Strategi Penting: Rupiah melemah seiring pasar “wait and see” rilis data CPI AS
Rupiah Mengalami Penurunan di Tengah Sikap Pasar “Wait and See” Terhadap Data CPI AS
Jakarta, Jumat – Kurs rupiah mengalami penurunan 14 poin atau 0,08 persen pada hari Jumat, mencapai Rp17.104 per dolar AS dari level sebelumnya di Rp17.090 per dolar AS. Muhammad Amru Syifa dari Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) mengatakan bahwa pelemahan nilai tukar ini dipengaruhi sikap pasar yang bersifat menunggu dan mengamati sebelum pengumuman data inflasi Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat.
“Meskipun sempat menguat ke Rp17.083 pada awal sesi, tekanan eksternal tetap mendominasi, terutama karena penguatan dolar AS menjelang pengunguman data inflasi negara tersebut,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Berdasarkan proyeksi, data CPI AS akan meningkat, sehingga memperkuat antisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat dan meningkatkan daya tarik dolar AS, menurut Amru. Selain itu, ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah serta ancaman gangguan distribusi energi global juga mendorong permintaan terhadap aset aman, yang berkontribusi pada tekanan terhadap rupiah.
Dalam menghadapi tekanan global, intervensi Bank Indonesia (BI) dianggap sebagai penopang utama kestabilan kurs, seperti yang disampaikan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti, yang menegaskan bahwa penstabilan rupiah menjadi prioritas. Langkah-langkah ini meliputi intervensi di pasar spot dan NDF, serta kesiapan membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder.
Perry Warjiyo, Gubernur BI, menyatakan di hadapan DPR bahwa bank sentral secara konsisten menjaga stabilitas rupiah, termasuk melalui intervensi di pasar domestik NDF dan offshore, menurut Amru.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari Jumat juga mengalami penurunan, dari Rp17.082 menjadi Rp17.112 per dolar AS.
