Berita

Solving Problems: Bamsoet Tegaskan Idul Adha Jadi Momentum Perkuat Ketahanan Nasional

Bamsoet Tegaskan Idul Adha Jadi Momentum Perkuat Ketahanan Nasional Solving Problems - Ketua Umum Partai Golkar dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI

Desk Berita
Published 28/05/2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Bamsoet Tegaskan Idul Adha Jadi Momentum Perkuat Ketahanan Nasional

Solving Problems – Ketua Umum Partai Golkar dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Bambang Soesatyo, melakukan ritual kurban Idul Adha 1447 H di tiga kantor DPD Partai Golkar di Jawa Tengah, yakni Kebumen, Banjarnegara, dan Purbalingga. Dalam acara tersebut, ia memotong tiga ekor sapi sebagai bagian dari tradisi tahunan yang dianggap memiliki makna mendalam dalam memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian sosial.

Makna Idul Adha dalam Masa Ketidakpastian Global

Bamsoet menekankan bahwa Idul Adha bukan sekadar hari raya agama, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat ketahanan nasional. Di tengah tantangan ekonomi global, yang semakin membebani daya beli masyarakat, serta konflik geopolitik yang mengganggu stabilitas politik, ia mengajak seluruh bangsa mengambil pelajaran dari semangat pengorbanan dan kerja sama yang terkandung dalam hari raya tersebut.

“Idul Adha adalah momen penting untuk menjaga persatuan bangsa. Dalam situasi ekonomi yang sulit dan ketidakpastian global, nilai-nilai agama seperti pengorbanan dan berbagi harus menjadi fondasi kekuatan sosial,” ujar Bamsoet dalam pernyataan tertulis, Rabu (27/5/2026).

Menurutnya, saat ini ancaman terhadap bangsa Indonesia berubah bentuk. Jika dulu identik dengan agresi militer, kini tantangan datang dari faktor-faktor seperti pelemahan daya beli, peningkatan ketimpangan sosial, tekanan ekonomi rumah tangga, fragmentasi masyarakat, dan penurunan kepercayaan antar sesama warga. “Idul Adha mengingatkan kita bahwa kekuatan nasional tidak hanya bergantung pada sumber daya fisik, tetapi juga pada solidaritas manusia yang mampu menjaga keutuhan bangsa,” tambahnya.

Kurban sebagai Bentuk Solidaritas Sosial

Dalam konteks ketidakstabilan ekonomi dan krisis pangan yang menghantui banyak negara, Bamsoet menyatakan bahwa tradisi kurban tetap relevan. Dengan mengibarkan nilai-nilai agama, ritual ini menciptakan mekanisme distribusi yang sukarela, mengedepankan kepedulian moral, dan memperkuat ikatan sosial di tengah tantangan yang semakin kompleks.

“Kurban bukan hanya tentang membagi daging, tetapi juga tentang mengingatkan masyarakat bahwa kepedulian sosial adalah penopang utama ketahanan nasional. Dalam era krisis, kebersamaan dan kesadaran akan kebutuhan bersama harus diutamakan,” jelas Bamsoet.

Ia juga menyoroti peran kurban dalam mendukung ekonomi kerakyatan. “Kebiasaan berbagi ini tidak hanya memperkuat hubungan antar manusia, tetapi juga memberdayakan pelaku usaha lokal, peternak, dan para distributor,” lanjutnya. Selain itu, distribusi daging kurban menjadi salah satu cara mengakses protein hewani, terutama bagi keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Statistik Global: Kerawanan Pangan dan Tantangan Masa Depan

Menurut laporan terbaru Global Report on Food Crises 2026, jumlah orang yang mengalami kerawanan pangan akut di 47 negara mencapai 266 juta pada 2025, yang merupakan dua kali lipat dari jumlah satu dekade sebelumnya. Lebih dari 80% dari kasus ini terjadi di wilayah yang mengalami krisis berkepanjangan, dipicu oleh konflik, tekanan ekonomi, dan gangguan iklim.

“Dunia saat ini tidak kekurangan sumber daya, tetapi menghadapi ujian besar dalam menjaga solidaritas antar sesama. Jika kepedulian sosial melemah, stabilitas politik dan ekonomi akan ikut terganggu,” kata Bamsoet.

Ia menegaskan bahwa dalam kondisi ini, Idul Adha menjadi momentum untuk mengingatkan masyarakat tentang pentingnya kerja sama dan kepedulian. “Kurban mengajarkan kita bahwa pengorbanan bisa dilakukan dalam bentuk distribusi yang adil, penguatan ekonomi lokal, dan partisipasi aktif dalam membangun ketahanan nasional,” tambahnya.

Nilai Gotong Royong dan Kebudayaan Lokal

Bamsoet juga memaparkan bahwa Indonesia memiliki modal sosial yang relatif lebih kuat dibanding negara-negara lain, terutama berkat budaya gotong royong, zakat, sedekah, serta tradisi kurban yang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak dulu. “Nilai-nilai ini menyentuh aspek spiritual, sosial, dan ekonomi secara bersamaan, sehingga mampu menjadi pengingat bahwa keberlanjutan bangsa bergantung pada kegotongroyongan,” ujarnya.

“Dalam era modern, Idul Adha mengajarkan keberanian untuk menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Pengorbanan bisa diwujudkan melalui pengendalian konsumsi, dukungan ekonomi nasional, serta partisipasi aktif dalam memperkuat persatuan,” pungkas Bamsoet.

Dalam menjelaskan makna Idul Adha, ia menekankan bahwa tradisi ini tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga bagian dari strategi nasional dalam menghadapi krisis. “Nilai-nilai seperti kepedulian, solidaritas, dan kesadaran akan tanggung jawab sosial harus terus dipupuk, agar bangsa Indonesia tetap kuat dalam menghadapi tantangan yang semakin berat,” tambahnya.

Kehadiran Idul Adha, menurut Bamsoet, juga menjadi titik balik untuk membangun kesadaran kolektif. “Momentum ini mengingatkan kita bahwa keberhasilan suatu bangsa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kualitas hubungan sosial yang harmonis,” katanya. Ia berharap, semangat kurban yang dipraktikkan sejak dulu tetap dijaga, karena menjadi fondasi yang kuat dalam membangun kehidupan masyarakat yang tahan terhadap tekanan global.

Rizki Wijaya

Rizki Wijaya adalah content writer yang berpengalaman dalam riset keyword dan tren pencarian terkait donasi online di Indonesia. Ia menggabungkan data SEO dengan kebutuhan informasi pengguna dalam setiap tulisannya. Kontennya berfokus pada panduan donasi, perbandingan platform, serta jawaban atas pertanyaan yang sering dicari masyarakat di mesin pencari.

Leave a Comment