News

Latest Program: 19,7 Persen Anak Indonesia Obesitas, BPOM Luncurkan Program Sosialisasi Sadar Pangan Aman (SAPA)

Latest Program -

Desk News
Published Juni 30, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

19,7 Persen Anak Indonesia Obesitas, BPOM Luncurkan Program Sosialisasi Sadar Pangan Aman (SAPA)

BPOM Adakan Acara Hybrid di Jakarta untuk Tingkatkan Kesadaran Keamanan Pangan

Latest Program – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menggelar acara peringatan Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day/WFSD) 2026 secara hybrid di Gedung Bhinneka Tunggal Ika BPOM, Jakarta, pada Senin (29/6/2026). Acara ini diikuti oleh sekitar 1.150 peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Gebyar Sadar Pangan Aman (SAPA) Sekolah, yang bertujuan memperkuat budaya keamanan pangan di lingkungan pendidikan.

Peserta Beragam, Mulai dari Siswa hingga Pihak Terkait

Peserta yang hadir mencakup siswa dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA, serta perwakilan dari berbagai lembaga. Selain itu, turut serta para pejabat dari kementerian dan lembaga pemerintah, pemerintah daerah, unit kerja BPOM, kader keamanan pangan, organisasi sosial, profesi, keagamaan, dan sumber daya manusia kebudayaan. Acara ini dirancang untuk mencakup berbagai aspek, mulai dari edukasi hingga penerapan praktik yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pada kesempatan tersebut, BPOM menekankan pentingnya pendidikan pangan yang aman sebagai upaya mengatasi masalah obesitas di kalangan anak-anak. Diketahui, hingga saat ini sekitar 19,7 persen anak Indonesia mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Angka ini menjadi perhatian serius, terutama karena dampaknya terhadap kesehatan jangka panjang. Program SAPA Sekolah bertujuan memastikan bahwa anak-anak memperoleh pengetahuan tentang cara memilih, memasak, dan mengonsumsi makanan yang baik, sehat, dan aman.

Kepala BPOM: Sekolah Jadi Pilar Penting dalam Membentuk Pola Makan Sehat

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, dalam wawancara eksklusif mengungkapkan bahwa sekolah memegang peran strategis dalam membentuk kebiasaan konsumsi pangan yang sehat sejak usia dini. “Sekolah tidak hanya tempat belajar akademik, tetapi juga wadah untuk membangun kesadaran akan keamanan pangan,” katanya. Menurutnya, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mempersiapkan sumber daya manusia berkualitas yang siap menghadapi masa bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.

Kegiatan ini dirancang sebagai bentuk kolaborasi antara BPOM dengan berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan pemerintah daerah. Dalam acara ini, para peserta diberikan pemahaman tentang risiko makanan tidak aman, serta cara mencegahnya melalui pendekatan komprehensif. Taruna Ikrar menambahkan bahwa program ini juga mencakup pelatihan praktis bagi guru dan staf sekolah untuk memastikan pengelolaan makanan di lingkungan sekolah lebih terstandarisasi.

“Sekolah adalah tempat pertama yang menyentuh kehidupan anak-anak, oleh karena itu, edukasi di sini sangat kritis,” ujar Taruna Ikrar. Ia menekankan bahwa memperkuat budaya keamanan pangan di lingkungan pendidikan bisa berdampak signifikan pada pola konsumsi masyarakat secara umum.

Kolaborasi untuk Membentuk Kesadaran Masyarakat

BPOM bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk organisasi profesi, seperti Asosiasi Pangan Indonesia (API), serta lembaga keagamaan, untuk menciptakan program yang adaptif dan inklusif. Kegiatan ini juga mencakup diskusi panel yang membahas tantangan utama dalam pangan, seperti aksesibilitas makanan sehat dan dampak lingkungan terhadap kesehatan. Selain itu, acara ini menjadi wadah bagi para penyedia makanan untuk berbagi pengalaman dan inovasi dalam memproduksi pangan yang aman.

Menurut data yang diumumkan BPOM, 19,7 persen anak Indonesia tergolong obesitas. Angka ini terus meningkat seiring perubahan pola hidup, termasuk peningkatan konsumsi makanan cepat saji dan minuman manis. Dalam rangka menangani masalah ini, program SAPA Sekolah mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda, untuk memahami pentingnya pangan yang bergizi dan aman. Selain itu, kegiatan ini juga mencakup workshop interaktif yang mengajarkan cara memasak makanan sehat tanpa pengawet atau bahan tambahan berbahaya.

Kegiatan di Kampus, Sekolah, dan Komunitas

Acara ini diadakan di berbagai lokasi, termasuk kampus universitas, sekolah, dan komunitas lokal. Dalam kampus, peserta diberikan pelatihan tentang manajemen pangan, sedangkan di sekolah, fokusnya lebih pada pengenalan makanan sehat dan peningkatan keterlibatan siswa dalam mempraktikkan keamanan pangan. Di sisi lain, komunitas lokal menjadi tempat untuk memperkuat kerja sama antara BPOM dan masyarakat sekitar.

Taruna Ikrar menegaskan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada partisipasi aktif dari seluruh pihak. “Kami percaya, dengan kesadaran yang baik di tingkat sekolah, kita bisa menciptakan perubahan yang berkelanjutan di masyarakat,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa BPOM juga bekerja sama dengan organisasi profesi untuk menyusun sertifikasi dan standar keamanan pangan yang mudah dipahami oleh masyarakat umum.

Pola Konsumsi Anak: Kunci Masa Depan yang Sehat

Masalah obesitas pada anak-anak tidak hanya mengancam kesehatan fisik, tetapi juga mengganggu perkembangan mental dan sosial. Dengan memperkenalkan pola konsumsi yang seimbang, BPOM berharap mampu mengurangi risiko penyakit kronis seperti diabetes tipe 2 dan hipertensi pada usia dini. Selain itu, program ini juga bertujuan meningkatkan kemampuan anak-anak dalam memilih makanan yang sesuai dengan kebutuhan gizi mereka.

Pada sesi diskusi, para ahli menyoroti peran penting pendidikan dalam membentuk kebiasaan yang baik. “Anak-anak yang memiliki pengetahuan tentang pangan sehat akan lebih mampu membuat keputusan yang bijak,” kata seorang peserta dari API. Kegiatan ini juga mencakup pameran produk pangan yang aman dan bersertifikasi, sehingga masyarakat bisa memperoleh informasi langsung tentang keberagaman pilihan makanan sehat.

Masa Depan Indonesia Emas 2045

Program SAPA Sekolah tidak hanya fokus pada kesadaran keamanan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari visi Indonesia Emas 2045. Dalam masa bonus demografi, kualitas sumber daya manusia menjadi faktor kunci untuk

Leave a Comment