaskan bahwa penataan JLKT merupakan bagian integral dari strategi pengelolaan taman nasional secara holistik. Ia menjelaskan bahwa pembangunan jalur lingkar ini tidak hanya bertujuan meningkatkan daya tarik wisata, tetapi juga memperkuat perlindungan lingkungan, flora fauna, sumber daya air, serta menggerakkan perekonomian masyarakat lokal.
Menurutnya, JLKT diharapkan menjadi alat penting dalam menyelaraskan antara konservasi dan kebutuhan ekonomi warga sekitar. “JLKT itu menjadi instrumen strategis untuk menyelaraskan berbagai kepentingan, mulai dari konservasi hingga ekonomi masyarakat,” lanjutnya.
Dalam kesempatan tersebut, Satyawan juga menekankan perlunya menjaga identitas budaya lokal sebagai bagian dari pengelolaan taman nasional. Ia menjelaskan bahwa penghormatan terhadap masyarakat, tradisi, dan kearifan lokal adalah prinsip utama dalam menjaga kawasan konservasi. “Saya berharap pembangunan JLKT menjadi langkah awal transformasi kawasan wisata Bromo menuju pengelolaan yang berkelanjutan. Jika alam terjaga, maka masyarakat akan sejahtera. Budaya tetap lestari dan kawasan ini bisa dinikmati generasi mendatang,” ujarnya.
Harapan Bupati Probolinggo
Bupati Probolinggo Mohammad Haris menuturkan bahwa pembangunan JLKT menjadi momen kritis untuk menjaga keberlanjutan kawasan Tengger. Menurutnya, jalur lingkar tersebut akan ditata sepanjang 13 kilometer, yang diperkirakan mampu menyeimbangkan antara pertumbuhan wisatawan dengan pelestarian alam dan budaya.
“Kami melihat itu sebagai titik awal untuk menjaga keberadaan Bromo. Jalur kaldera itu nantinya akan ditata sepanjang 13 kilometer sehingga mampu menjaga keseimbangan antara wisatawan yang terus meningkat dengan kelestarian alam dan budaya,” katanya.
Haris menambahkan bahwa kawasan Bromo tidak hanya memiliki nilai ekonomi dari sektor pariwisata, tetapi juga nilai spiritual dan budaya yang harus dipertahankan. “Pihak kami tidak bisa hanya mengejar euforia keindahan alam tanpa memperhatikan keberlanjutan lingkungan serta adat dan budaya masyarakat Tengger,” ujarnya.

