Solusi untuk: Dubes UEA tegaskan negaranya aman dan stabil di tengah eskalasi

Dubes UEA tegaskan negaranya aman dan stabil di tengah eskalasi

Jakarta, Rabu (8/4) – Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, Abdulla Salem Aldhaheri, menyatakan bahwa negara tempatnya masih mempertahankan kondisi keamanan dan stabilitas meski terjadi tekanan politik di wilayah Timur Tengah. Ia menekankan bahwa infrastruktur pertahanan UEA telah terbukti cukup tangguh, sehingga mampu menjaga keadaan perekonomian serta kehidupan warga asing dalam kondisi aman.

“Saya ingin menggarisbawahi bahwa UEA tetap stabil dan aman. Sistem pertahanan negara kami terbukti sangat efektif. Instansi pemerintahan berjalan normal, sementara lebih dari 200 warga negara asing berada dalam kondisi harmonis,” ujar Aldhaheri dalam sesi jumpa pers malam hari.

Dalam paparannya, Dubes Aldhaheri juga menyebut bahwa sektor ekonomi UEA berjalan baik, dengan modal bank yang cukup memadai dan tingkat likuiditas mencapai lebih dari 146,6 persen. “Selain itu, perbankan kami memiliki aset melebihi 5,4 triliun dirham, yang menunjukkan kesiapan keuangan dan daya tahan sistem finansial,” tambahnya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa dampak dari konflik di wilayah tersebut tidak hanya terbatas pada negara-negara Timur Tengah, tetapi juga merambat ke berbagai belahan dunia. Disebutkan bahwa sekitar 20 persen pasokan minyak global serta 20 persen perdagangan gas alam (LNG) melewati Selat Hormuz. Dari total ekspor, sekitar 80–90 persen arus barang menuju Asia.

Aldhaheri menambahkan bahwa gangguan di jalur strategis tersebut berdampak langsung pada pasar internasional, termasuk kenaikan harga energi, biaya pengiriman yang meningkat, dan gangguan dalam rantai pasok global. “Indonesia pun turut merasakan efeknya melalui kenaikan harga bahan bakar dan inflasi barang, sehingga permasalahan ini bukan hanya lokal, tapi juga global,” jelasnya.

Hadir dalam kegiatan

Dalam jumpa pers tersebut, hadir pula perwakilan dari Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) serta tokoh agama Indonesia, seperti Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *