News

TPA Sarimukti Kritis – DPRD Bongkar Penyebab Darurat Sampah di Cimahi

Sarimukti Kritis, DPRD Bongkar Penyebab Darurat Sampah di Cimahi TPA Sarimukti Kritis - Kota Cimahi belakangan menjadi sorotan publik terkait masalah

Desk News
Published Juli 7, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

TPA Sarimukti Kritis, DPRD Bongkar Penyebab Darurat Sampah di Cimahi

TPA Sarimukti Kritis – Kota Cimahi belakangan menjadi sorotan publik terkait masalah penumpukan sampah yang terjadi di sejumlah wilayah. Keluhan warga mengenai keterlambatan pengangkutan sampah, yang akhirnya memicu kondisi darurat lingkungan, dibuka lebar oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Dalam upayanya mengejar akar masalah, Komisi III DPRD Kota Cimahi melakukan koordinasi intensif dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat. Hasil investigasi tersebut mengungkap bahwa krisis pengangkutan sampah tak hanya disebabkan oleh faktor teknis di lapangan, tetapi juga oleh penurunan kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti.

TPA Sarimukti, sebagai salah satu pusat pengelolaan sampah di Kota Cimahi, saat ini mengalami tekanan signifikan. Rika Lis Indarti, salah satu anggota Komisi III DPRD Cimahi, menjelaskan bahwa kapasitas tempat tersebut telah menurun hingga menyisakan satu zona aktif yang harus melayani seluruh kawasan Bandung Raya. “Keterlambatan pengangkutan sampah bukan hanya karena kendala teknis, tetapi karena penumpukan yang terjadi akibat kurangnya ruang di TPA,” ujar Rika dalam wawancara terkait masalah ini.

“Fakta itu terungkap setelah kami melakukan tinjauan langsung ke TPA Sarimukti dan berkoordinasi dengan DLH. TPA yang sebelumnya mampu menampung sampah dari berbagai wilayah kini hanya memiliki satu zona yang aktif, sehingga pengangkutan menjadi lebih padat dan rentan hambatan,” ujar Rika Lis Indarti, anggota Komisi III DPRD Kota Cimahi.

Persoalan ini menimbulkan dampak besar terhadap kehidupan warga. Penumpukan sampah di sekitar pemukiman, terutama di wilayah dengan daya tampung rendah, menyebabkan bau tidak sedap dan gangguan kesehatan. Rika menambahkan bahwa masyarakat memperhatikan masalah ini secara intens sejak beberapa bulan lalu, dengan keluhan yang terus meningkat terutama di kawasan yang lebih padat penduduk.

Koordinasi antara DPRD dan DLH mengungkap bahwa krisis TPA Sarimukti bukanlah kebetulan. Sejak beberapa tahun terakhir, kapasitas tempat tersebut telah berkurang karena lahan yang diperlukan untuk pengembangan zona baru tidak tersedia. “Kami menemukan bahwa TPA Sarimukti hanya mampu menampung 70 persen dari volume sampah yang seharusnya diangkut, sehingga sampah yang tidak terkelola dengan baik mulai menumpuk di jalan raya,” tutur Rika.

Krisis TPA dan Dampak pada Sistem Pengangkutan

Krisis TPA Sarimukti terjadi karena konsep pengelolaan sampah yang tidak diadaptasi dengan perkembangan jumlah sampah. Rika menjelaskan bahwa pengangkutan sampah dari daerah lain ke TPA tersebut justru menjadi faktor penambah beban, karena TPA hanya mampu mengangkut sampah dari satu zona aktif. “Sampah dari daerah lain, seperti Kabupaten Bandung atau Kota Bandung, terus masuk ke TPA Sarimukti, padahal kemampuan tempat tersebut sudah terbatas,” katanya.

Menurut Rika, sistem pengangkutan sampah yang tidak terkoordinasi juga menjadi penyebab utama masalah ini. Pemukiman yang berdekatan dengan TPA tak bisa mengelola sampah secara mandiri, sehingga bergantung pada pengangkutan dari unit lain. “Ketika satu zona aktif terisi penuh, pengangkutan sampah ke zona lain jadi terganggu, dan akibatnya sampah terus menumpuk di daerah yang tidak terlayani,” jelas Rika.

