Israel Bunuh Kepala Sayap Militer Hamas yang Baru di Gaza
Historic Moment – Kepala sayap bersenjata Hamas, Mohammed Odeh, dilaporkan tewas dalam serangan Israel di wilayah Gaza, menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh pemerintah Israel. Serangan tersebut terjadi pada Selasa lalu, dan dinyatakan sebagai bagian dari upaya Israel untuk menekan gerakan perlawanan Palestina. Pihak militer Israel bersama lembaga keamanan dalam negeri Shin Bet mengumumkan bahwa Odeh telah dibunuh, dengan menekankan bahwa ia menjadi pemimpin baru Brigade Ezzedine Al-Qassam setelah pembunuhan Ezzedine al-Haddad pada 15 Mei 2026.
Strategi Targetting Pemimpin Hamas
Serangan Israel terhadap pemimpin Hamas sejak Oktober 2023 dianggap sebagai bagian dari strategi yang sistematis. Selama periode tersebut, Israel terus melakukan operasi militer untuk menghilangkan para tokoh utama organisasi tersebut, baik di Gaza maupun di wilayah lain. Kebijakan ini dijelaskan sebagai upaya untuk memperkuat kontrol Israel atas wilayah yang sedang diperebutkan, sambil mengurangi kemampuan Hamas untuk melancarkan serangan balik.
Menurut laporan AFP pada Kamis (28/5/2026), perang Gaza yang dimulai tahun lalu telah menjadi panggung bagi berbagai upaya eliminasi terhadap para pemimpin Hamas. Odeh, yang terbunuh dalam serangan terbaru, menjadi keempat tokoh utama dari Brigade Ezzedine Al-Qassam yang dibantai oleh Israel. Pernyataan resmi dari militer Israel mengatakan bahwa Odeh meninggal sebagai akibat dari serangan yang diarahkan secara langsung, dengan menekankan bahwa ia diangkat sebagai pemimpin setelah pembunuhan sebelumnya oleh pasukan Israel.
Reaksi Sayap Bersenjata Hamas
Dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan oleh sayap militer Hamas, Odeh diakui sebagai kepala staf yang berperan penting dalam memimpin operasi gerilya. Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa ia meninggal dalam serangan Israel pada Selasa malam, dan menyoroti kemartiran dirinya serta keluarga sebagai akibat dari “operasi pembunuhan pengecut.” Pernyataan ini juga berisi kalimat kunci yang mengungkapkan kebanggaan dan keberanian Odeh sebagai bagian dari perlawanan Palestina, meskipun mengakui kehilangan besar yang dialami keluarga almarhum.
“Dengan penuh kebanggaan, kehormatan, martabat, dan keberanian, Brigade Ezzedine Al-Qassam mengumumkan kemartiran salah satu pemimpin terkemuka perlawanan Palestina,” demikian pernyataan yang diterbitkan. Pernyataan ini juga menambahkan bahwa Odeh, istrinya, dan anak-anaknya menjadi korban dari “operasi pembunuhan pengecut” yang dilakukan oleh pasukan Israel.
Menurut seorang pejabat Hamas, tiga dari anak Odeh terbunuh dalam serangan tersebut, termasuk dua orang dewasa dan satu anak perempuan yang belum mencapai usia 18 tahun. Fakta ini menegaskan dampak yang lebih luas dari serangan Israel, yang tidak hanya menargetkan individu tetapi juga keluarga mereka. Anak-anak yang gugur disebut sebagai bukti bahwa Israel terus memperluas kebijakan mereka dalam menghabiskan kehidupan para anggota gerakan perlawanan.
Kematian di Hari Raya Idul Adha
Kematian Odeh terjadi pada hari raya Idul Adha, yang berdampak besar terhadap perayaan umat Islam di wilayah Gaza. Pemakaman almarhum dan keluarganya diadakan pada hari Rabu di Kota Gaza, dihadiri oleh ratusan orang. Saat upacara berlangsung, salah satu anggota kerumunan menempatkan senapan AK-47 di atas jenazah Odeh, sebagai simbol penghargaan terhadap perannya dalam perjuangan Palestina.
Bassem Abu Odeh, sepupu dari almarhum, menyampaikan pernyataan emosional dalam acara pemakaman tersebut. Ia menyebutkan bahwa Odeh dan keluarganya “siap menyambut Idul Adha, tetapi sebaliknya Zionis kriminal menyambut dan menargetkan mereka dengan rudal.” Kalimat ini menggambarkan ketidakpuasan publik terhadap tindakan Israel yang dianggap mengganggu ritual keagamaan dan kesadaran nasional Palestina.
Konteks Perang Gaza dan Kepemimpinan Hamas
Perang Gaza yang dimulai Oktober 2023 telah menjadi momen penting dalam perjalanan politik dan militer Hamas. Selama masa perang, pihak Israel mengambil inisiatif untuk menargetkan para pemimpin utama, termasuk Odeh, sebagai bagian dari upaya memecah kohesi organisasi. Tindakan ini dilakukan meskipun gencatan senjata masih berlangsung, dengan alasan bahwa Hamas dianggap masih membangun kemampuan perlawanan.
Odeh dianggap sebagai tokoh yang memiliki peran strategis dalam memimpin sayap militer Hamas. Sebagai kepala Brigade Ezzedine Al-Qassam, ia diharapkan menjadi penggerak utama operasi militer yang menargetkan wilayah Israel dan penghuni wilayah penduduk. Peran ini membuatnya menjadi sasaran utama selama beberapa bulan terakhir, seiring intensifikasi serangan Israel di wilayah teritorial Hamas.
Perlawanan Palestina dan Respon Global
Kematian Odeh menciptakan gelombang kecaman di tingkat internasional, terutama dari organisasi-organisasi yang mendukung hak-hak Palestina. Banyak pihak menilai bahwa serangan tersebut mengancam keseimbangan perdamaian dan menunjukkan peningkatan kekerasan di tengah upaya mencapai gencatan senjata. Meski demikian, Hamas tetap menegaskan bahwa mereka akan terus berjuang melalui berbagai bentuk perlawanan, termasuk melalui kemartiran para pemimpin mereka.
Di sisi lain, Israel mengklaim bahwa pembunuhan Odeh adalah bagian dari operasi anti-teror yang bertujuan memutus rantai komando Hamas. Menurut informasi militer Israel, Odeh dikenal sebagai salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam mengkoordinasikan serangan dari sayap militer Hamas. Kehilangan ini dianggap sebagai keuntungan strategis dalam perang yang berlangsung, meskipun menimbulkan kecemburuan di kalangan warga Palestina.
Penyempurnaan Strategi dan Dampak Sosial
Pembunuhan Odeh terjadi dalam konteks kebijakan Israel yang semakin agresif dalam memadamkan gerakan perlawanan. Tindakan ini menunjukkan bahwa Israel terus memperkuat strategi militer mereka, terlepas dari upaya mencapai kesepakatan damai. Anggota keluarga Odeh, termas
