Berita

What Happened During: Ikut Bersihkan Jeroan Hewan Kurban, 2 Bocah Pemalang Tewas Tenggelam di Sungai

Ikut Bersihkan Jeroan Hewan Kurban, 2 Bocah Pemalang Tewas Tenggelam di Sungai Peristiwa Tragis di Sungai Comal, Pemalang What Happened During - Dilansir dari

Desk Berita
Published 28/05/2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Ikut Bersihkan Jeroan Hewan Kurban, 2 Bocah Pemalang Tewas Tenggelam di Sungai

Peristiwa Tragis di Sungai Comal, Pemalang

What Happened During – Dilansir dari detikJateng, Rabu (27/5/2026), sebuah kejadian yang mengejutkan terjadi di Sungai Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Dua bocah yang berusia 14 dan 12 tahun dari Desa Karanganyar, Kecamatan Bantarbolang, meninggal dunia akibat tenggelam di lokasi tersebut. Kedua anak itu turut serta dalam kegiatan membersihkan bagian dalam tubuh hewan qurban yang diadakan oleh panitia lokal.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari tradisi tahunan yang dilakukan masyarakat setempat sebagai bentuk ritual penyembelihan hewan kurban. Setelah proses penyembelihan selesai, jeroan dan bagian tubuh hewan yang telah dipotong biasanya dibawa ke sungai untuk dibersihkan. Proses ini sering kali menjadi momen yang penuh kegembiraan bagi anak-anak, terutama yang mengikuti langsung. Namun, dalam kejadian ini, kegembiraan berubah menjadi kepedihan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pemalang, Agus Ikmaludin, mengungkapkan bahwa kejadian berawal dari rombongan panitia penyembelihan yang berangkat ke sungai. Kedua korban, Lesmana Keket Budiman (14) dan Syafi Asyauqi Rien (12), datang ke lokasi dengan berboncengan menggunakan satu sepeda motor. Seorang saksi yang turut serta dalam rombongan melihat kejadian tersebut.

“Korban kemudian diduga tenggelam saat berenang di Sungai Comal,” kata Agus dalam laporan kejadian.

Pada pukul 09.30 WIB, kedua bocah itu memutuskan untuk bermain di air sungai dan menyeberang ke seberang. Meski lokasi yang dipilih cukup aman, kondisi aliran air yang tidak terduga mungkin menjadi penyebab kecelakaan. Menurut keterangan saksi, salah satu korban ditemukan sudah tidak bernyawa di tempat kejadian. Sementara Syafi Asyauqi Rien sempat diangkat oleh warga dan dilarikan ke Klinik Bantarbolang, namun nyawanya tidak bisa diselamatkan.

Kepala Pelaksana BPBD menambahkan bahwa kejadian tersebut mengingatkan pentingnya kewaspadaan dalam kegiatan outdoor, terutama di area yang tidak memiliki pagar atau penjaga. “Meski kegiatan ini rutin dilakukan, risiko tenggelam tetap bisa terjadi jika tidak diimbangi kesadaran akan kondisi lingkungan,” ujarnya.

Sungai Comal, yang terletak di dekat Desa Karanganyar, dikenal sebagai tempat strategis untuk membersihkan jeroan hewan kurban. Air sungai yang relatif jernih dan aliran perlahan biasanya memudahkan pekerjaan ini. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, terdapat laporan tentang bahaya yang mungkin terjadi di lokasi tersebut. Salah satu fakta yang perlu diperhatikan adalah bahwa kedua korban sebelumnya sudah mengikuti kegiatan serupa di tahun-tahun sebelumnya tanpa insiden serius.

Menurut saksi yang juga seorang warga setempat, kejadian terjadi secara mendadak. “Saya melihat mereka bermain air dan berenang, tapi tiba-tiba Lesmana dan Syafi terjun ke dalam sungai dengan posisi yang tidak stabil,” ujar saksi tersebut. Selain itu, saksi menyebutkan bahwa kondisi lingkungan saat itu cukup jernih, tetapi aliran air bisa berubah drastis setelah hujan turun. “Saya sudah memberi peringatan agar tidak terlalu jauh, tapi mereka tidak menghiraukan,” tambah saksi.

Peristiwa ini memicu kekhawatiran masyarakat setempat, terutama terkait keselamatan anak-anak saat melakukan kegiatan serupa. Sejumlah warga mengungkapkan bahwa mereka merasa terkejut karena kejadian terjadi secara cepat dan tanpa peringatan jelas. “Saya pikir mereka hanya bermain, tapi ternyata benar-benar terjadi kecelakaan,” kata salah satu warga yang tidak ingin disebutkan namanya.

Pemerintah daerah sedang melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab pasti dari kejadian tersebut. Dalam laporan yang dikeluarkan, BPBD menyebutkan bahwa lokasi kejadian tidak dilengkapi dengan alat pelindung atau titik penolong yang jelas. “Kami akan mengevaluasi prosedur kegiatan tersebut untuk menghindari kejadian serupa di masa depan,” jelas Agus Ikmaludin.

Keluarga korban mengecam kejadian yang menewaskan dua anak mereka. Mereka mengatakan bahwa lesmana dan Syafi merupakan anak-anak yang aktif dan penurut. “Mereka selalu antusias ikut bersihkan jeroan, tapi hari itu mungkin kelelahan atau terlalu percaya diri,” ujar ayah dari Lesmana, Budi. Ia juga menyampaikan bahwa keluarga sedang menunggu hasil investigasi untuk mengetahui apakah ada kesalahan dari panitia penyembelihan atau pengelolaan lokasi.

Dalam upaya mencegah kejadian serupa, pihak setempat berencana mengadakan pelatihan keselamatan air bagi anak-anak. “Kami ingin memastikan mereka memahami risiko dan cara menghadapi kondisi darurat di sungai,” kata seorang perwakilan dari Kecamatan Bantarbolang. Selain itu, juga akan dilakukan penambahan tanda peringatan di sekitar sungai sebagai langkah preventif.

Keluarga yang terdampak mengungkapkan rasa sedih dan kehilangan yang dalam. “Mereka adalah anak-anak yang baik, tetapi kejadian ini membuat kami merasa sedih dan takut,” kata ibu dari Syafi. Upacara penyembelihan hewan kurban yang seharusnya penuh makna kini terasa berubah menjadi kesedihan yang mendalam.

Dari sisi keamanan, kejadian ini menjadi bahan evaluasi untuk kegiatan serupa di tahun depan. Kepala Pelaksana BPBD menekankan bahwa kegiatan membersihkan jeroan hewan kurban harus diawasi lebih ketat, terutama ketika melibatkan anak-anak. “Kami akan memperketat pengawasan dan memastikan setiap langkah dilakukan secara aman,” ujarnya.

Sejumlah warga juga menyarankan agar kegiatan ini diadakan di tempat yang lebih aman. “Mungkin kita bisa menggunakan waduk atau aliran air yang lebih tenang,” kata seorang warga yang mengikuti acara tersebut sejak lama. Kritik ini muncul sebagai bentuk penyesuaian terhadap pengalaman buruk yang dialami oleh kedua korban.

Dengan terjadinya kejadian ini, masyarakat Pemalang kini lebih

Rizki Wijaya

Rizki Wijaya adalah content writer yang berpengalaman dalam riset keyword dan tren pencarian terkait donasi online di Indonesia. Ia menggabungkan data SEO dengan kebutuhan informasi pengguna dalam setiap tulisannya. Kontennya berfokus pada panduan donasi, perbandingan platform, serta jawaban atas pertanyaan yang sering dicari masyarakat di mesin pencari.

Leave a Comment