Solusi yang Dibutuhkan dan Tantangan Masa Depan

DPRD Kota Cimahi menyarankan beberapa solusi untuk mengatasi krisis TPA Sarimukti. Salah satunya adalah pengembangan zona baru di sekitar TPA agar kapasitasnya bisa ditingkatkan. Rika juga menekankan pentingnya pengelolaan sampah yang lebih efisien, termasuk memperkuat pengawasan terhadap pengangkutan sampah dari wilayah lain ke TPA tersebut.

Keluhan warga terkait penumpukan sampah di Cimahi juga menyoroti perlunya peningkatan kapasitas pengangkutan sampah. Rika menyatakan bahwa jika tidak segera diatasi, kondisi ini akan terus memburuk dan memengaruhi kualitas hidup masyarakat. “Kami menemukan bahwa 30 persen dari sampah yang diangkut ke TPA Sarimukti berasal dari luar Kota Cimahi, yang menyebabkan peningkatan beban pengangkutan secara signifikan,” imbuhnya.

Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi menegaskan bahwa mereka telah berupaya maksimal untuk mengelola sampah. Namun, keterbatasan lahan dan kurangnya anggaran tetap menjadi hambatan. “Kami sedang memprioritaskan peningkatan efisiensi pengangkutan sampah, tetapi peningkatan kapasitas TPA juga diperlukan agar masalah ini bisa teratasi,” kata salah satu pejabat DLH.

Persoalan TPA Sarimukti dan keterlambatan pengangkutan sampah di Cimahi menjadi bahan pembahasan dalam rapat yang diadakan DPRD beberapa waktu lalu. Diskusi tersebut menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah daerah dan pihak lain untuk menjamin pengelolaan sampah yang optimal. “Krisis ini adalah tanda bahwa sistem pengelolaan sampah kita perlu diperbaiki, terutama di wilayah yang memiliki daya tampung rendah,” tutur Rika.

Menurut data yang dihimpun, volume sampah di Kota Cimahi telah meningkat sekitar 20 persen dalam tiga tahun terakhir. Faktor pertumbuhan penduduk dan pengembangan industri di sekitar kawasan Bandung Raya menjadi penyebab utama. “Dengan pertumbuhan populasi yang cepat, kita perlu menambah kapasitas pengelolaan sampah, baik di TPA maupun di tahap pengumpulan dan pengangkutan,” jelas Rika.

Untuk mencegah keadaan darurat, DPRD Kota Cimahi menyarankan agar pembangunan TPA baru dimulai secepat mungkin. Rika menilai bahwa lahan yang tersedia di sekitar TPA Sarimukti bisa dimanfaatkan sebagai alternatif. “Jika kita bisa mempercepat pembangunan zona baru, masalah penumpukan sampah di wilayah-wilayah terdampak bisa diminimalkan,” katanya.

Krisis TPA Sarimukti juga memicu diskusi mengenai keberlanjutan pengelolaan sampah di Kota Cimahi. Rika menekankan bahwa perlu ada sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan, termasuk memaksimalkan pengurangan sampah melalui pengelolaan limbah rumah tangga yang lebih baik. “Masyarakat perlu diberikan edukasi tentang pengurangan sampah, karena peningkatan volume sampah bisa dikurangi jika kita lebih bijak dalam penggunaan sampah,” ujarnya.

DPRD Kota Cimahi juga berharap agar keterlambatan pengangkutan sampah bisa menjadi pelajaran untuk meningkatkan koordinasi antarinstansi. “Kami mengusulkan agar ada mekanisme pengawasan yang lebih ketat terhadap pengangkutan sampah, agar tidak terjadi penumpukan yang berlebihan,” kata Rika.

Dengan langkah-langkah yang diambil, Rika berharap keadaan darurat sampah di Cimahi bisa diatasi dalam waktu dekat. Namun, ia menegaskan bahwa solusi jangka panjang hanya bisa dicapai melalui peningkatan kapasitas TPA dan peningkatan pengelolaan sampah secara keseluruhan. “Krisis TPA Sarimukti

Leave a Comment