Hasil Pertemuan: Khofifah ajak Muslimat NU terus rawat tradisi kegotongroyongan
Khofifah Ajak Anggota Muslimat NU Konsisten Pertahankan Budaya Gotong Royong
Di Yogyakarta, pada hari Minggu, Khofifah Indar Parawansa, Ketua Umum Dewan Pembina Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), menekankan pentingnya kader perempuan dalam organisasi tersebut terus menjaga nilai-nilai tradisional. Ia menjelaskan bahwa tema kegiatan perayaan hari lahir (Harlah) ke-80 Muslimat NU secara nasional terdiri dari tiga aspek utama: memperkuat tradisi, meningkatkan kemandirian, dan mendedahkan peradaban.
Pola Gotong Royong sebagai Bentuk Kebersantunan
Khofifah menyatakan bahwa tradisi kesantunan, kegotongroyongan, serta persaudaraan yang saling membangun adalah nilai-nilai penting yang harus dipertahankan. “Harapan kita adalah tradisi kesantunan, kegotongroyongan, serta persaudaraan itu terus kita rawat, dan tentu berarti kalau NU tradisi Ahlu Sunnah Wal Jamaah,” tuturnya setelah menghadiri Harlah Muslimat NU di Yogyakarta.
“Pola-pola seperti ini me-remind, me-recall bahwa ada tradisi kebaikan yang kita harus kuatkan dan rawat,” kata mantan Menteri Sosial tersebut.
Kemandirian sebagai Kekuatan Organisasi
Menurut Khofifah, kemandirian menjadi fokus dalam tema kedua. Bagi Muslimat NU, kemandirian organisasi kemasyarakatan perempuan Islam sosial-keagamaan adalah bagian dari upaya membangun kekuatan dalam masyarakat. “Alhamdulillah, kita sekarang memiliki anggota sekitar 36 juta, dan mereka survive, eksis dengan peningkatan layanan pendidikan kita di PAUD, TK, karena itu yang diizinkan NU, kemudian layanan kesehatan, layanan ekonomi, dan layanan dakwah,” ujarnya.
Penguatan Peradaban Melalui Diskusi
Dalam poin ketiga, Khofifah menyebutkan bahwa mendedahkan peradaban telah menjadi fokus diskusi selama dua tahun terakhir. Ia menekankan perluasan pengetahuan tentang bagaimana peradaban terbentuk di berbagai tingkatan, mulai dari rumah tangga hingga global. “Termasuk bagaimana kekerasan terhadap perempuan, terhadap anak, kekerasan terhadap masyarakat itu sesuatu yang harus kita bangun proses penetrasi bersama bagaimana seluruhnya menjadi teduh, sejuk, dan damai, pola-pola itu yang kita ingin lakukan,” katanya.
