Cerita Ruskandar Dibantu BRI, Usaha Ikan Bioflok Topang Ekonomi di Masa Pensiun
Latest Program – Bersamaan dengan suara deras hujan yang mengguyur Desa Purwasari, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, deringan gelembung udara terus mengalir dari kolam budi daya ikan berbasis teknologi bioflok di halaman rumah Ruskandar. Alat aerator yang beroperasi nonstop memberikan oksigen ke ribuan ikan nila yang berada di dalam air, menciptakan dinamika alamiah yang menjadi ciri khas dari sistem budidaya ini.
Perjalanan dari Karyawan ke Peternak
Ruskandar, seorang pensiunan perusahaan BUMN, memilih memanfaatkan lahan di depan rumah sebagai tempat usaha budi daya ikan setelah puluhan tahun bekerja di lingkungan kantor. Dengan pensiun, ia ingin menciptakan penghasilan tambahan untuk keluarga. Awalnya, ia mengembangkan usaha secara tradisional pada 2019, tetapi hasil yang diperoleh tidak memenuhi ekspektasi.
Keterbatasan air di wilayahnya serta produksi ikan yang rendah menjadi hambatan utama. Dengan memperhatikan tantangan tersebut, ia mulai mencari solusi alternatif. Pada 2025, Ruskandar memutuskan beralih ke teknik bioflok, yang mengandalkan rekayasa lingkungan untuk meningkatkan kualitas air dan ketersediaan oksigen bagi ikan. Informasi tentang sistem ini ia dapatkan melalui internet serta rekomendasi dari teman-teman di Institut Pertanian Bogor (IPB).
Mengatasi Tantangan Awal
“Dengan sistem konvensional, satu meter kubik air hanya bisa menampung sekitar 25 ekor ikan. Tapi di sistem bioflok, satu kubik air bisa menyambut 150 hingga 200 ekor, asal parameter seperti oksigen, pH, dan konsentrasi amoniak serta nitrat sudah terpenuhi,” jelas Ruskandar saat ditemui detikcom, Kamis (14/5/2026).
Dalam perjalanan mengimplementasikan teknik ini, Ruskandar mengalami kesulitan memperoleh bibit ikan. Jarak tempuh dari pemasok yang jauh membuat proses pengambilan ikan tidak optimal, sehingga banyak yang mati sebelum sampai di kolam. “Pembelian awalnya 8.000 ekor, tapi hanya sekitar 1.250 yang bisa bertahan,” tambahnya.
Dari pengalaman tersebut, ia belajar menyesuaikan cara pengambilan bibit agar lebih aman dan efisien. Selain itu, Ruskandar juga menyesuaikan strategi pemanenan dan pemeliharaan untuk memastikan keberhasilan usaha. Proses pembesaran ikan di kolam bioflok memakan waktu sekitar empat bulan sebelum siap dipanen, dengan ukuran yang lebih besar dibandingkan metode konvensional.
Proses Produksi dan Pemasaran
Saat ini, Ruskandar mengelola delapan kolam budi daya. Enam di antaranya digunakan untuk membesarkan ikan, satu untuk pemijahan, dan satu untuk ikan siap dipanen. Setiap kolam memiliki luas sekitar 20 meter persegi dengan jumlah ikan mencapai 2.500 hingga 3.000 ekor. Dalam satu kali panen, hasil bisa mencapai enam kuintal per kolam, atau total lebih dari tiga ton dari seluruh area.
Pemasaran ikan masih dilakukan secara langsung dari rumah, tanpa melibatkan platform online. Pembelinya bervariasi, mulai dari pedagang kecil, pengelola rumah makan, hingga koperasi ikan di wilayah Bogor, Jakarta, dan Tangerang. Harga yang ditawarkan tergantung lokasi; biasanya konsumen dari Bogor membeli dengan tarif lebih rendah dibandingkan dengan pembeli dari Jakarta.
“Karena pembeli dari Jakarta hanya membawa uang, mereka tidak membawa gas oksigen, plastik, atau alat bantu lainnya. Itu semua harus disiapkan oleh saya,” tutur Ruskandar. Meski demikian, ia tetap percaya bahwa usaha ini dapat memberikan nilai tambah yang signifikan.
Dampak Positif pada Kehidupan Keluarga
Usaha budi daya ikan ini mulai stabil sejak awal 2026, berkat perbaikan teknik dan pengelolaan yang lebih terstruktur. Ruskandar menilai bahwa sistem bioflok tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga menghasilkan kualitas ikan yang lebih baik. “Konsumen memberi testimoni positif karena ikan dari kolam ini tidak memiliki aroma lumpur dan dagingnya lebih lezat serta tebal,” ujarnya.
Dalam satu kali panen, keuntungan yang diperoleh mencapai Rp 2 juta per kolam, atau sekitar Rp 12 juta dari seluruh kolam. Selain itu, usaha ini memberi kemungkinan untuk mempekerjakan satu orang karyawan secara sementara, seperti saat panen, pemeliharaan, atau penyortiran ikan. “Jadi, pekerjaan ini hanya diadakan ketika dibutuhkan, bukan setiap hari,” lanjut Ruskandar.
Usaha ini juga menjadi sumber penghasilan utama bagi keluarganya, memastikan kebutuhan sehari-hari terpenuhi meskipun ia tidak lagi bekerja di perusahaan. “Masa pensiun justru jadi momen untuk memulai sesuatu yang baru, dan ikan bioflok membantu membuat kehidupan lebih stabil secara ekonomi,” pungkasnya.
Tantangan dan Keberhasilan yang Diraih
Ruskandar mengakui bahwa peralihan ke metode bioflok tidak langsung mulus. Ia harus menginvestasikan waktu dan sumber daya untuk memahami prinsip-prinsip teknik tersebut, termasuk pengaturan kualitas air dan manajemen mikroorganisme. Proses adaptasi ini membutuhkan kesabaran dan eksperimen berulang, namun hasilnya memuaskan.
Berkat keberhasilan ini, Ruskandar bisa mempertahankan eksistensi usaha dan menjangkau pasar yang lebih luas. Ia pun mulai membangun jaringan distribusi yang lebih efektif, meski masih fokus pada pemasaran langsung. “Harapan saya adalah pasar bisa terus berkembang, sehingga usaha ini bisa terus berjalan,” harapnya.
Usaha ini tidak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga menginspirasi warga sekitar. Ruskandar berharap bisa membantu lebih banyak orang yang ingin beralih ke teknik modern dalam budi daya ikan, terutama di daerah pedesaan yang memiliki akses terbatas ke sumber daya teknologi. Dengan kombinasi pengalaman kerja di BUMN dan kreativitas di bidang pertanian, ia membuktikan bahwa usaha kecil bisa menciptakan dampak besar.
Kesimpulan
Ruskandar’s journey dari karyawan ke peternak ikan menunjukkan bagaimana inovasi bisa memperkuat kemandirian ekonomi di masa pensiun. Dengan memanfaatkan sistem bioflok, ia mampu meningkatkan produksi dan kualitas ikan, sekaligus menciptakan stabilitas keuangan untuk keluarga. Meski awalnya mengalami hambatan, ia berkomitmen untuk terus berkembang dan membagikan pengalaman ini kepada orang lain. “Ini bukan hanya usaha pribadi, tapi juga bagian dari komunitas yang ingin berkembang bersama,” pungkasnya.
Usaha Budi Daya Ikan yang Dikelola Ruskandar di Bogor
Foto: Kan
