Berita

Key Issue: Gereja Katolik di Mimika Terbakar, Api Diduga dari Lilin yang Lupa Dipadamkan

Gereja Katolik di Mimika Terbakar, Api Diduga dari Lilin yang Lupa Dipadamkan Key Issue - Kamis (28/5/2026), sebuah bangunan gereja Katolik di Kampung Pomako

Desk Berita
Published 28/05/2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Gereja Katolik di Mimika Terbakar, Api Diduga dari Lilin yang Lupa Dipadamkan

Key Issue – Kamis (28/5/2026), sebuah bangunan gereja Katolik di Kampung Pomako, Distrik Mimika Timur, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, mengalami kebakaran yang menghebohkan warga setempat. Api pertama kali muncul dari dalam gereja, memulai perlahan namun pasti sebelum akhirnya membesar dan merusak seluruh struktur bangunan. Menurut sumber di lapangan, kejadian ini terjadi pada siang hari, dengan asap tebal yang mengelilingi area sekitar sebelum nyala api mulai terlihat jelas.

Kapolsek Kawasan Pelabuhan Pomoko, Iptu Fits Gerald M Nalohy, memberikan keterangan bahwa berdasarkan laporan para saksi, api muncul dari bagian dalam gereja. “Api cepat menyebar karena bangunan terbuat dari bahan kayu, papan, dan anyaman bambu yang mudah terbakar,” ujarnya dalam siaran pers. Angin yang bertiup cukup kencang dari arah timur mempercepat proses penyebaran kobaran api, membuat area sekitar terancam dalam waktu singkat.

Keterangan para saksi menyebutkan bahwa api muncul dari dalam bangunan gereja, memulai dari atap dan dinding. Warga sekitar segera berteriak meminta bantuan, namun karena api sudah merambat cepat, kawasan terbakar hampir seluruhnya. “Api tidak bisa dikendalikan dengan cepat karena bahan-bahan konstruksi yang mudah terbakar,” tambah Fits dalam pernyataannya.

Kondisi lingkungan pada saat kejadian juga memengaruhi upaya pemadaman. Saat peristiwa terjadi, air laut di Kampung Pomako sedang surut, sehingga warga kesulitan mengakses air untuk memadamkan api. “Air laut yang surut membuat akses ke sumber air terbatas, sehingga warga harus mengandalkan alat pemadam lain,” jelas Fits. Meski demikian, sejumlah warga tetap berusaha mengendalikan kobaran api dengan alat seadanya sebelum mobil pemadam tiba di lokasi.

Berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan dan keterangan dari pengurus gereja, penyebab kebakaran diduga berasal dari lilin yang dinyalakan di depan altar untuk berdoa. “Kuat dugaan api berasal dari lilin yang lupa dipadamkan, terutama karena di area itu kondisi cukup lembap dan suhu rendah,” kata Fits. Menurut pengurus gereja, lilin tersebut dinyalakan sebelumnya untuk menghiasi doa hari Minggu, dan kemungkinan lupa dimatikan saat warga bergerak ke bagian lain gereja.

Empat unit mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi dalam waktu singkat setelah menerima laporan. Pemadam langsung bekerja untuk mengendalikan api sebelumnya yang sudah merambat ke sebagian besar bangunan. Namun, karena konstruksi gereja terbuat dari bahan mudah terbakar, upaya tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama. “Kami tiba tepat waktu, namun api sudah membesar dan terduga sangat cepat menyebar,” ungkap salah satu petugas pemadam.

Menurut keterangan terpisah, tidak ada korban jiwa atau luka-luka dalam peristiwa tersebut. Kerugian materi yang terjadi dianggap signifikan, dengan diperkirakan kerusakan mencapai ratusan juta rupiah. Biaya kerusakan meliputi struktur bangunan, meja altar, kursi ibadah, buku-buku lagu, serta perlengkapan liturgi yang merupakan bagian penting dari kegiatan keagamaan di sana. “Gereja ini menjadi pusat ibadah bagi masyarakat Kampung Pomako, sehingga kerusakan yang terjadi sangat berdampak luas,” kata seorang tokoh masyarakat setempat.

Kondisi Lokasi dan Tantangan Pemadaman

Menurut pengamat, kondisi alam di area tersebut turut memengaruhi laju api. Angin yang berhembus kencang dari timur menjadi faktor utama penyebaran kobaran api, karena arah angin mempercepat perambatan api ke bagian-bagian yang lebih luas. “Area ini cukup sempit, sehingga api bisa menyebar dengan cepat ke sekitar bangunan,” jelas Fits. Dalam upaya memadamkan api, warga juga kesulitan karena kondisi air laut yang surut, sehingga sumber air terbatas dan memaksa mereka menggunakan air dari sumur atau waduk dekat lokasi.

Kebakaran ini memicu kekhawatiran warga akan keberlanjutan aktivitas keagamaan di Kampung Pomako. Gereja Katolik Stasi Santo Fransiskus telah menjadi pusat ibadah selama bertahun-tahun, dan kini harus ditutup sementara hingga bangunan bisa diperbaiki. “Kita berharap ada bantuan dari pihak eksternal agar gereja bisa segera dibangun kembali,” harap salah satu warga setempat. Ia menambahkan bahwa warga masih berusaha menyelamatkan barang-barang yang bisa diselamatkan sebelum api merambat ke seluruh bangunan.

Proses Investigasi dan Penyebab Kebakaran

Fits menjelaskan bahwa pihak kepolisian melakukan investigasi menyeluruh untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran. “Kami mengecek lokasi, mewawancarai para saksi, serta mengumpulkan informasi dari pengurus gereja,” katanya. Dari hasil investigasi, mereka menemukan bahwa lilin yang dinyalakan di depan altar menjadi sumber api utama. “Lilin tersebut terlewat dipadamkan, sehingga api bisa melebar ke bagian lain bangunan,” terangnya.

Dalam penjelasannya, Fits menyebut bahwa kondisi lingkungan di saat kejadian juga berkontribusi pada kecepatan penyebaran api. “Cuaca lembap dan angin kencang membuat bahan-bahan mudah terbakar lebih rentan terhadap api,” katanya. Ia menekankan bahwa setelah pemeriksaan selesai, pihak kepolisian akan mengeluarkan laporan resmi mengenai penyebab kebakaran tersebut.

Menurut pengurus gereja, bahan-bahan konstruksi yang digunakan dalam pembangunan bangunan gereja juga menjadi faktor utama. “Bangunan ini terbuat dari kayu dan bambu, sehingga api bisa menyebar dengan cepat,” kata salah satu pengurus. Ia menambahkan bahwa pihak gereja akan melakukan evaluasi untuk mencegah kejadian serupa di masa depan, termasuk mengadakan pelatihan penggunaan lilin yang aman dan memastikan setiap warga memahami cara mengendalikan api.

Setelah api berhasil dipadamkan, area sekitar gereja diselimuti asap yang masih menghangat. Warga bersama petugas pemadam menyisihkan barang-barang yang tersisa, sementara para jemaat Katolik mengeluhkan kehilangan bagian besar perlengkapan ibadah. Meski tidak ada korban jiwa, kejadian ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih waspada dalam penggunaan api, terutama di lokasi yang mudah terbakar.

Lia Saputra

Lia Saputra adalah penulis yang aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat dan program donasi pendidikan. Ia sering terlibat langsung dalam penggalangan dana serta distribusi bantuan untuk komunitas kurang mampu. Tulisan Lia banyak berisi panduan praktis, cerita lapangan, serta inspirasi nyata yang mendorong pembaca untuk mulai berkontribusi dalam kegiatan sosial.

Leave a Comment